Senin, 31 Desember 2012

FOR ONE MORE DAY (Mitch Albom)




Paperback, 248 pages
Published December 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 4/5 stars


Ini adalah buku kedua tentang ibu yang saya baca dalam dua minggu terakhir. Yang pertama adalah Cerita Cinta Enrico dan ini yang kedua. Yang pertama tentang ibu yang cintanya luntur karena ajaran agama barunya, yang kedua adalah ibu yang mencintai anaknya hingga maut merenggutnya.

Pernahkah kita berpikir bagaimana kehidupan kita nantinya setelah seseorang yang kita rasa ‘merecoki’ kehidupan kita meninggal? Charles Benetto pernah, dan luckily, mendapat kesempatan untuk mengulang kembali saat saat bersama ibunya. Setelah ia gagal beberapa kali mengakhiri hidupnya sendiri.


Charles ‘Chick’ Alexander Benetto, mantan pemain bisbol pro yang terpuruk setelah masa kejayaannya, gagal menjadi anak ayah yang mengharapnya menjadi pemain bisbol pro dalam waktu relative lama, kehilangan ibunya, dan kemudian kehilangan anak istrinya, anaknya bahkan tak mau memakai nama keluarganya. Alasan apa lagi yang dibutuhkan seseorang untuk bunuh diri? Tapi maut belum mau menjemputnya. Sebagai gantinya, dia diberi kesempatan satu hari bersama ibunya. Sebuah pertemuan yang mungkin berupa khayalannya belaka, atau mungkin perjalanan ruhnya yang gentayangan setelah kecelakaan hebat, yang belum juga mengakhiri hidupnya.

Chick pernah ditawari ayahnya, mau menjadi anak ayah? Atau anak ibu? Dia ternyata memilih menjadi anak ayah, yang kemudian hari pergi tanpa kata-kata, dan ia pun otomatis menjadi anak ibu. Catatannya seputar saat2 dimana ibunya membelanya dan saat2 dimana ia tak membela ibunya cukup menyadarkan kita betapa cinta kita tidak se-maximal yang seharusnya, bahwa sering kali cinta tak berbalas seimbang dan kitalah penyebab ketidakseimbangan itu. 

Kisah Chick ini terbagi dalam 4 main parts: Tengah malam, Pagi hari, Sore hari dan Malam hari. Tengah malam adalah saat dimana ia mulai perjalanan ‘ruh’nya yang ketika pagi, sore dan malam hari bersama ibunya. Setelah tubuhnya terbanting, terluka dan berdarah, kembalilah Chick ke rumah ibunya, dan menemukan ibunya disana, tetap cantik, tetap tersenyum dan mencintai Chick. Setiap hari. Seperti catatan kecil yang selalu ia tulis bahkan ketika Chick belum bisa membaca. Setelah dipensiunkan dari pekerjaannya sebagai perawat, karena predikat janda setelah kepergian ayah Chick, Pauline atau Posey beralih profesi bekerja di salon kecantikan, dan kemudian  beralih menjadi perias wajah para wanita manula yang mendatangi kliennya door to door. Dari masing2 klien yang ditemui Chick dan ibunya sepanjang hari itu, Chick semakin menyadari ketidakseimbangan cintanya pada ibunya.
Sebaliknya, ibunya, tetap mencintainya seutuh ketika ia masih hidup, bahkan ketika ia tahu kebohongan Chick di malam ia menghembuskan napas terakhir. Chick yang sudah memilih menjadi anak ibu, masih menyimpan angan menjadi anak ayah, bahkan di hari ultah ibunya yang terakhir. Ibu dan anak, masing-masing dalam suatu titik dalam hidup, begitu ingin dicintai oleh pria yang sama. Meski pada kenyataannya, pria itu memberi pengkhianatan terhadap keluaraga, pada Chick, adiknya, dan tentu saja ibunya. Nasihat ibunya pada Chick tentang keluarga, menyikapi pengkhianatan suaminya:

“Kau punya satu keluarga, Charley. Baik ataupun buruk keadaannya. Kau punya satu keluarga. Kau tidak boleh menukarnya. Tidak boleh mendustainya. Kau tak bisa menjalankan dua pada saat yang bersamaan, berpindah-pindah dari satu ke yang lainnya. Tetap tinggal bersama keluargamu adalah apa yang menjadikanmu keluarga.”

Mitch Albom selalu mempunyai kalimat sejuk dalam bukunya. Namun dalam buku ini, saya tak menemukan sebanyak di tiga buku yang sebelumnya saya baca. Menurut banyak review, ini adalah buku paling ringan dari Albom. Se-ringan-nya Albom, tetap saja sangat worth it untuk dibaca.

4 komentar:

  1. wah, buku ini lebih ringan dri 5 people, mbk? *masukin daftar antrean*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Dan. Tapi 'mbrambang' scenes nya ngga banyak hehehe...

      Hapus
  2. ceritanya mirip ama 5 people

    BalasHapus