Jumat, 31 Mei 2013

Prom Night From Hell by Meg Cabot, Stephanie Meyer, etc




Paperback., 308 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama Agustus 2012
Rating 3.5/5

Pernah memimpikan malam prom yang romantic dan berakhir indah? Malam Prom bisa jadi adalah malam yang ditunggu sekaligus malam kutukan bagi mereka yang tak punya pasangan. Sekedar tembak pasangan, nampaknya bakal berakhir tragis, karena siapa tahu, pasangan kita ternyata adalah vampire yang sedang menyamar, seorang nabi, seroang wonder woman atau bahkan seorang titisan malaikat?

Meg Cabot membuka kisah Malam Prom dari Neraka ini dengan Putri Sang Pembantai. Mary, putri sang pembantai mendapat tugas dari ayahnya untuk membunuh vampire yang telah mengubah ibunya menjadi makhluk terkutuk selamanya. Adam, cowok yang diam diam naksir cewek baru di sekolahnya ini tak berpikir dua kali untuk mempercayai cerita Mary. Berbekal senapan berisi air suci dan kayu salib untuk mengalahkan sang vampire yang sudah berusia ratusan tahun, di sebuah pesta prom. 


Lauren Myracle menyambung cerita kedua dengan Korsase. Di awal kisah, ia sudah memperingatkan bahwa kisahnya ini diinspirasi oleh The Monkey’s Paw-nya W.W Jacobs yang terbit tahun 1902. Keinginan, memang adalah sesuatu yang bisa menyesatkan, apalagi jika keinginan itu tidak didasari keyakinan kuat. Frankie, Yun Sun dan Will adalah tiga serangkai sahabat yang sepertinya karena iseng mereka mendatangi seorang cenayang bernama Madame Z atau Zanzibar. Madame ini bisa memberitahu apa yang akan terjadi di masa depan. Rasa naksir Frankie yang kuat terhadap Will, tak membuat Will berani mengajaknya ke pesta prom. Kunjungan ke Madame Z inilah moment bagi Frankie untuk menunjukkan betapa kuat keinginannya Will bakal mengajaknya. 

Karena tidak terlalu banyak yang ingin diketahui, mereka bertiga malah menanyakan barang ajaib yang ada di ruangan Madame. Ketika mata mereka tertuju pada Korsase, ada semacam magnit menarik Frankie untuk memilikinya. Apalagi korsase iniu bisa mengabulkan 3 permintaannya, meski Madame Z sudah memperingatkan bahwa permintaan itu akan berhubungan dengan kematiaan. Frankie tak peduli, yang penting dia ingin, Will akan mengajaknya di malam prom. Will memang benar mengajaknya ke malam prom, sesuai keinginan Frankie yang pertama pada korsase. Dengan cara yang extra romantic pu;a, menulis ajakannya pada Frankie di menara air dengan cat semprot. Namun entah karena kecelakaan yang diakibatkan keinginan Frankie pada korsase, Will mengalami kecelakaan, dia jatuh, dan meninggal. Tinggal dua permintaan lagi, apakah Frankie akan menggunakannya dengan lebih baik atau konyol seperti yang pertama?

Kisah ketiga ditulis oleh Kim Harrison dengan judul Madison Avery dan Malaikat Maut. Hati-hatilah dengan pasangan prom-mu yang baru saja kau kenal, semakin menarik, semakin berbahaya. Mungkin ini yang dialami oleh Madison Avery di pesta prom ketika ia kesal pada Josh, pasangan yang dipilihkan ayahnya, dan lebih memilih Seth. Cowok baru di sekolahnya ini ternyata telah lama mengicar Madison sebagai tiketnya untuk ke level berikutnya. Apa itu? Ternyata, Seth ini adalah malaikat maut yang berkeliaran mencari korban, gadis berusia 17 tahun.

Muncul 2 malaikat lain, Barnabas dan Lucy, ketika Madison berada di kamar mayat sebuah rumah sakit. Batu jumat di kalung mereka membuat tubuh Madison serasa utuh, bukan hanya jiwa yang sedang gentayangan setelah tebasan pedang Seth. Disini muncul dialog yang membedakan antara malaikat maut an malaikat baik:


Malaikat jahat membunuh orang sebelum koin mereka dilempar, malaikat baik berusaha menolong orang itu, sementara malaikat maut adalah pengkhianat berbahaya…” (hal. 130)

 Setelah membunuh Madison, Seth masih membutuhkan jasad Madison untuk tiket lanjutnya. Sayang, Madison lebih gesit merebut batu jimat yang dipakai Seth, dan melesat kembali ke rumah bertemu ayahnya dalam kondisi segar, meski sang ayah sudah melihatnya terbujur kaku di kamar mayat.

