Jumat, 01 Juni 2012

AMULET SAMARKAND #1 (Jonathan Stroud)


Paperback, 512 pages
Publisehd by Gramedia Pustaka Utama 2007
Rating 3/5 stars

Akhirnyaaaaa…. Saya baca juga novel yang selalu melirik saya setiap kali ke toko buku hehehe… Literally siapa melirik siapa ya? Hehehe. Entah mengapa, saya masih juga belum tergerak membaca novel ini. Mungkin karena saya sudah menyimpan ebooknya, sehingga sayang keluar duit untuk membeli novel ini. Dasaaarr.. untunglah, saya mempunyai teman yang baik hati dan tidak sombong, yang memberi pinjaman buku ini meski ia sendiri belum membacanya.

Entah ini novel ke barapa yang saya baca seputar sihir setelah serial Harry Potter usai. Bayang2 magic buah karya JK. Rowling masih sangat membekas hingga beberapa novel yang saya baca seputar sihir, tak ada yang berakhir dengan sukses saya baca hingga akhir. Katakanlah Legend of Earthsea, Eragon, semuanya saya baca hanya pada first logynya saja. Sepertinya benar kata teman saya, bahwa JK. Rowling is a witch herself. Untuk trilogy ini, let time tell :D

Novel cukup tebal ini ‘dibintangi’ oleh dua karakter, Nathaniel, bocal penyihir usia 11 tahun, dan Bartimaeus, si jin usil nan cereweeeettt. Amulet Samarkand lah yang tidak secara langsung mempertemukan mereka berdua sebagai master dan jin nya. Nat, si penyihir belia mampu mengucapkan mantra kuat untuk memanggil si Barty, jin yang sudah berusia ribuan tahun. Sebagai master dan jinnya, hubungan keduanya terkadang cukup sengit satu sama lain, terkadang juga cukup harmonis. Isu politik dari penyihir besar yang mengincar kekuasaan pemerintah menambah seru seri pertama Barty ini. 

Comments:

I can say that this book is not really for 11-years-old children. Meskipun dibintangi bocah 11 tahun, buku ini menceritakan banyak hal tentang obsesi agak gelap Nathaniel. Dia rela melalukan segala cara untuk memenuhi ambisinya bekerja di pemerintah, termasuk membunuh. Well, meskipun yang ia bunuh adalah bandit kedua, tapi tetap saja membunuh adalah membunuh. Belum lagi Barty yang cerewet (lucu dan menggemaskan sih), tapi dia sendiri juga mempunyai sisi gelap yang belum tentu cukup pantas untuk anak usia 11 tahun. Berbeda dengan Harry Potter yang di buku satunya (seingat saya) masih aman untuk anak2 usia 11 tahun. Yah, mungkin karena isu politik dan ambisi Lovelace yang jahat membuat saya sedikit tidak ‘tega’ jika buku ini dibaca anak2. 

Meski buku ini tentang sihir, tapi sepanjang halamannya yang mencapai 500 lebih, tak ada rapalan mantra yang tertulis. Lumos, nox, wingardium Leviosa, dll, semuanya tak terucapkan disini. Hanya, penjelasan seputar sphere, plane dan wujud imp ataupun jin cukup detil disini. Saya sendiri membayangkan, tak ada manusia yang sebenarnya bisa melihat setan atau jin. Semua yang dilihat secara kasat mata itu hanya wujud luar yang tertangkap mata manusia (itu kata pak ustad saya dulu waktu kecil hehehe). Maka bayangkanlah, Barty dengan wujud barganti2, dari lalat, kumbang, kutu hingga burung, semuanya hanyalah kemampuan manusia yang melihatnya di plane itu. Tak lebih. Sementara Barty sebagai jin, dia mampu melihat wujud rekannya dalam plane manapun. Ya iyalah, mereka kan sebangsa setanah air hihihi. Untuk yang satu ini, saya salut pada Jonathan Stroud yang bisa menggambarkan detil penampakan pada jin, seolah dia sendiri adalah jin :D. 

PS 1: saya bersyukur membaca versi terjemahan ini, karena saya pasti akan pusing membaca versi aslinya. Frankly, saya pasti pusing membayangkan versi asli detil dari penggambaran plane perwujudan dari jin ini atau jin itu.

PS 2: Oya, saya jadi ingat, jaman masih kecil dulu, salah satu ustad mengatakan tentang macam2 jin, salah satunya adalah jin Ifrit. Eh, ternyata, si Barty ini termasuk jin Afrit dari abad 14. Wah, Stroud ini risetnya dimana ya? Wkwkwk…



3 komentar:

  1. aprit itu panggilannya seksiyhippo juga lho

    BalasHapus
  2. sekedar ralat: bartimaeus itu bangsa jin.. bukan afrit. afrit setingkat lebih tinggi di atasnya sebelum marid. (imp-foliot-jin-afrit-marid-dst)

    *salah satu penggemar Bartimaeus Trilogi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Owh,gitu ya? Hahaha... Makasih ya koreksinya.

      Hapus