Minggu, 07 April 2013

Pretties (Uglies #2) by Scott Westerfield





Paperback, 384 pages
Published by Matahati,  October 2010
Rating: 3/5

Tally Youngblood akhirnya mendapatkan apa yang ia dambakan sebelum ia mengenal Smoke, menjadi rupawan. Sama dengan para rupawan lainnya, Tally juga mengalami kerusakan pada otak, melupakan sebagian masa lalunya, dan berotak kosong kecuali pesta dan pesta di kota Rupawan Baru. Tapi bukan Tally Youngblood namanya jika ia tak membuat ulah. Bersama gang barunya, Crim, Tally leluasa melakukan aksi hebohnya karena reputasi Crim yang memang suka berulah. Meski  mengalami kerusakan otak yang sama, Tally masih menyimpan banyak memori semasa ia buruk rupa, termasuk ingatannya terhadap David, cowok Smoke, yang berjanji akan datang membawa pengobatan bagi otak Tally. Tapi sayang, cewek suka berulah ini sudah memilih Zane, sesama rupawan,  dan memilih menyingkirkan David. Tapi apakah Tally akan meninggalkan rekan2 Crim-nya, termasuk sahabatnya Shay dan Peris? Tapi tentu saja Dr. Cable dan kelompoknya Special Circumstances tidak akan membiarkannya.

Comments:
Buku ke dua dari seri Uglies ini menurut sedikit lebih seru dan sedikiit kocak dibanding buku pertamanya. Thanks to Edward cowok figuran yang menemani Tally dalam pelarian sendirinya. Tapi     tetep saja saya meneruskan kebiasaan buruk saya ketika membaca, skip di banyak paragraf  (ngga gitu parah kok, hanya paragraf kan? :)). Look at the bright side, saya bisa ngebut meyelesaikan buku ini dan lanjut ke buku ketiganya. 

Love triangle mulai menghiasi novel dystopia ini di buku kedua. Sayangnya, ke dua cowok itu ngga ada yang bisa saya masukkan sebagai Book BoyFriend kelak. Karakternya biasa saja, tidak ada beda yang mencolok dari karakter cowok jaman sekarang. Padahal genre dystopia ini settingnya bisa jadi puluhan atau ratusan yang akan datang. Apakah karakter manusia tidak akan berubah ya? Kecuali cara berpikir tentang gadget canggih dan penampilan fisik? Terutama di jaman Tally ini. Selain itu, di     kota (negara?) ngga adakah pemmpinnya selain Dr. Cable? Kenapa hanya ia dan gang-nya yang merasa terganggu dengah ulah Tally cs? Berbeda dari trilogy The Hunger Games, President Snow bisa jadi musuh bebuyutan bagi Katniss. Dr. Cable seolah bekerja untuk kepuasan dan dendam pribadi. Atau otak saya saja yang kurang memahami konsep dystopia atau konsep kota Rupawan Baru ini. Tauk deh ya.

Overall, ada beberapa kejutan yang terus terang ngga saya prediksi sebelumnya. Twist di bagiah akhir membuat saya sedikit melupakan target baca bulan ini ;)

2 komentar:

  1. Nggak suka dengan Tally di buku ke-dua ini.Lebih suka dengan Shay.
    Trus Zane? ehm... I'm in David team #eaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, Tally kan sudah nyebeli sejak awal? Hahaha... Orang kok wishy washy gitu, Plin plan... #tonjokTally

      Hapus