Kamis, 31 Januari 2013

The Time Keeper – Sang Penjaga Waktu (Mitch Albom)


Paperback. 312 pages
Published November 2012, by Gramedia Pustaka Utama
Rating 4/5

Which one is easier for you to do; managing time or money?

Saya sering sekali menanyakan pertanyaan ini pada murid2 saya, terutama jika topic pembahasan adalah money atau time. Sering kali saya mendapat jawaban yang berbeda-beda, tergantung pada siapa saya menanyakan pertanyaan ini. Pada siswa SMA, mereka biasanya menjawab, managing money is harder than managing time. Ya iyalah, anak abege jaman sekarang, siapa ngga suka nge-mall? Sementara untuk mahasiswa, mereka rata-rata memohon lebih dari 24 jam sehari demi mengerjakaan tugas2 kampus ini dan itu. Untuk pekerja, rata-rata mereka juga kekurangan waktu bersenang-senang karena kesibukan bekerja. Bagaimana dengan saya?

Saya bekerja rata-rata 6-7 jam sehari, termasuk di hari Sabtu. Well, rata2 saya mempunyai jam aktifitas yang hampir sama setiap harinya. Saya bahkan punya waktu untuk tidur siang, suatu privilege buat para pekerja. Tapi sering kali saya terburu-buru melakukan ini karena terlalu lama melakukan itu. Parahnya, saya mengalahkan hal penting  demi melakukan hal yang kurang atau bahkan ngga penting sama sekali. Alasannya, hanya buat sesekali senang-senang saja. Huh… sepertinya saya kudu bertemu dengan Sang Penjaga Waktu.

Jumat, 25 Januari 2013

Here Lies Bridget by Paige Harbison

Ebook format, 224 pages
Published February 1st, 2011, by Harlequin Teen
Rating: 4/5 stars

Tiada yang tak kenal Bridget Duke di lingkungan sekolahnya. Cantik popular, anak dari penyiar acara olahraga ternama, Richard Duke. Sayangnya, kepopulerannya membuahkan caci maki di dinding kamar mandi sekolah. Bridget yang merasa dirinya dicintai, seua perintahnya dipenuhi, tak ada yang berani mengatakan ‘Tidak’ padanya merasa shock. Bahkan Michelle, sahabat terdekatnya pun memilih meninggalkannya. 

Semua bermula dari kemunculan Anna Judge di sekolah. Anna tiba-tiba merenggut kepopuleran Bridget, bahkan mengambil Liam dari sisi Bridget. Semuanya tiba-tiba memusuhi Bridget. Masalah dengan Mredith, ibu sambungnya, Mr. Ezhno, guru komputernya, serta sahabat karibnya, Michelle, memicu Bridget untuk mengakhiri hidupnya. Dia dapatkan kembali kekuasaannya, meski hanya pada kekuasaan atas mobilnya. Dia injak pedal gas kuat-kuat. Dia ingin tahun, ada berapa orang yang bakal menangisi kepergiannya, berapa banyak orang yang merasa kehilangan atas dirinya, betapa orang-orang akan menyesal akan apa yang telah mereka lakukan terhadapnya. Tapi ternyata Bridget salah… Mobilnya menghantam pohon dengan keras, tapi dia tetap hidup tanpa luka sedikitpun. Dia dapati Anna di depannya. Tersenyum. Dan orang-orang yang dekat namun paling sering disakiti olehnya: Meredith, Michelle, Ezhno, Brett, Liam…

Kamis, 17 Januari 2013

Harry Potter and The Philosopher’s Stone

Paperback, English version, 332 pages
First edition published 2000 by Bloomsburry publishing
Rating 5/5


Bagi pembaca buku, siapa saja, genre apa saja, saya yakin seyakin-yakinnya dia pasti kenal Harry Potter. Entah dia baca atau tidak, gaung ke-ajaib-an Harry Potter pasti pernah ia rasakan. Sekitar tahun 2001, saya pernah mencoba menolak pesona Harry Potter ketika seorang teman bercerita betapa susahnya antri novel ini di sebuah book rental dekat kampus. Saya yang waktu itu awam tentang novel JK. Rowling ini cuek saja. Saya mulai tertarik ketika teman2 kantor saya juga heboh. Peminjaman antar teman pun juga ngga kalah antri dengan di rental buku. #sigh

Saya yang akhirnya kebagian meminjam entah di giliran yang ke berapa baru tahu mengapa buku ini begitu ajaibnya. I was under its spell literally!!! Seingat saya, saya membaca 4 judul pertama Harry Potter ini sekaligus. Saya juga mengalami penyakit yang sama yang beredar para potterhead, Hogwart headache!! Saya shock setelah membaca akhir cerita di Goblet of Fire, dan menyadari bahwa ini bukanlah buku untuk anak-anak. #telatkalinyadarnya…. 

