Jumat, 13 April 2012

AVALON HIGH:(Meg Cabot)


 BOOK VERSION VS MOVIE VERSION
Awas spoiler buat yang belum membaca dan menonton filmnya dan kepengen membaca novel and menonton filmnya.

Sekian lama saya absen membaca buku karya Meg Cabot, akhirnya saya tergoda membaca novel bersampul ungu tua ini. Alasanya tentu jelas buat anda yang selama ini sedikit bosan mendengar ocehan saya setiap saat tentang Merlin tv series wkwkwkwk. Keponakan saya yang menolak menonton serial yang dibintangi Colin Morgan itu bercerita bahwa novel yang dibacanya ada bumbu Arthur dan seorang knight-nya, Lancelot. Dengan berbinar-binar sayapun meminjam darinya. Tapiiiii…sebelumnya saya tau dari seorang teman bahwa Disney memproduksi novel tersebut menjadi drama remaja. Dan karena saya harus mengantri membaca novel itu, saya pun menonton filmnya terlebih dahulu dan baru kemudian menuntaskan novel setebal 307 halaman ini.


Well, siapapun setuju, novel dan film pasti akan berbeda satu sama lain. Dan perbedaan itu bisa menjadi lebih baik atau sebaliknya menjadi banyak lubang sana sini. Dan umumnya, novel akan jauh lebih bagus dari filmnya, dari segi penceritaan, imaginasi, dan tentu saja dalam Avalon High ini mana yang lebih mendekati legenda Arthurian. Baiklah, saya mulai saja pernak pernik yang ada di keduanya plus legenda Arthurian berdasar film serial Merlin ataupun sekilas sejarah Arthur menurut uncle Wiki.

1.       Ellie Harrison atau Allie Harrison versi filmnya
Entah ini memang tipikal karakter cewek utama dalam novel2 Meg Cabot karena saya hanya membaca Princess Diary dan Avalon High, tokoh utama selalu digambarkan sebagai seseorang yang kurang percaya diri dan hobi sekali mengulang kata2 yang penting dua hingga tiga kali. Misalnya ketika Will menyentuhnya. Menyentuhnya. Diulang plus tercetak miring menegaskan betapa dia merasa bahwa sentuhan ini serasa mimpi bagi Ellie. Sementara dalam filmnya, seorang Allie meski sama2 hobi lari, tapi tidak mengapung di kolam renangnya seperti Ellie, dia hanya terkadang terlihat sedikit speechless tiap kali Will memandangnya. Kelihatan sangat pede, tidak seperti Ellie.

2.       Awal jumpa Will dan Ellie/ Allie
Untung saya menonton filmnya terlebih dahulu, sehingga saya ngga perlu menunggu momen unik awal jumpa Ellie dan Will. Yang jelas, jurang yang dimaksud di novel dan film, berbeda jauh. Lebih ekstrem di novel tentu.

3.       Déjà vu
Dalam novel, Will-lah yang sering mendapat perasaan bahwa dia mengenal Ellie sebelumnya, pernah mengatakan apa yang pernah dia katakan. Sementara dalam film, Allie lebih sering mendapat ‘penampakan’ masa lalu secara flash.

4.       Pergeseran peran.
Dalam novel, Meg Cabot setia dengan alur, yaitu semuanya menempati perannya sesuai dengan legenda Arthurian. Misalnya saja Marco, adik tiri Will, yang ternyata saudara sekandung ayah dan ibu, adalah penjelmaan Mordred yang jahat. Sementara Mr. Morton, si guru Sejarah (?), menjalani perannya sebagai Merlin, ketua Orde Beruang yang menyiapkan lahir inkarnasi Arthur di jaman modern. Belum lagi senjata pedang, senjata andalan Arthur yang bernama Excalibur, berhasil menundukkan aura gelap Marco alias Mordred. Mmmmm… sejalan dengan legenda Arthurian. Sementara di film, semuanya jauh dari alur. Entah alasan apa Disney mengobrak abrik pakem yang ada. Jika hasilnya seperti Merlin, yang keluar alur, tapi bagus (menurut saya) sih, ngga masalah. Lha ini? Haddeehh…  Mr. Moore, si guru sejarah di plot menjadi Mordred, Marco menjadi salah satu knight Arthur, dan Allie ternyata adalah King Arthur itu sendiri. Lha trus, Will-nya jadi siapa dong? Mungkin seperti kata Aliie, he will be her knight and shining armor. Wkwkwkwk….
5.       Additional players and reducing players
Beberapa pemeran dihilangkan dalam versi filmnya, seperti Nancy, sahabat Ellie yang hanya muncul suaranya saja, Tig, kucing piaraan Ellie, Cavalier, anjing piaraan Will yang kebetulan mempunyai nama yang sama dengan anjing milik King Arthur, orangtua Will yang mempunyai alur yang sama seperti bagaimana cara Uther menikahi Igraine. Sementara dalam film, sosok tambahan ada pada Miles yang sering mendapat sighting seperti halnya Merlin dalam kisah Arthurian.
Well, overall, it’s  not bad lah dari segi novelnya. Saya beri bintang 3.5 deh. Sementara filmnya cukup 2,5 saja hehehe…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar