Jumat, 08 Maret 2013

Travelove: Dari Ransel Turun Ke Hati


Paperback, 151 pages
Published Juni 2012 by Mizan
Rating 3/5

I feel it in my fingers
I feel it in my toes
Love is all around
And so the feeling grows…. (Love is All Around by Wet Wet Wet)

Cinta memang bisa datang dimana saja, kapan saja. Banyak yang percaya itu. Saya juga ingin percaya itu, meski hingga sekarang saya belum menemukan the love of my life.

Seperti kisah cinta klasik, cinta bisa berakhir bahagia, bisa saja berakhir unhappy ending, ato masih saja menggantung menunggu jawaban. Entah sampai kapan jawaban akan datang. Andrei Budiman memulai kisah cinta travel-nya dengan Bertemu Itu Kesempatan, Bersama Itu Pilihan. Kisah cintanya dimulai dan berakhir di negeri Sakura. Pahit. Tapi jika itu sudah menjadi pilihan, segala sesal tak perlu ada. Trinity melanjutkan dengan kisah ‘cinta’nya pada Bapaknya dalam Perjalanan Ke Surga. Bapak yang mendapat julukan Si Sangar ini, saya yakin memang sangar. Batak, dengan logat keras dan galak pada teman2 Trinity yang tidak disukainya. Tapi bapak tetaplah bapak. Emak ataupun bapak harimau juga sangar, tapi pada anaknya sudah bisa dijamin pasti lembut. Kisah perjalanan Trinity dengan bapaknya di Bromo dipenuhi dengan emosi dan diakhiri dengan emosi yang berbeda. 


Anda percaya akan do’a dari mereka yang ‘dekat’ dengan tuhan akan dikabulkan? Pergilah ke Luang Prabang, Laos, dan ikuti ritual giving alms. Rini Raharjanti dalam Terima Kasih, Giving Alms benar2 menemukan mukjizat doa2 para biksu. Eh, saya juga mau, apalagi bertemu dengan an Irish who said, will you come to Ireland and marry me? #speechless #speechless #speechless…  Perjalanan rohani seorang Claudia Kaunang cukup menyentuh. Betapa seseorang itu sangat susah untuk setiap saat berada di dekat Sang Pencipta. Silent Retreat sangat menyentil bagis siapa saja yang selama ini hanya memikirkan perjalanan duniawi, mengesampingkan perjalanan rohani. Ahhh, saya juga kesindir ini…

Selain nama2 dan cuplikan yang sudah saya tulis diatas, ada pula kisah2 lain yang masuk dalam 10 kisah perjalanan cinta ini. 

Comments:

Saya pernah membaca The Journey dengan model penulis keroyokan dalam satu buku. Masing2 penulis tentu mempunyai gaya penulisan yang berbeda. Keuntungannya adalah, saya bisa mengenal penulis2 baru dan penasaran dengan buku tulisannya yang lain. Seperti Windy Ariestanty dan Budi Valiant yang buku2nya sempat saya buru (pinjam teman akhirnya hahaha). Dalam Travelove ini, terus terang saya hanya kenal nama Trinity, nama paten di dunia traveling Indonesia. Yang lainnya? Ngga kenal. Sebenarnya saya berencana meminjam (lagi) dari teman saya, tapi karena buku ini saya masukkan dalam deretan wishlist dan terbaca oleh Secret Santa, Annisa Anggiana, maka dengan baik hatinya mbak Santa ini membelikan saya buku kedua dalam event Secret Santa tahun lalu. Terima kasih sekali lagi #bowing

Dan apakah apa yang terjadi pada The Journey terjadi pada Travelove ini? Saya ingin mencari buku2 tulisan penulis selain Trinity? Eeemmmm…. Sayangnya kok ngga ya? Entah mengapa, di bagian belakang buku ini tercantum biografi singkat para penulisnya yang memang sudah malang melintang di dunia traveling, dan juga sudah menghasilkan buku2 travel yang mungkin berguna bagi traveler angin2an macam saya ini. Tapi pengalaman membaca buku perjalanan berjudul Travel Hemat ke Eropa tempo hari membuat saya kapok. Bukannya tidak percaya bahwa itu tidak hemat, tapi saya hanya percaya isi kantong saya sendiri hahaha. Jadi, biarlah saya kembali meneruskan buku perjalanan yang lain, yang namanya tak tercantum dalam Travelove ini, Agistinus Wibowo dalam Garis Batas. Tak perlu kata hemat atau apapun, saya hanya butuh kisah perjalanan yang sering kali mengharu biru dengan gambar menakjubkan khas Agustinus. Hahaha…. See you in the next (book) travel.

1 komentar:

  1. pernah baca dan gak selesai. :|
    so far aku paling suka ceritanya Trinity.
    so sweet. :)

    BalasHapus