Kamis, 14 Juni 2012

Life Traveler (Windy Ariestanty)


Paperback, 381 pages
Published September 2011 by Gagas Media
Rating: 4.5 stars

Apakah konsep pulang itu? Dan apakah konsep rumah?

Saya ingat ketika saya masih kecil, TK, orangtua saya mengajak saya dan 2 kakak saya menjenguk saudara2 orangtua saya di tanah kelahiran mereka, Gorontalo, Sulawesi Utara. Kepergian hampir selama 2 minggu ini membuat kakak2 saya gelisah. Mereka sangat merindukan rumah di Semarang, dimana tak perlu ngomong dengan bahasa Indonesia, makan tempe dan kecap yg tak bisa ditemukan dengan mudah disana pada waktu itu. Pada suatu hari, kami menginap di rumah saudara yang lain lagi setelzh seminggu tinggal di saudara yang ini. Kakak perempuan saya membujuk saya (yang paling muda saat itu) untuk bilang ke ibu saya, untuk segera pulang. "Pulang ke rumah nenek?". Saya menggeleng, "Pulang ke rumah Semarang." Dan paniklah orangtua saya.
***

Bertahun saya bekerja di tempat kerja saya sekarang ini. Beberapa kali saya ditugaskan mengajar outside class. Ketika usai mengajar, biasanya saya juga akan bilang, "Pulang dulu ya," meski pada kenyataannya pulang disini berarti pulang ke kantor saya.
***
Dibandingkan Dengan dua penulis handal tentang jalan2, Trinity dan Windy Ariestanty, apalah saya ini. Saya baru dua kali keluar negri, dan itupun saya bukan termasuk pelancong nekad macam Trinity yang meski katanya buta map, tapi tetap saja nekad jalan2 seorang diri. Sebanyak dua kali itulah, saya merasakan konsep pulang dan rumah yang berbeda, yang dirasakan oleh windy dalam bukunya, Life Traveler ini.

***

“ ,,, Windy membuat buku ini menjadi istimewa karena kepekaannya dalam mengamati dan berinteraksi. Ia juga seorang penutur yang baik, yang mengantarkan pembacanya dalam aliran yang jernih dan lancer. Dan bagi saya, itulah yang melengkapkan sebuah buku bertemakan perjalanan.” Dewi “Dee’ Lestari.

Terus terang, semula saya kurang memperhatikan endorsement Dee ini yang diletakkan di sampul bukunya. Semula saya membandingkan buku ini dengan buku perjalanan nan menghibur milik Trinity dengan The Naked Traveler-nya. Sedikit kecewa, karena saya tidak menemukan kelucuan di lembar2 awal novel. Tapi semakin banyak halaman yang saya baca, semakin saya menyadari ada ‘kelebihan’ tersendiri dari seorang Windy dalam buku bertema jalan2 ini. Seperti yang ditulis Dee, Windy memang sangat istimewa dalam memperhatikan apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Dia mampu menerjemahkan keheningan menjadi suatu yang indah, menerjemahkan bahasa diam menjadi suatu yang bermakna. Ah, susah saya menggambarkan buku yang membuat perasaan saya hangat, mengingat kembali persinggahan2 saya selama perjalanan, betapa saya juga merindukan ‘rumah’ ketika berada jauh dari rumah, dll.

Windy juga mempunyai quotation yang mebuat saya menyadari bahwa masing2 kita mempunyai hak untuk sesaat menikmati menjadi diri sendiri dalam arti sebenarnya. Bukannya saya tidak sadar hal ini sebelumnya, tapi Windy mampu mengekspresikannya dalam kata2 yang indah.

Dalam sebuah perjalanan, tak ada seorang pun mengenalnya, manusia bias lebih bebas mengekspresikan diri. Lebih leluasa menjadi dirinya sendiri. Dan kadang, batas mengekspresikan diri ini menjadi kabur. Meniadakan keberadaan yang lain.

Tapi entah mengapa, saya berpikir, bolehlah kita sedikit egois barang sejenak . hampir setiap hari kita hidup dalam batasan yang dibuat orang lain, nilai kebenaran yang berlaku umum karena dibentuk lingkungan social kita.

Perjalanan memberikan kita jeda dari itu, sedikit merdeka dari batasan tadi. (hal. 100)

Seorang teman saya mengatakan, bahwa si anu berani melakukan perjalanan nekad ke sana kemari karena ia tidak menganut agama yang mewajibkannya berdo’a lima waktu, tidak perlu memikirkan halal haramnya suatu makanan, dan tidak perlu sungkan meng-eksplore night life dimana mana dan bla bla bla. Entah mengapa, saya jadi kasihan dengan cara berpikirnya yang demikian. Object wisata tersebar dimana mana di suatu daerah, mau eksplorasi daerah remang2, dipersilakan, tak ingin ke sana pun, tidak mengurangi keasyikan suatu perjalanan. Maka, saya yakin seyakin yakinnya,  ia tidak akan pernah kemana mana. Jika ia membatasi dirinya dengan si anu karena ia sudah mempunyai buntut tiga sementara si penulis anu masih bebas, maka saya akan maklum. Tapi bukan agama atau kostum yang membatasinya untuk ‘keluar’ dari batasan menjadi egois, menikmati jeda dalam kehidupannya yang dibatasi oleh nilai kebenaran yang berlaku secara umum.

Over all, buku jalan2 ala Widny ini sangat informative dengan segala tips akan suatu daerah, kata2nya menghangatkan, dan yang jelas membuat saya ingin kembali merasakan jeda itu kembali.

7 komentar:

  1. aku suka buku ini mbak, banyak banget kalimat yang puitis, quote yang indah :)

    BalasHapus
  2. perasaan bukan terbitan Gramedia deh ;p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah dikoreksi, broh
      Suwun koreksinya yaaaa

      Hapus
  3. kayaknya si mbak salah deh... penerbitnya Gagas Media bukan Gramedia...

    aku suka buku ini, ringan tapi sarat makna tentang hidup dan perjalanan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. dua orang yang mengoreksi. Makasih ya

      Toss ... sama sama suka...

      Hapus
  4. Iy bgtttsss!!! Suka bgt buku ini... Ntah napa, tiap bc kalimat2nya, kdang mikir, "nah lho, ky yg gw pikirin nich..." haha^-^

    BalasHapus