Sabtu, 26 Oktober 2013

Looking For Alibrandi – Mencari Jati Diri by Melina Marchetta




Paperback 325 pages
Published July 2004 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Monika Dwi Chresnayani
Rating: 4/5

Agama, budaya, kebiasaan adalah hal yang tak bisa dilepas, dimanapun kaki melangkah…

Josephina ALibrandi, remaja temperamental 17 tahun, selama hidupnya harus beradaptasi dengan keadaan sosialnya yang cukup rasis. Josie lahir dari ibu Italia dan tumbuh besar di Australia. Secara fisik, dia adalah seorang Aussie, namun secara adat budaya, dia adalah seorang Italiano. Nonna—neneknya, dan ibunya mengajarkan bahsa Italia dan segala pernak pernik budaya Italia padanya.  Panggilan rasis – wog, sering melekat padanya. Ini masih diperparah dengan keadaan status ibunya sebagai ibu tunggal yang tak jelas siapa suaminya. Lengkap sudah Josie menyandang wog yang menyebalkan itu.


Meski kondisi soailnya yang kurang ramah, tidak menghentikan Josie menjadi murid cerdas. Berkat beasiswa, dia masuk di sekolah Katolik St. Martha’s. Perannya sebagai murid berbakat, membawanya ke beberapa kompetisi debat dan membawanya mengenaal John Barton, rival-nya dalam debat sekaligus sahabat baiknya. Meski menaruh simpati yang dalam, Josie akhirnya menjatuhkan pilihan hatinya pada Jacob Coote, cowok berpenampilan mirip preman yang bersekolah di Cook High. Bisa dibayangkan ‘berwarnanya’ hidup Josie dengan orang orang yang mengelilinginya. John Barton dengan bakat debatnya dan kecerdasannya namun menyimpan kepahitan hidup sebagai putra politisi terkenal yang tak memberinya banyak pilihan; Jacob Coot dengan sikap slengeannya, yang hidup tanpa budaya dan agama selama ia mematuhi peraturan Negara sering kali bertabrakan dengan Josie yang masih membawa budaya ketat neneknya; ibunya, Christina, yang mulai berkencan dengan dokter, yang membuat Josie senewen karena ia tak mau membagi ibunya dengan orang lain; suster kepala yang seolah mencapnya sebagai murid bermasalah; dan ayahnya, Michael Andretti yang belakangan baru menyadari bahwa dirinya mempunyai seorang anak remaja 17 tahun, yang sangat hobi mengritiknya. 

Membaca novel karya Melina Marchetta yang pertama ini membuat saya jtuh cinta. Bukan hanya issue seputar budaya Italia, rasisme, namun juga emosi remaja 17 tahun yang hidup antara budaya neneknya dan lingkungan social yang mulai bebas. Saya juga pernah mengalami masa remaja, dan kebanyakan para remaja, selalu mengalami emosional roller coaster, terutama pada saat menjelang ujian sekolah dan memasuki masa kuliah awal semester. Josie tak lebih adalah wakil remaja cerdas bermasalah yang melampiaskannya dalam bentuk kritik pedas terhadap siapa saja; ibunya, ayahnya, neneknya, John Barton, Jacob, bahkan para suster di sekolahnya. Kritiknya terkadang membuat saya gemas, bagaimana mungkin seorang cucu demikian kasar pada neneknya atau anak pada ayah ibunya. Well, kediupannya selama 17 tahun dengan menyandang predikat anak haram dan pendatang yang belum juga bisa diterima di lingkungan sosialnya membuatnya menyimpan kritis pedas semacam itu.

Seperti yang saya katakan tadi, ini adalah pertemuan saya yang pertama dengan Melina Marchetta, yang namanya cukup kondang diantara para teman di BBI. Tak heran, gaya bahasanya sangat cerdas dan kritis sekaligus konyol. Beberapa kali saya tergelak dengan dialog2nya. Penerjemahnya juga melakukan tugasnya dengan baik. Ketika saya bandingkan dengan filmnya yang hanya berdurasi 1 jam 38 menit, sangat jauh kualitasnya. Well, semua pasti sudah mafhum dengan novel yang dilayarlebarkan. Tak akan pernah sebagus cerita novelnya. Dalam novel, terkadang saya senewen dengan tingkah laku Josie yang terkadang menyebalkan dengan menyerang banyak orang dengan kritikannya. Emosinya sangat terasa, sementara di filmnya, Josie yang pemarah hanya terlihat di menit menit pertama. Selanjutnya, dia cukup gampang tersenyum dengan ayahnya dan Jacob Coot serta neneknya yang kolot. Yang menjadi unik dari film ini adalah logat para pemainnya yang sangat kental logat Aussie mereka. Terdengar seksi tapi susah dimengerti tanpa teks hahaha…

7 komentar:

  1. terbitan tahun 2004 ya. kayaknya bakal sulit deh nyari bukunya di toko buku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga dapat di matraman, gramed fenomenal itu, pan. 15k saja :D

      Hapus
  2. bukan di matraman Mbak Lila, di Blok M. Kan itu buku second, hehe...

    BalasHapus
  3. Ah..ini salah satu teenlit kesukaanku. Sayang ratingnya di Indo drop yaa.

    Btw mbak Lila, menurutku logat Aussie lebih gampang dimengerti ah. Yaa...lebih gampang daripada British lah X)

    BalasHapus
  4. Lulu: oiya ya? Mau balas komen diatas mosok kudu kirim message ke Lulu dulu hihihihi...

    Dewi: Waaahhh... menurutku Aussie ini agak aneh, lebih susah dibanding British meski British juga susah. Lebih susah lagi British aksen Irish #Merliiinnn... :DD

    BalasHapus
  5. jangankan british sama aussie, memahami logat amrik biasa saja aku suliiiit. *ter-TVRI*

    BalasHapus