Kamis, 17 Mei 2012

Kang Sejo Melihat Tuhan (Mohammad Sobary)



Soft cover, 235 pages
Published April 1993, Gramedia Pustaka Utama

(Review ini hanya merujuk pada SATU cerpen di dalam kumpulan cerpen ini, bukan keseluruhan cerpen)

Saya baru saja selesai membaca salah satu tulisan pendek milik M. Sobary dalam bukunya Kang Sejo Melihat Tuhan. Tersentil sedikit, ngga terlalu parah karena tulisan ini bukan ditujukan untuk pejabat seperti saya. Tapi tetap saja tulisan ini menyindir saya.

Begini, dalam tulisannya, Sobary membandingkan antara tokoh utama, pendekar silat Mahesa Jenar dalam kisah karya S.H. Mintardja, Nagasasra Sabuk Inten, memilih meninggalkan jabatannya sebagai wiratamtama Kerajaan Demak, dan lebih memilih menjadi pendekar, hidup bersahaja, jauh dari kemewahan duniawi (hal. 106). Sebagai perbandingan Mahesa Jenar, sang penulis membandingkan dengan para mantan pejabat yang menganggap bahwa menjadi mantan adalah suatu hal yang menakutkan. Mungkin bahkan mewujud menjadi ketakutan itu sendiri. Maka, kalau menjadi mantan tak lagi terhindarkan, maunya mereka menjadi mantan yang makmur (hal. 108).


Melihat penjabaran tulisan diatas, sepertinya ngga ada bagian dimana saya tersentil. Well, mengingat saya bukanlah pejabat yang harus diangguki kemana kaki saya melangkah. Tetapi mengingat saya mempunyai pekerjaan yang dulu pernah saya geluti, siaran radio, maka keinginan untuk selalu didengar selalu ada. Untunglah saya sekarang berprofesi guru, saya masih mempunyai 'pendengar' aktif di kelas. Bagaimana kalau nanti saya menjadi mantan? Apakah nantinya saya tetap ingin di dengar? Tak tahulah.

Seorang teman saya yang lain (maap beribu maap jika dianya membaca tulisan ini) adalah mantan gitaris sebuah band lokal. Sekarang dia menjadi teman saya mengajar. Sebagai guru yang mantan gitaris, dia sering memberi lagu pada murid2nya, tidak berupa lirik untuk dipahami, melainkan 'let's sing together'. Obrolan seputar her glorious days ketika menjadi gitaris beberapa tahun lalu, masih terus didengungkan dengan kilatan kebahagiaan (kebanggaan) yang berkobar. Foto2nya dipanggung bahkan pernah dia sebarkan secara tertutup bagi kami, the females, karena di foto tersebut, dia masih berkaos seksi, tak seperti sekarang tertutup atas bawah.

Seorang teman yang lain, ibunya adalah mantan seorang pendidik alias guru. Masa pensiun alias masa menjadi mantan harus dilakoninya. Tak jarang, pride-nya sebagai mantan pendidik sering timbul tenggelam. Ketika timbul, dia bisa saja memanggil anak2 sekolah yang lewat rumahnya untuk meminta mereka cium tangan. Nasihat ini itu diberikan pada mereka tanpa diminta.

Well, leading dongeng, menjadi mantan tak harus seperti Mahesa Jenar yang memilih jalan sepi ing pamrih. Menjadi mantan nyata2 cukup menakutkan tapi tidak selalu harus ditakutkan. Kobaran semangat masa lalu terkadang memang cukup membakar. Yang diperlukan cukup menata hati, menyiapkan hati bagaimana nantinya menikmati menjadi mantan.

4 komentar:

  1. blog walking...
    makanya ada istilah post power syndrom ya..:)
    sy juga sdh baca buku ini , lucu tapi bermakna
    eh..salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo nannaiset
      Salam kenal juga

      Iya, emang kudu persiapan hati biar ngga kena post power syndrom.

      Bukunya banyak menyentil2 diriku juga dirimu kayaknya ya? :D

      Hapus
  2. mantan penyiar radio? Wow? Radio apa ka?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... sudah mantan, ga usah ditanyakan radio apa ah.... :p

      Hapus