Harry Potter, yatim piatu setelah ditinggal orangtuanya, James dan Lily Potter, harus tinggal bersama paman dan bibinya, Uncle Vernon dan Aunt Petunia. Harry tumbuh bersama Dudley si Gendut Dursley yang sering kali mem-bully Harry dengan menjadikannya sangsak tinjunya dan tempat sampah untuk baju-bajunya yang kesempitan. Harry tak pernah bermimpi bahwa dia adalah seorng penyihir yang namanya sudah terkenal di dunia non Muggle—sebutan untuk non penyihir. Setelah surat undangan bersekolah di Hogwarts, Harry baru tahu potensi dirinya, masa lalu orangtuanya sekaligus masa depannya sebagai penyihir.

More and More Reading Challenge 2013. Anyone? :D


OK, it’s been a dilemma for me to add some more reading challenge (RC) this year 2013. In my previous post, I told you that it’s possible for me to add some reading challenge. But at that time, I didn’t know that I would be feeling like adding some more—what is it? It’s not a burden since I love reading, but it feels like I’m being arrogant to join the number of reading challenge. But then, I found out that some piles of my to-be-read books meet those requirements of my new RC. So, I finally decided to…… add some more reading challenge.

I committed to join: Eiji Yoshikawa RC, Children Literature RC and Hotter Potter RC. Then, since some awesome generous friends of mine held new RC, I can’t stand still looking at the RC without taking part in them. So here they are, my new RC:

Jumat, 11 Januari 2013

BELIEVE – VICTORIA ALEXANDER


Ebook format, 300 pages
Published July 1, 1998 by Love Spell
Rating 3,5/ 5 stars

Ada banyak argument seputar keberadaan legenda Raja Arthur dan Satria Meja Bundar-nya. Dari banyak argumen itu, saya lebih memilih berada di tengah-tengah. Bisa saja Arthur benar-benar ada lengkap dengan para satrianya, dan memberi warna sejarah Britania Raya. Namun apakah sejarah yang beredar itu sama persis dengan yang tertulis di banyak situs, saya kurang peduli. Saya hanya peduli bahwa saya suka banget serial Merlin dari BBC yang baru-baru ini usai di season-nya yang ke-5. Dari serial itu pula, saya menggali berbagai resensi seputar Arthurian Legend. Selain menonton film yang berhubungan dengan legenda yang bersangkutan, saya menemukan ebook ini, yang masih nyangkut dengan Merlin and his magic. 

Tessa St. James, seorang dosen Sejarah (?) undergraduate tidak pernah percaya segala sejarah yang berhubungan dengan legenda Arthur. Sebaliknya, dia percaya itu hanya legenda, mitos seperti halnya para dewa-dewa Yunani. Dia selalu menyatakan pada audiens di kelasnya bahwa cerita Arthur adalah legenda, dongeng sebelum tidur. Hingga muncullah sosok mirip Fred Astaire di salah satu kelasnya dan mendebat kuliahnya. Hidup Tessa berubah 180 derajat setelah ia menemukan buku berjudul My Life and Time: The Story of Merlin, Wizard Extraordinaire and The Counselor to Kings. Di perpustakaan kampus yang sepi, Tessa terjebak dalam gambar-gambar hidup para ksatria Meja Bundar, menyeretnya ke sebuah kapel tua, dimana seorang ksatria sedang berlutut tak bergeming… 

Selasa, 01 Januari 2013

Journey- From Jakarta to Himalaya (Gola Gong)

Paperback, 243 pages
Published April 2088 by Maximalis
Rating: 3,5/ 5 stars

Ada berapa banyak perjalanan yang sudah kita lalui? Perjalanan, baik secara fisik maupun spiritual? Saya yakin, dari sekian banyak perjalanan itu, ada satu dua atau bahkan banyak yang membekas dalam ingatan, tak bakal lekang oleh kisah perjalanan lain yang menanti di masa datang.

Terobsesi dengan novel Mengelilingi Dunia dalam 80 hari dan Tom Sawyer, Gola Gong kecil menginginkan perjalanan yang sama. Dia jelajahi dari mulai perkampungan di kotanya, hingga penjuru Nusantara, dan melebarkan sayapnya ke penjuru dunia. Tak ada yang bisa mencegah Gong kecil ini, menyusuri jalan2 di Malaysia dengan sepeda gunungnya, hingga Thailand, Laos, India, hingga Pakistan. Sesekali ia mengambil hal2 yang mengingatkannya pada Nusantaranya, secara positif ataupun negative. Semeriah2nya Kuala Lumpur, tak ada gejolak berarti dari para abege-nya. Semua berjalan bergegas seperti robot. (hal. 39). Budaya pamer taka da dalam kamus penduduk Thailand. Mereka menggunakan mobil atau kendaraan sesuai dengan fungsinya:  memboyong hasil bumi dari sawah ke pasar. Kebutuhan sekunder seperti TV, lemari es bukan jal yang bisa dipamerkan, tidak seperti budaya pamer di Indonesia.