Jumat, 13 April 2012

The Boy Who Ate Stars (Kochka)


Saya pernah mempunyai seorang murid yang sudah dalam kondisi ‘sembuh’ dari autis. Tingkah lakunya di kelas sering di luar dugaan saya yang baru sajaa mengenalnya selama beberapa minggu. Sangat aktif, banyak vocabulary yang tidak saya sangka dia kuasai, tetapi jangan ditanya ketika dia sidah mulai bosan atau activity harus dikerjakan secara berkelompok. Dia akan sibuk dengan dirinya sendiri, menggambar (yang belakangan saya ketahui ternyata dia tidak pandai menggambar, hanya sibuk dengan secarik kertas yang dia coret2 dan disembunyikan ketika saya bertanya apa yang tengah ia lakukan. Sangat tidak gampang.

Itulah mengapa saya kagum dengan sosok Lucy, gadis 12 tahun di novel ini yang begitu ingin menjadi guru bagi anak2 autis ketika ia dewasa kelak. Targetnya yang semula mengenal seluruh tetangga barunya di flat barunya, akhirnya berubah menjadi mengenal sosok Matthew, tetangga flat lantai 5. Matthew mengidap autis memberi kesan mendalam bagi Lucy di awal pertemuan mereka. Keinginan Lucy ini ditanggapi serius oleh Marie, ibu Matthew, demi membuat Matthew menjadi semakin mudah dalam terapinya. Selain mengenal sosok Matthew, Lucy juga mempunyai misi lain yang ia yargetkan, mengubah Francoi, aning rumahan milik sahabat ibunya, yang ia anggap tidak mempunyai sifat2 anjing pada umumnya.

Perjalaanan mengenal Matthew dan sekaligus ‘mendidik’ Francois terasa seru di sepanjang novel setebal 104 halaman ini. Bersama Theo, teman Lucy, Mougo, pengasuh Matthew yang berasal dari Rusia dan tidak bisa berbahasa Prancis, mereka mengalami petualangan menyenangkan sekaligus menegangkan. Satu kesimpulan yang saya petik disini adalah, mendidik anak autis, diperlukan kasih saying yang tidak perlu diungkapkan secara verbal. Mougo dengan masakan enaknya, rambut pirang panjangnya yang disediakan untuk menanangkan Matthew yang sering berputar2 bagai badai, tak pernah mengatakan kata sedikitpun. Ia hanya cukup hadir disana. Lucy tak pernah berusaha mengobrol dengan Matthew. Dia selalu siap dengan catatan hariannya seputar Matthew yang sering ia diskusikan dengan Theo dan Marie.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar