Rabu, 27 Maret 2013

The Unknown Errors of Our Lives by Chitra Banerjee Divakaruni



Paperback, 344 pages
Pulished by Gramedia Pustaka Utama
Rating: 4/5

Menjadi tua, sendiri dan terisolasi dengan kultur masa lalu adalah hal yang mungkin ibu kita rasakan atau kita rasakan ketika kita tua nanti.

Nyonya Dutta, wanita sepuh, karena keadaan harus mengikuti putranya Sagar tinggal di Amerika. Bersama Shymolli sang menantu dan dua cucunya, nyonya Dutta harus menyesuaikan diri sekuat tenaga dari life style, makanan hingga budaya begitu kakinya menginjak rumah putranya. Seperti banyak ibu ibu lain, nyonya Dutta sangat menikmati peran sebagai ibu, memanjakan anak dengan makanan favorit, melakukan hal hal yang sebenarnya sang anak bisa lakukan sendiri. Sayangnya, niat mulia sang ibu tak berjalan lulus dengan jaman.


Makanan India yang dianggap penyebab kolesterol, bangun pagi untuk ibadahnya dianggap mengganggu, mesin cuci yang mengerikan baginya dan sensasi mencuci manual dan pengeringan manual dengan jemuran, dan beberapa hal lain dianggap kuno dan mengganggu bagi menantu dan tetangga sekitar.

Owh, membaca ini mengingatkan saya pada ibu saya sendiri. Ibu saya cukup beruntung dengan tetap tinggal di rumah sendiri, sementara Nyonya Dutta, meski putra sendiri, namun status tetap saja sebagai pendatang. Menceritakan tentang masa lalu anak anaknya adalah hobby semua ibu, tidak peduli apakah itu lucu yang menggemaskan atau lucu yang memalukan. Saya yakin, masing masing dari kita pasti pernah atau akan menjadi sosok yang demikian. Karenanya, jangan kita berteriak atau merengut ketika ibu kita tiba tiba menjadi self-centered dengan cerita cerita konyol yang seringkali diulang ulang.

Leela, gadis India, berkarir sebagai computer programmer di Amerika, memilih perjalanan ziarah di Kashmir bersama bibinya. Perjalanan ini dilakukan setelah percobaan bunuh diri yang gagal. Sendiri adalah pilihan sekaligus bukan pilihannya. Kebersamaanya dengan pacarnya, Dexter, tak pernah membawa mereka tinggal bersama. Dalam perjalanan ini pun, bibi Seema tak mampu mengalihkan perhatian Leela dan bergabung dengan rumpian peziarah lain. Perhatiannya beralih ke Nyonya Das yang dianggap membawa bintang sial. Sendiri, tak ubahnya Leela. Bersama, mereka menemukan kebersamaan yang mereka tak pernah rasakan.

Comments:
Dari sembilan cerita pendek, baru dua saja yang sempat saya tulis secara ringkas mengingat jadwal posting bareng yang tiba tiba di depan mata. Hahaha... kemana saja saya 26 hari kemarin ya?
Membaca kumpulan cerpen Divakaruni ini membuat hati sakit. Bagaimana tidak sakit jika keselurhn cerita berakhir pahit, meski terasa manis di tengah namun tetap saja sang penulis berkuasa akan seperti apa ending dari tokoh rekaannya. Hingar bingar musik India terasa jauh, sayup sayup terdengar selama membaca novel kucer ini, yang ada adalah musik mellow menyayat hati bercerita tentang wanita India pendatang di negara Mr. Obama, lengkap dengan suka duka dukanya. Kenapa saya tulis duka dua kali, karena lebih banyak duka dibanding rasa suka sebagai pendatang, bahkan untuk perempuan cerdas seperti Mira sekalipun. Tabrakan budaya tak hanya terjadi di negara tujuan, tentu saja juga terjadi di negara asal mereka. Budaya peribadatan, budaya gaya hidup, budaya makanan hingga budaya bersosiliasi tercermin dalam rekaman tabrakan budaya tersebut. Satu sisi ingin tetap lestari, sisi lain ingin mendobrak budaya. Semua terjadi di kalangan arga sendiri. Tak ada yang salah, tak ada yang merasa dirugikan ketika masing masing individu secara sadar menjalaninya.

Terus terang, sedikit susah men-digest inti cerita dari hampir semua cerpen. Awal yang cukup absurd (bagi saya) menjadi tantangan bagi saya menyelesaikan novel yang sebenarnya cukup tipis ini. Saya butuh mengulang beberapa paragraf sebelumnya jika kebetulan saya istirahat sejenak. Sangaaat berbeda dengan novel pertama Divakaruni yang saya baca sebelumnya, Palace of Illusions. Well, mski demikian, saya masih cukup menikmati karya Divakaruni ini.

PS:
Postingan ini adalah posting bareng BBI bulan February dengan tema penulis Asia.

14 komentar:

  1. wah banyak yg baca karya penulis ini. dan saya belum pernah baca karya beliau :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bulan ini Diva Karuni laris manis ya.. aku juga blm pernah baca satupun karyanya

      Hapus
    2. Desty and Oky: Aku jatuh cinta sama Divakaruni setelah baca Palace of Illusions. Ayo, coba satu dulu :D

      Hapus
  2. Aku lebih suka baca cerpennya Jhumpa Lahiri daripada Divakaruni.. Dan sebaliknya, lebih suka novel Divakaruni daripada Lahiri X)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nDrai: aku belum pernah ketemu dengan Jhumpa Lahiri. Kalo liat entar coba deh kenalan dulu. Makasih ya...

      Hapus
  3. Divakaruni ini kayaknya sering nulis tentang perempuan ya mbak? lagi mau baca The Palace of Illution :)

    BalasHapus
  4. ah bacaan kita sama Mbaaak.. iyaa nyonya Dutta kasiaan yaah >_<

    BalasHapus
  5. tes koment via mobile, didukung oleh telkomsel #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Husss... ngga boleh ada iklan disini... No ads, pleaseee...

      Hapus
  6. wah ini ceritanya Bu Dutta lagi yah.. aduh jadi penasaran aku haha

    Dila
    kilasbuku.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan penasaran, Dhila. Baca aja. Banyak kok diskonannya #kompor...

      Hapus
  7. Kesulitan saat membaca cerpen, kita dipaksa menangkan inti cerita dari sepenggal cerita pendek. Apalagi kumcer. Buku ini sering diobral 40% tp karena endingnya pahit mending ga jadi beli muahahaha *ditendang kak lila

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Dion. Mumet aku sama kumcer ini. Tapi idenya emang keren. Ngga ada kipas2nya #eh? hihihihi...

      Hapus