Senin, 23 September 2013

Scene on Three #4: Wonder by R. J. Palacio






Kami melambaikan tangan saat Dad menyalakan mobil dan mulai bergerak, tapi setelah itu aku berlari menghampirinya dan menghentikan mobilnya. Aku melongokkan kepala melalui jendela agar Jack tak mendengarku.

“Bisakah Mom dan Dad tidak terlalu banyak menciumiku sepulang kelulusan?” aku bertanya pelan, “Itu agak memalukan.”

“Aku akan berusaha sebisa mungkin.”

“Beritahu Mom juga ya.”

“Kurasa Mom tak akan sanggup menahan diri, Auggie, tapi aku akan menyampaikannya.” (hal. 399-400)


Adegan diatas mengingatkan saya pada suatu waktu, ketika saya berada di kelas dua atau tiga SD. Ketika itu saya masuk sekolah sore dan kebetulan sekolah saya terletak sangat dekat dengan rumah. Sehingga sering kali saya pulang ke rumah ketika istirahat sekolah. Sesekali pula beberapa teman saya ikut mampir ke rumah. Saat itu, ayah saya sudah berada di rumah sepulang dari kantor ketika saya dan teman saya sampai di rumah. Ayah saya yang hobi sekali duduk di teras depan, membaca koran, seringkali memanggil saya tiba tiba. Nah, pada saat itu, ayah saya memanggil dan ketika saya mendekat, ayah saya menciumi pipi saya. Saya yang merasa bahwa hal itu adalah hal yang biasa, tak merasakan apa-apa. Tapi ternyata, keesokan harinya, teman saya menceritakan peristiwa ciuman ayah saya ini pada teman teman di kelas. Dan ternyata mereka menganggap ini adalah hal yang menggelikan. Beberapa teman kemudian mempraktekkan ayah saya memanggil yang selalu saya jawab “Sayaaaaaa…”. Dan ini juga lucu buat mereka, karena di Semarang, mereka biasa menjawab panggilan orangtua dengan “Dalem”. Karena orangtua saya bukan orang Jawa, maka jawaban itu adalah jawaban yang saya dan saudara2 saya yang lain berikan. Padahal, setelah saya merasa malu beberapa hari dengan jawaban “Saya” itu, saya katakan pada mereka bahwa arti dari “Dalem” itu sama persis. Masalah cium di depan umum itu, saya mulai jengah jika dilakukan di depan teman teman saya. Duh….. Ternyata Auggie juga mempunyai perasaan yang sama. Dan konyolnya, berbelas tahun kemudian, ketika saya mempunyai keponakan perempuan yang saat itu duduk di Sekolah Menengah Umum, juga merasa jengah tiap kali mamanya menciumnya di depan pintu gerbang sekolah sebelum masuk sekolah. Sebagai tante-nya, saya pun tak kalah melakukan aksi cium di depan umum padanya. Di bioskop, atau ketika kami jalan di satu tempat. Dia tak terlalu memasalahkan ini sih, mungkin selama tidak dilakukan di depan orang-orang yang ia kenal hahaha.

Well, siapa sih orangtua yang tidak suka menciumi anak sendiri? Hahaha…. 

Pengen ikutan scene on three? Ikuti ini yaaa...


  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

 

4 komentar:

  1. Dehhh...sama mbak, ayahku juga suka 'cipika-cipiki' :D kemenakanku yg usia 4 tahun skrg malah lsg 'aksi-protes' elap pipi abis dicium :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha... Anak sekarang ya. Main elap aja. Kayak kita nyium pake ingus aja wkwkwk...

      Hapus
  2. hahahaha.. kenapa mereka merasa 'malu' yaa kalau dicipika-cipiki githuu? apa karena diledek ama teman2nya? :D

    BalasHapus
  3. hehe, sayang ya kalo sesuatu yg baik jadi tabu gara2 takut dibully teman

    BalasHapus