Michele Jaffe melanjutkan kisah seru lainnya dengan Pengakuan. Miranda Kiss, gadis remaja dengan kekuatan super, mempunyai masalah dengan rasa percaya dirinya. Tubuhnya yang jangkung, tenaganya yang berlebih serta telinganya yang tajam, mampu mengetahui detak jantung seseorang, ketika ia berkata jujur atau pun tidak. Pertemuannya dengan Sibby Cumean di awali ketika Miranda menjemputnya di bandara. Kerja paruh Miranda adalah sebagai sopir Town Car. Sibby ini ternyata bukan penumpang gadis muda biasa. Kelakuannya sedikit menyebalkan, apalagi yang berhubungan dengan laki-laki manis yang sulit didapatkan Miranda. Ia dengan enaknya mencium para cowok2 itu selama dalam perjalanan menuju tempat penginapannya. Beberapa ia dapatkan secara gratis, yang lainnya ia membayar. Ckckckck… Di jalan, tempat parkir, toko, pokoknya dimana saja. Kelakuan ajaibnya ini membuat Miranda muak. Keinginannya segera berpisah, tertunda karena feeling akan adanya bahaya mengincar Sibby tiba tiba datang. Siapakah Sibby ini? Mengapa begitu banyak orang menginginkannya, bahkan dengan tebusan yang tidak sedikit. Di luar itu, Miranda yang selama ini diam-diam menjadi wonder woman dengan kekuatan super-nya  juga mendapat kecurigaan besar dari deputi setempat Santa Barbara. Dia bisa saja membantu kepolisian, tapi mengesalkan bagi para bandit. Perburuan terhadao mereka berujung di sebuah pesta dansa. Dibutuhkan kecerdikan untuk melepaskan diri sekaligus mengetahui jati diri Sibby yang ternyata berhubungan dengan sekte keagamaan tertentu. 

Stephanie Meyer menutup kisah pesta prom ini dengan Neraka Datang. Pesta dansa benar-benar ditunggu bagi para siswa sekolah Gabe. Gabe sendiri harus gigit jari karena pasangan dansanya melarikan diri ke pelukan orang lain. Celeste, bisa jadi adalah bintang pesta prom. Dia bisa enak saja nemplok sana sini sesuai keinginannya. Tak hanya Gabe, banyak pasangan lain yang harus menangis kelu kehilangan pasangan, atau bahkan adu jotos karena pasangannya direbut. Pesta prom yang dirancang menebar kebahagiaan, berjalan menyengsarakan. 

Sheba, gadis dari neraka-lah yang menjadi dalang semuanya. Ujian naik tingkat bagi para iblis ditentukan berhasil atau tidaknya ia menebar kesedihan, atau lebih bagus lagi menebar kericuhan, seperti meletusnya pistol. Ambisi Sheba ini harus berhadapan dengan Gabe, yang meski sempat patah hati, ternyata tak membuatnya bersedih hati. Rasa kasihnya memancar di mata biru pucatnya, menyapu Sheba, dengan gaun menyalanya, bagai api neraka. Akankah api yang ditebar Sheba segera padam atau sebaliknya, apinya juga membakar Gabe?

Comments:

Jauh sebelum saya membaca printed-nya, saya sudah memiliki ebook versionnya. Hal yang menarik saya adalah senjata yang dipakai Mary untuk melawan vampire, Drake, Excalibur Vixen 285 FPS. Sayangnya, menurut saya, Meg terlalu gampang mengakhiri pertempuran melawan vampire ini. Terlalu dangkal, terlalu cepat berakhir. Jika dibandingkan dengan cwerpen lainnya yang menghabiskan lebih banyak halaman, dan ceritanya-meski menggantung-tapi menggantung dengan masuk akal. Meg seakan terlalu terburu buru. Sosok heroine-nya sangat khas Meg, yang seperti biasa, saya suka. 

Kisah korsase ini-saya akui memang sangaaatt horror- tapi sedikit banyak mengingatkan saya akan cerita cerita dalam Friday the 13th, bertahun yang lalu. Adanya barang kutukan yang akan memangsa si empunya adalaah suaatu hal yang biasa. Untungnya, deskripsi ketegangan sangat terasa,terjemahan yang baik juga sangata membantu menciptakan suasana horror disini.

Terus terang, saya kurang suka dengan cerita yang berhubungan dengan malaikat. Mungkin karena pemahaman agama saya yang tidak memungkin adanya malaikat yang berkeliaran dengan tubuh manusia, maka kisah Kim Harrison dan Stephanie Meyer ini menduduki 2 terendah dalam posisi 5 kisah dalam prom ini. OK lah, jika ingin menggambarkan iblis dalam bentuk manusia macaam Sheba, tapi kisah batu jimat untuk hidup kembali, kurang bisa saya terima. OK lah juga jika ini kan hanya sekedar cerita dan penilaian saya yang sangat subjektif. 

Pada awalnya, saya kurang bisa menikmati kisah Pengakuan. Segala singkatan buatan yang sangat ajab, terasa konyol di awal tapi lama-lama unik juga. Miranda tak ubahnya Superman atau Spiderman yang menyembunyikan kekuatan supernya di balik topeng gugup, kurang percaya diri dan sekali waktu tampil menjadi pahlawan. Sayangnya, topic utama mengenai pesta tidak terlalu di ekspose disini. Hanya di bagian akhir kisah dimana para tokohnya bertemu di sebuah pesta yang terkesan hanya selewat saja.

Well, overall, saya cukup menikmati semua kumcer disini. Tidak seperti dua kumcer sebelumnya, Maggie Tiojakin dan Chitra Banerjee Divakaruni yang sangat susah menulis reviewnya, kumcer ini sangat ringan hingga tidak begitu sulit untuk menulis reviewnya. Dan yang jelas, saya jadi mengenal beberapa nama penulis baru yang ingin saya cicipi bukunya kelak.

PS:

Posting ini untuk meramaikan posting bareng BBI bulan Mei dengan tema kumpulan cerpen

6 komentar:

  1. jadi tertarik juga nih...terutama yang kisah mirip friday the 13th itu..untung jamanku dulu belom ada prom, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, iya, untunglah, jamanku juga belum ada prom. Bisa mati kutu ngga punya pasangan #curhat

      Hapus
  2. aku nggak suka ama permainan covernya :( kerasa seremnya

    BalasHapus
  3. wowowowo..

    sepertinya seru, nih..

    #note #cariepub :D

    BalasHapus