Selasa, 26 Juni 2012

HAVE A LITTLE FAITH (Mitch Albom)



Paperback, 284 pages
Published November 2009 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 4/5

Sewaktu aku masih remaja, Reb membawakan khotbah yang membuatku tertawa. Ia membawa sepucuk surat ucapan terima kasih dari pemimpin agama lain. Di akhir surat itu tertulis: “Semoga Tuhan Anda – dan Tuhan kami—memberkati Anda.” (hal. 163)

Saya seperti halnya Mitch, juga tertawa. Tapi saya menyadari kedalaman kalimat itu. Tidak semua orang, apalagi pemimpin agama, seperti Reb, bersedia menyampaikan surat dari pemimpin agama lain di tengah khotbah keagamaannya. Ini bukan olok2nya terhadap agama lain, melainkan ketulusan dari seorang Reb menerima Tuhan selain Tuhan yang ia yakini dari agamanya.

Ini adalah buku ketiga dari Mitch Albom yang saya baca. Buku yang berkisah tentang sosok nyata Reb albert Lewis ini sangat sarat dengan kata2 yang semuanya ingin saya garis bawahi dan saya cantumkan dalam review ini. Sebagian kata2 itu berasal dari kisah hidup Reb yang loyal berada di jalannya sebagai seorang Rabi Yahudi dan sebagian lagi dari cuplikan khotbahnya.

Selain sosok Reb, Mitch juga mengisahkan tentang Henry Covington, seorang criminal tobat yang kemudian menjadi seorang pastor. Dari kisah masa lalunya, betapa kita harus menyadari bahwa Tuhan memang selalu bersama kita. Di manapun dan kapan pun. Berapa banyak di antara kita yang sering kali meragukan kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita? Tuhan, juga sering menjadi bahan perdebatan, antara Tuhan saya, Tuhannya, dan Tuhan mereka. Tuhan yang manakah yang mengatur dunia ini? Agama apakah yang pantas berada di muka bumi ini?

Mayoritas agama memperingatkan agar manusia tidak berperang, namun demikian lebih banyak perang dilangsungkan demi agama ketimbang demi hal lain. Orang Kristen telah membantai orang Yahudi, orang Yahudi membantai orang Muslim, orang Muslim membantai orang Hindu, orang Hindu membantai orang Buddha, orang Katolik membantai orang Protestan, orang Orthodoks membanrai kaum pagan. Dan kita dapat menarik daftar ini  mundur ke belakang atau ke samping, tetap saja nyata. Perang tak pernah berhenti, hanya berhenti sementara. (hal. 96)

Melihat kenyataan tersebut, lantas apa yang ada dalam pikiran kita? Di luar sana, banyak saudara kita dari agama kita, yang berlomba menjadikan agama sebagai alasan utama membantai orang lain. Dan apakah ini adalah hal yang dibenarkan oleh salah satu ayat dari kitab Suci? Membunuh?
Mitch, Tuhan tidak menginginkan pembunuhan itu terus berlangsung.”
Lalu mengapa perang tak pernah berhenti?
“Karena manusia menginginkannya.” (hal. 97)

***

Selain hal2 yang berhubungan dengan Tuhan dan agama, Reb juga memberi petuah2 kocak nan menyentil di dunia perkawinan. Dia menyindir berapa banyak pasangan yang ia nikahkan yang kemudian berpisah bertahun kemudian. Petuah ini sering ditujukan pada muda mudi yang akan melangsungkan pernikahan
“Ingatlah, satu2nya perbedaan antara ‘marital’ (perkawinan) dan ‘martial’ (bela diri) adalah dimana kita menempatkan “I” (aku).” (151)

Dalam suatu acara, Reb juga pernah menceritakan mengenai seorang lelaki yang mengeluh pada dokternya bahwa istrinya bila marah, menjadi historis.
“Maksud anda histeris,” kata si dokter.
“Tidak, historis, “ kata si lelaki. “Ia mendaftar histori (riwayat) setiap kesalahan yang pernah kuperbuat.” (hal. 151)

Buahahahaha…. Sebuah sindiran yang sangat mengena. Cinta bisa saja berubah seiring dengan waktu. Perubahan seperti apa di masa yang akan datang, tergantung dari kedua belah pihak yang menjalaninya. Menurut  Reb, cinta jenis kasmaran, mabuk kepayang, karena ketampanan atau kecantikan, akan memudar seiring dengan  memudarnya kecantikan seseorang. Sebaliknya, cinta yang sudah teruji adalah cinta yang akan terus tumbuh subur. Cinta Reb terhadap Sarah, cinta Mitch pada Janine meski berbeda keyakinan, cinta Henry, pastor mantan criminal yang tobat pada istrinya yang mantan pecandu narkoba bisa menjadi contoh cinta yang akan terus tumbuh subur.

Comments:

Terus terang, saya selalu kesulitan setiap kali menulis review dari buku2 yang ditulis Mitch Albom. Bisa dibilang, The Five People You Meet in Heaven adalah yang paling gampang dalam penulisan review-nya. Belum lagi, buku ini saya selesaikan dalam jangka cukup panjang. Topik yang berbeda-beda dari satu bab ke bab lainnya dan seperti biasa, ingin saya cantumkan semuanya, menambah kesulitan saya.

Saya selama ini, sejak saya mulai membaca buku2 Mitch Albom, sering kali dihinggapi perasaan sedikit cemburu padanya. Mengapa? Tidak lain karena ia selalu saja dekat dengan orang2 hebat, seperti Profesornya, Morrie, dan sekarang ini adalah Albert Lewis, sang rabi yang pada waktu ia masih kecil seringkali ingin ia hindari. Cemburu saya terletak pada kekayaan pengalaman yang bisa ia timba dari dua sosok tersebut. Tapi kemudian, saya menyadari bahwa kesempatan yang diberikan pada Mitch adalah penunjukan yang tepat Karena ia mampu membagikannya dalam tulisan2nya. Cemburu saya juga hilang karena ia selalu dekat dengan orang2 yang sedang menjelang ajal. Siapa sih yang ingin merasa kehilangan yang amat sangat setelah begitu dekat selama hidupnya? Namun tetap saja, kebersamaan antara Mitch dengan orang2 tersebut selalu membuahkan sesuatu yang berharga, tidak hanya untuk dirinya, untuk saya sebagai pembacanya, juga untuk semua orang, untuk belajar dari orang2 luar biasa itu.


8 komentar:

  1. I'm always interested in this kind of interfaith discussion, you know why. :)
    I've read your review and I really want to read this book then, since I always read Karen Armstrong's collection.:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... I know I know.... I just don't know why I love reading this kind of books while I encounter anything like that (yet) hehehe...

      Hapus
  2. pinjammmmmmm *numpuk pinjaman*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Antriiiiiiiiiii... sama yang komen pertama di atas :p

      Hapus
  3. belum pernah baca bukunya Mitch Albom

    BalasHapus
  4. Hehe... Aku pertama baca, langsung beli boxsetnya.... #glekdompetnya

    BalasHapus