Jumat, 13 April 2012

Weedflower (Cynthia Kadohata)

Bagaimanakah rasanya kesepian yang amat sangat? Apakah ketika engkau merasa tidak seorang pun sedang tidak menatapmu meski di tengah2 banyak orang? Sumiko, gadis Jepang usia 13 tahun sering mengalami hal ini. Sebagai anak Jepang yang tinggal di America, bersekolah dan bertetangga dengan Americans, jangan terlalu berharap mempunyai seorang teman. Sumiko, gadis yatim piatu, bersama adiknya Takao atau Tak Tak dibesarkan keluarga paman dan kakeknya yang berimigrasi ke Ameica demi perbaikan nasib. Menjadi saksi ketidak adilan perlakuan selama peristiwa Pearl Harbor, Sumiko harus berpindah-pindah tempat dari satu kamp ke kamp lainnya.

Dari sudut pandang seorang bocah usia 12-13 tahun, Cynthia Kadohata mengalirkan kisah seputar kehidupan di kamp Poston. Kehidupannya yang meski sepi teman di perkebunan bunga di California, sangat menyenangkan. Ketika Amerika mulai menyatakan perang dengan Jepang setelah peristiwa
Pearl Harbor, kehidupan keluarga Sumiko berubah drastis. Mereka harus menyatakan kesetiaannya pada Negara Amerika meski mereka sudah menjadi warga Negara Amerika. Tak cukup dengan itu, karena kekhawatiran pihak Amerika, mereka dipaksa meninggalkan kehidupan mereka menuju padang gurun Poston, sebuah wilayah sangat dekat dengan warga Indian.

Demi membunuh kejemuan di kamp, Sumiko kembali berusaha membangun impiannya, memiliki kebun bunga sendiri. Selain kegigihan Sumiko dalam mewujudkan impiannya di tengah gurun pasir, kisah ini dihiasi dengan politik2 Amerika yang cenderung mempermainkan warga imigrasi Jepang. Setelah bertahun dipaksa hidup dalam isolasi Poston, pria Jepang yang sudah berusia lebih dari 17 tahun, diminta untuk memperkuat tentara Amerika. Istilah yes yes boy untuk mereka yang menjawab 2 pertanyaan ini dengan ya: 1. Bersediakah anda mengabdi melalui angkatan bersenjata AS dalam tugas pertempuran kemanapun diutus? 2. Bersediakah anda bersumpah setia kepada AS, membela Negara Negara dari serangan kekuatan asing dan domestic dan bersumpah untuk menghentikan segala bentuk kesetiaan terhadap Kaisar Jepang ataupun pemerintah, kekuasaan ataupun organisasi manapun? Sementara mereka yang tidak bersedia disebut sebagai no no boys.
Keluarga Sumiko harus memberi jawaban. Menjawab YA, mereka bisa kembali ke dunia luar, dan kembali menjadi terasing dengan fisik sebagai orang Jepang, namun berwarga Negara Amerika. Atau tetap tinggal, mengurus segala sesuatu yang sudah mulai ‘normal’ meski dalam siolasi kamp Poston.

Comments:
saya sangaaaatt suka novel ini. Meski tone kisahnya cukup sedih, tapi Cynthia KAdohata meramunya dengan polos dari kacamata Sumiko. Celetukan lucu dari Tak Tak dan pertanyaan polos Sumiko pada para sepupunya sangat menghibur novel setebal 270 halaman ini. Beberapa kali tenggorkan saya tersekat, beberapa kali mata saya berkaca kaca, dan tiba2 bisa tergelak selama membaca novel ini. Saya sangat suka pada saat Bull menceritakan kisah lucu pada Tak Tak pada saat suasana yang tidak menentu. Suara tawa Tak Tak yang polos adalah melodi terindah bagi keluarag imigrasi Jepang yang tengah hidup di kamp kering Poston. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar