Kamis, 28 November 2013

Warna Tanah by Kim Dong Hwa (Trilogi Warna #1)




Paperback 320 pages
Published (in Indonesian) 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa: Rosi L. Simamora
Rating 4/5

Buku ini dibuka dengan adegan rumpian dua orang laki laki yang tengah melihat dua kumbang sedang berkelamin. Mereka menganalogikannya dengan hubungan pria dan wanita serta menyebut ibu Ehwa, seorang gadis kecil yang kebetulan tengah lewat. Mereka menyebut ibu Ehwa yang janda sebagai wanita, layaknya kumbang betina, yang akan berkelamin dengan siapa saja. Ugh…

Adegan berikutnya adalah anak2 laki laki kecil beradu siapa yang bisa kencing paling jauh. Ehwa, yang kebetulan berada di dekat mereka, sempat memperhatikan. Komentarnya hanya satu, “Kenapa ada burung di dalam celanamu, padahal seharusnya dia berada di sawah?” dan kedua anak laki laki pun terkejut dan bertanya penasaran kenapa Ehwa tak punya dan ingin membuktikan. Gawat, pikir saya. Tapi ternyata adegan berikutnya tidak seperti pikiran ngeres saya hahaha…

Ehwa, gadis berusia 7 tahun tinggal berdua dengan ibunya di kota Namwon. Ibunya yang mengelola sebuah kedai minum sering kali harus menahan diri dari godaan laki laki iseng yang datang ke kedainya. Ehwa, bertumbuh dewasa seiring semakin matangnya sang ibu. Musim demi musim mereka lalui dengan perbincangan seputar hubungan pria wanita dengan kiasan bunga bunga atau tumbuhan yang tumbuh di sekitar mereka. 


Ibu: Apakah menurutmu manusia dan pohon sama? Makhluk yang dapat berpindah tempat menggunakan tubuh mereka untuk memberikan benih untuk membuat bayi.”
Ehwa: Tapi aku menyukai cara pohon ginko membuat bayi—Bagaimana mereka hanya perlu saling memandang untuk membuat sangat banyak bayi.
Ibu: Itu karena kau masih kecil. Dengan penuh kebahagiaan kau akan menerima benih si bayi dan melalui rasa sakit kau akan melahirkan seorang bayi. Tapi inilah yang membuatmu menghargai dan menyayangi anakmu.

Sama halnya dengan anak perempuan kecil lainya, Ehwa mengalami cinta monyet yang lucu dengan seorang anak bhiksu. Kembali bunga bunga di musim semi menjadi saksi perasaan mereka. Kali ini bunga hollycock dan tiger lily menjadi symbol perasaan mereka. Sementara sang ibu, menjadikan bunga labu sebagai bukti cintanya pada seorang tukang gambar yang kebetulan menginap di rumahnya. Bunga labu mekar di malam hari ketika semua orang telah tertidur. Dari jutaan bunga di dunia, tak ada yang seperti bunga labu. Bunga labu merekah hanya ketika semua orang telah tertidur. Menghias dirinya dengan warna putih yang diciptakan debu bulan, bunga labu dengan penuh hasrat menantikan kekasihnya sepanjang malam (hal. 76).

Kisah dari buku pertama trilogy Warna ini sangat sederhana namun penuh dengan illustrasi yang indah dan pesan pesan dari ibu untuk anaknya yang tengah beranjak dewasa. Tidak jarang kelucuan dan kekonyolan juga muncul tidak dalam kata kata melainkan dengan bahasa gambar. Meski tanpa warna, pembaca akan tahu warna yang cocok di sebuah scene: keindahan bunga hollycock yang berwarna merah jambu, kapan wajah2 para tokoh utama ini merah padam karena malu dan keindahan alam musim semi. Sayangnya, bahasa gambar yang dillustrasikan oleh Kim Dong Hwa sesekali terlihat vulgar untuk budaya Indonesia (bukan budaya Asia karena Korea juga di Asia :D). Hubungan ibu Ehwa dengan tukang gambar tergambar jelas apa yang sedang mereka lakukan di kamar di malam malam hujan. Duuhh… kaget saya ketika melihat adegan ini. Tulisan peringatan di sampul belakang novel ini Novel Grafis Dewasa sedikit membingungkan jika pembaca membuka di awal adegan bagian Ehwa dan teman2 laki lakinya. Lucu dan khas anak anak, begitu pikir saya. Tapi saya lupa, di lembar sebelumnya, ada percakapan dua orang dewasa yang membahas tentang kumbang yang berkelamin.   :D

Overall, saya suka dengan gravel ini. Banyak sekali tradisi dan kepercayaan local Korea yang diperkenalkan disini melalui catatan kaki. Si Alih Bahasa bekerja dengan sangat baik menerjemahkan gravel. Ini. Sebagai penikmat Korean drama, saya jadi ingin tahu, bahasa halus tingkat berapa yang mereka gunakandalam perbicnangan? Bahasa Korea tak ada uhanya dengan bahasa Jawa dengan tingkatan kromo-nya dengan orang yang lebih tua. #abaikan… :D

Note:
Postingan ini disertakan dalam Posting Bareng BBI bulan November 2013 dengan tema Novel Grafis

2 komentar:

  1. Again, love Kim Donghwa works, booth stories and arts :D
    Kapan2 baca ulang ah, blm buat reviewnya lagi :D

    BalasHapus
  2. pingin baca buku2nya kim donghwa deh...belum pernah sama sekali :(

    BalasHapus