Jumat, 13 April 2012

Fate—Orizuka : Novel teenlit rasa K-drama



Sebenarnya malu dengan umur yang sudah tidak lagi teen, namun apa daya cerita drama Korea sudah sangat merasuki diri saya membuat saya kepengen membaca novel yang sekilas mirip novel2 Ilana Tan ini. Dulu, saya cukup ‘apriori’ dengan teenlit, bukan karena bobot ceritanya, tetapi lebih pada gaya bahasa abege. Boro2 novel penulis Jakarta yang sudah tentu akan banyak dihiasi dengan ‘lo, gue’ dan bahasa khas Jakarte lainnya, yang local—Semarang saja saya malas membacanya. Tetapi yang ini ternyata berbeda. Bahasanya sangat formal termasuk terjemahan dari Korean ke Indonesian.


I owe it all to my lovely niece yang memang doyan membaca apa saja, termasuk teenlit yang kemudian menularkannya pada saya. Pertama membuka lembar pertama novel bersampul merah jambu ini, saya sudah hampir langsung menutupnya karena bahasa pembuka yang sangat tidak baku dan ‘abege-like’, tetapi begitu membuka lembar berikutnya, saya terbelalak melihat rentetan  ekspresi bahasa Korea lengkap dengan footnote terjemahannya. Sesuatu yang selama ini diam2 saya harapkan, kamus ringan bahasa Korea, ekspresi yang saya dengar dan (tidak) sengaja tirukan selama nonton drama Korea.  

Ceritanya sih overall sangaaaattt Korea, mulai dari love triangle, pangeran kaya dan cewek dari kalangan biasa, setting indah (meski harus berimajinasi), hingga detil2 kecil khas Korea: makan kimchi dan ramen, cibiran kecil, tepuk jidat, dll. Yang lebih khas Korea lainnya adalah tidak adanya sosok antagonis yang menyebalkan, hampir semua karakter adalah protagonist tapi itu tidak mengurangi asyiknya membaca novel ini.

Cerita inti adalah seputar dua kakak beradik lain ibu, Jang Min Ho dan Jang Min Hwa yang ‘terpaksa’ berjumpa kembali setelah terpisah selama sepuluh tahun. Mereka bertemu kembali untuk menghadiri kremasi ayah mereka, pengusaha kaya asal Korea yang berbisnis di Indonesia. Hadirnya Adena—putri  kepala pelayan keluarga Jang menjadi pelengkap novel ini sehingga menjelma menjadi novel-tapi-drama Korea. Kalau dalam sinetron Indonesia, cerita bisa ditebak, cerita bakal seputar rebutan harta warisan orangtua dibumbui rebutan wanita. Tetapi, si penulis—Orizuka (saya yakin dia adalah orang Indonesia) bisa membelokkan kisah novel ini hingga cerita tidak didominasi perebutan harta, melainkan pesan yang sangat humanis—keluarga adalah segalanya.  Hubungan darah bisa dikalahkan dengan perasaan mendalam dari kedua belah pihak, meski sebenarnya dua kakak beradik itu sama sekali tidak ada pertalin darah sama sekali. Hanya nasib—fate—yang mempertemukan mereka, seperti tagline novel ini.
Well, bagi penikmat novel2 berat, novel ini sangat tidak saya rekomendasikan, tapi bagi anda pembaca segala (termasuk running text di tipi), silakan. Apalagi buat anda penyuka drama Asia, Korea tepatnya. Konfliknya lebih ‘berat’ disbanding novel seri musim milik Ilana Tan. Dan yang terpenting adalah tersedianya banyaaak sekali ekspresi dalam bahasa Korea.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar