Sabtu, 14 April 2012

A SCENT OF GREEK (OUT OF OLYMPUS #2) (Tina Folsom)


Tidak begitu kecewa dengan buku pertamanya yang lumayan lucu dan beberapa adegan terkesan komikal, saya melanjutkan buku kedua tulisan Tina Folsom ini. Dari awal cerita, saya mulai mengenal ‘signature’ seorang Tina yang hobi banget mengumbar adegan erotis di tempat tidur dari pasangan mortal-immortal. Genre adult sudah benar2 terasa di lembar2 awal novel ini. Fiuh!!! (Apa ada persyaratan khusus halaman novel untuk diterbitkan ya, hingga deskripsi yang beginian selalu memakan berlembar lembar).


Kali ini dewa brengsek yang akhirnya tobat adalah dewa anggur, Dionysus. Fatwanya selama ini yaitu satu wanita satu malam harus ia pertanggungjawabkan. Ariadne, wanita mandiri dengan warung anggurnya sudah 2 minggu berkencan dengan Dio (nama panggilan dewa anggur ini so human ya), tanpa membiarkannya membawanya ke tempat tidur. Setelah dirasa cukup lama membuatnya menunggu, akhirnya Ari berkesimpulan bahwa Dio adalah sosok yang berbeda dari mantan tunangannya dulu. Maka, diputuskanlah mereka akan ‘menaikkan’ hubungan mereka ke jenjang yang lebih ‘serius’. Namun apa daya, setelah ‘malam yang hebat’, Dio kembali menjalani fatwanya sendiri itu, one woman for one night stand.  Hera, goddess yang selama ini selalu muncul dengan karakter antagonisnya muncul dengan kekuatannya, mengambil semua memori Dio. Setelah ‘malam yang hebat’, malam yang menyakitkan bagi Ari setelah ditinggalkan Dio, terbitlah Dio dengan sosok yang baru.

Ceritanya cukup bisa ditebak, Dio yang ‘lupa’ bahwa dia adalah dewa anggur kembali ke pelukan Ari, yang kali ini lebih tegas memberi batasan dalam berpacaran, meski kenangan akan malam yang hebat it uterus membayanginya, dan ingin mengulangnya, tapi dia cukup ‘iman’ untuk tidak terlalu membiarkan Dio ‘menjajah’ tubuhnya. Apa dia menyerah? Meski amnesia, tapi hasrat itunya berkali lipat. Usaha2nya memepet Ari nyaris berhasil  di berbagai macam tempat.

Comments
Jelaslah sudah dimana dan bagaimana kepiawaian seorang Tina Folsom untuk urusan adegan dewasa ini. Buku ini bakal dicintai kaum pria dengan imajinasi liarnya. Saya jadi ingat, betapa teman2 saya di milis lapanpuluhan membiacarakan dua nama penulis ‘stensilan’ yang popular di tahun 80an, Nick Carter dan Ennie Arrow, karena piawainya mereka menggambarkan adegan serotis. Nahkan beberapa mengaku, beberapa lembar novel hilang di bagian erotisnya. *geleng2*. Untunglah, saya membaca novel ini dalam bahasa Inggris, kendala bahasa sedikit menyamarkan detilnya organ2 tubuh yang disebutkan wkwkwkwk…
Akhirul kata, tak lagi2 saya membaca novel beginian, apalagi dari Tina Folsom yang jelas banget genrenya. Positifnya adalah, saya bisa menyelesaikan novel ini lebih cepat karena seringnya men-skip bagian2 ‘itu’nya saking ngga pentingnya, and mostly repeated way of elaborating it. Owh, what in Hades sake!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar