Sabtu, 04 Oktober 2014

#32 Negeri Senja by Seno Gumira Ajidarma


Paperback, 244 pages
Published 2003 by Kepustakaan Pustaka Gramedia (KPG)
Rating 3,5/5

Syahdan, ada sebuah tempat dimana matahari tak pernah tergelincir ke peraduannya, dan tak pernah terbit terang di pagi dan siang hari. Tempat itu bernama Negeri Senja, sebuah negeri dengan pemandangan redup sore hari, sebuah negeri yang selama beratus tahun menanti kedatangan seseorang yang akan menyingkirkan kutukan negeri dengan naungan senja sepanjang masa.

Syahdan, datanglah sang pengembara yang penasaran dengan Negeri Senja, yang selalu mencatat keindahan, kemustahilan, dan kejahatan yang melanda Negeri dengan bahasa khusus Negeri Senja. Apakah sang pengembara ini adalah sosok yang ditunggu para penduduk Negeri Senja. Ternyata bukan, dan saya kecewa.


Syahdan, negeri berbalut senja ini dipimpin oleh Puan Tirana, sang Penguasa yang Buta. Meski buta, Puan Tirana ini telah memimpin negeri ini selama lebih 200 tahun! Sang Puan ini didampingi para Pengawal Kembar dengan senjata rahasia yang siap membabat siapa saja yang berniat menggulingkan sang Penguasa yang buta. Berada di bawah pimpinan sang Puan yang konon bisa membaca pikiran para penduduknya hingga memenjarakan jiwa-jiwa yang telah melayang untuk disiksa karena berniat menggulingkan pemerintahannya. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi negeri penuh senja ini, bahkan pikiran pun bisa dibaca sang penguasa bagaimana dengan bisik-bisik rencana makar?

Syahdan, diantara penduduk yang diam tunduk terhadap kekuasaan sang Tirana, terselip cikal bakal pemberontak seperti Rajawali Muda dan Komplotan Pisau Belati. Yang disebut terakhir bisa saja saling bermusuhan tergantung mereka bekerja untuk siapa. Yap, komplotan pisau belati ini akan bekerja bagi siapa saja yang berniat menggunakan jasanya. Sang Pengembara, sebagai pendatang, memposisikan diri seutuhnya sebagai tamu, tak lebih. Hingga suatu hari, komplotan fakir miskin memberinya kesempatan untuk membantu perjuangan penduduk tertindas. Apakah sang pengembara kemudian menjadi pahlawan dengan menumpas kekuasaan tiran Tirana? Hmmmm...

Syahdan, terjadi juga suatu perubahan di Negeri Senja dengan datangnya sang Pembicara yang mangkal di tepi sungai. Sang Pembicara ini sukses didatangi para penduduk yang kemudian menjadi para murid bertempat di tepi sungai. Para murid alias penduduk yang tak pernah mengenal ilmu bebas bertambah dari hari ke hari.  Sang Pembicara itu membangun sebuah dunia penuh kedamaian. Para pendengarnya bagaikan terbangun dari tidur yang panjang dan baru menyadari betapa dunia ini penuh dengan makna (hal. 125) . Khotbahnya diamini para murid yang terus bertambah dari hari ke hari. Negeri ini seperti bangun dari mimpi panjang, dengan mencatat banyaknya perubahan yang terjadi sejak kedatangan sang Pembicara di Tepi Sungai: penduduk mulai membuka kerudung penutup wajah, hingga terlihat senyum mereka, pasar tak lagi lengang, diisi dengan atraksi musik, badut, atraksi akrobat, tari-tarian dsb, mereka seolah tak peduli dengan mata-mata istana Negeri Senja. Apa yang bisa dilaporkan sekaligus dicurigai dari aktifitas yang normal di negeri lain, tapi tidak di Negeri Senja?

Konon, dan hanya konon, pemberontakan pun terjadi. Tumpah darah di tanah kering Negeri Senja yang temaram. Sang Puan Tirana yang bengis menghadapi pemberontakan rakyatnya...

***

Sebetulnya sedikit galau menganggap Negeri Senja ini sebagai kategori cerita silat. Sang Pengembara yang bercerita tak memiliki kemampuan kanuragan seperti kisah-kisah dalam cerita silat pada umumnya. Dia hanya berkisah yang ia tujukan pada dua perempuan yang menghuni hatinya: Alina dan Maneka. Bahkan, di goodreads review, genre buku ini masuk Roman. Teman saya mengatakan ini masuk kategori surealis. Bingung lah saya. Tapi sepanjang membaca, saya terus mencari unsur-unsur silat di dalam novel ini. Semakin jauh, saya semakin yakin bahwa Negeri Senja masuk kategori cerita silat dengan beberapa kekurangan seperti yang saya sebutkan tadi. Meski demikian, pertarungan antara tentara Sang Puan Tirana dan para pemberontak yang banyak menggunakan senjata rahasia serta belati yang melayang-layang, ditambah dengan kostum para karakter yang terilustrasi di halaman awal, semakin meyakinkan genre novel ini :D



Ini adalah pertemuan saya yang kedua dengan Seno Gumira Ajidarma (SGA). Sebelumnya, saya pernah membaca kumpulan cerpennya yang berjudul Matinya Seorang Penari Telanjang. Dan saya sukses bingung dengan bahasa sastra serta keabsurdan tulisannya. Hahaha.... Dan saya berpikir, mungkin kisah roman ini akan lebih mudah saya pahami dibandingkan dengan kumcer itu. Dan, saya salah. Well, sebenarnya Negeri Senja ini cukup menarik dan membuat saya penasaran, namun apa daya, narasi panjang-panjang serta monolog sang pengembara sukses membuat saya tekluk-tekluk tiap 3-4 halaman ;D

Awalnya, saya sedikit repot dengan gambaran penulis tentang negeri yang tak pernah mengenal pagi, siang atau malam. Hitungan haripun menjadi kacau. Benarkah Tirana memerintah negeri ini sudah lebih dari 200 tahun?  Lambat laun, saya cukup terbius dengan keindahannya melalui deskripsi penulis. Beberapa karakter baik protagonis atau antagonis seolah menyindir sebuah negara yang cukup familier. Sebuah negara yang dipenuhi intrik politik, penindasan dan tentu saja perlawanan.

Aku terbangun di kamar penginapan dengan kelebat kesadaran bahwa penindasan akan selalu mendapat perlawanan -- meskipun perlawanan itu hanya akan ada di dalam pikiran  (halaman 101).
Tak hanya di sebuah negara, namun di lingkup kecil keluarga pun, terkadang ketidakpuasan akan sebuah keputusan tak selalu berbuah perlawanan real, namun hanya berkecamuk dalam pikiran.

Overall, saya cukup menikmati kisah setengah absurd dari SGA ini. Entah apakah saya akan membaca buku karyanya yang lain, saya kudu menyiapkan hati, mood dan otak prima :D


Posting ini saya sertakan dalam posting bareng BBI bulan September dengan tema cerita silat. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar