Jumat, 13 April 2012

Revelation (Ther Melian #1) (Shienny M.S)

Di awal awal membaca buku ini, saya sudah harus menyiapkan hati, antara terselubung 'tabir' Ther Melian dengan efe tubuh nagih untuk membaca lanjutannya, atau sebaliknya, drop the book as soon as possible. Well, sebagai penikmat novel2 fantasy, saya sedikit kesulitan 'loading' di awal kisah Revelation ini. 



Kesulitan pertama adalah membiasakan nama2 asing yang tidak jelas feminin maskulinnya. Saya pikir pertama Blaire itu adalah cowok, tetapi melihat kebiasaannya memasak dan mewek2 ketika Vrey meninggalkannya, saya mengambil kesimpulan bahwa dia adalah cewek. Karth, semula saya pikir dia adalah cowok ,kemudian berganti menjadi cewek, tetapi kemudian ternyata dia adalah cowok. Pusiingggg...Saya iseng membandingkan nama2 karakter disini dengan Harry Potter dan Percy Jackson. JK. Rowling mempunyai buku tersendiri untuk memberi satu karakter tertentu. Misalnya DRaco Malfoy yang diambil dari dragon, Lucius dari Lucifer yang jelas2 buruk sifatnya. Dan semuanya gampang ditebak jenis gendernya. Bahkan putra putri dewa/ dewi Yunani pun mempunyai nama2 'biasa' yang umum, yang tidak perlu kening saya mengernyit untuk mengetahui gendernya. Percy, Annabeth, Piper, Grover, dll. Well, tapi itu terserah penulisnya sih mau ngasih nama apa ke karakternya. 

Kesulitan kedua adalah istilah Vier-Elv, Elvar, dan beberapa istilah lainnya. Fokus ceritanya jadi kabur buat saya gara2 terlalu banyak memikirkan, what they hell are those? hahaha... Saya agak malas melihat glosarium yang ada di bagian akhir novel. Tapi ternyata saya masih terus membaca novel setebal 420 ini hingga tamat.

Untuk ceritanya sendiri, akhirnya saya bisa menikmati alur cerita yang ringan, plus segala twistnya di tengah2. Spoiler2 di goodreads yang memuji2 buku ini, saya lewatkan begitu saja. Saya hanya membaca beberapa review, terutama kontek saya yang menyatakan dia enjoy membaca novel ini meski genre fantasy bukanlah his cup of tea. Saya jadi penasaran dengan cerita logy pertama ini. Tapi, saya juga mempunyai gangguan yang sama, pada kata, 'ngga' disini. Sekian banyak novel fantasy yang saya banyak, terutama translated novels, saya tidak menemukan kata 'ngga, sewot, sih, dll'. Sedikit janggal saja. Sementara kalimat lain cukup formal, untuk menyatakan keakraban antara satu karajter dengan yang lainnya, harus ditunjukkan dengan kata 'ngga'. Tapi, kalau keseluruhan cerita ini ditulis dalam bahasa gail remaja, seperti kebanyakan novel2 teenlit, I would automatically drop the book right after reading the first page. Hahaha... iipsmiley

Akhirul kata, saya akhirnya 'nagih' untuk membaca lanjutannya dan murah hati memberi 4 bintang karena sebenarnya saya mau kasih 3,5 bintang tapi ngga bisa kalo disini. Sekian ya ripiunyaaa...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar