Sabtu, 30 Agustus 2014

(30) Ho(s)tel 2 by Ariy dkk






Paperback, 214 pages

Published Bentang Pustaka Juni 2014

Rating 3,5/5


Pernah menjadi traveler dengan bujet minim? Pernah menginap di hotel dengan fasilitas roomate absurd? Ato pernah punya masalah dengan fasilitas atau petugas ho(s)tel? Kalo belum, silahkan baca buku tipis ini, jika sudah, silahkan tulis pengalamanmu, siapa tau nanti bakal ada ho(s)tel 3 :D


Selama membaca buku ini, yang terbayang adalah tempat-tempat penginapan yang pernah saya inapi selama perjalanan piknik ataupun non piknik. Cukup bersyukur atas apa yang saya dapatkan dengan fasilitas yang diberikan meski beberapa terselip hal yang cukup mengganggu. Paling tidak saya tidak perlu terjebak dalam Toilet Labirin yang bikin merinding. Bayangkan, hanya untuk keluar dari toilet harus melewati pintu-pintu tak ada habisnya selama 15 menit! Belum lagi adanya Persahabatan Absurd yang absurd dalam arti sebenarnya. Bayangkan mempunyai teman kamar tak kasat mata  yang hobi banget nulis sms dan memindah barang itu tentu bukan sesuatu yang menyenangkan. Apalagi punya teman kamar yang hobi joged, senam dan push-up dengan CD Hitamnya. Ffiuh... No way. Coba kalo misal si teman tak dikenal ini nyadar kalo jadi tontonan gratis, trus dia minta bayaran ato minta kita juga joged, senam pake CD masing -masing? Duuhhh... :D


Ketika menulis review ini, saya jadi teringat dengan pengalaman saya waktu menginap di Jogja dulu. Begini ceritanya, saya dan  teman-teman saya menginap di sebuah-apa ya, losmen?-di daerah yang dianggap 'abu-abu'. Saya lupa apa namanya. Saya dengar jika menginap disitu, maka siap-siap saja dengan 'gangguan' di tengah malam. Saya tak percaya. Lagi pula saya pergi bersama rombongan yang beberapa diantaranya mengaku bisa 'melihat' yang tak terlihat. Masak mereka mau cuek saja si tukang ganggu tengah malam ini mengganggu kamar saya dan satu teman saya yang lain? Eh, ternyata benar ada gangguan, sodara-sodara. Pintu kamar saya diketuk-ketuk cukup lama. Saya hanya berpikir kalo ini hanya ulah iseng teman saya. Esok paginya saya protes ke mereka, para bapak-bapak yang mungkin menggoda saya tadi malam. Ternyata mereka juga mengalami hal yang sama. Usut punya usut, ternyata yang mengetuk pintu-pintu kita tadi malam adalah penawaran 'servis ekstra' dari ‘pekerja sosial’ dalam bentuk pijat atau pijat plusss.... Duh duh... Saya kira gangguan dari makhluk halus atau apa...


Fasilitas ho(s)tel di tempat yang pernah saya inapi, Alhamdulillah, cukup bagus, meski di beberapa penginapan, masih di Jogja juga, cantelan bajunya terlalu tinggi, mungkin standar untuk tamu-tamu asing dengan postur bongsor. Sementara di Singapura, cantelan bajunya standar, tak perlu buat saya olahraga lompat-lompat sebelum mandi. Tak pernah juga saya mengalami air macet, hingga perlu berpikir ingin Mandi Mewah, tapi batal hahaha. Teman sekamar pun, so far, tak terlalu aneh-aneh, apalagi yang sepuh-sepuh hingga Tua Tak Berdaya di Rooftop. Sedikit mengharukan kisah ini, tapi paling tidak sedikit mengingatkan kita untuk melakukan persiapan di hari tua. 


Membaca kisah perjalanan penulis ho(s)tel ini serasa mengunyah gado-gado, berbagai macam rasa. Para penulis rata-rata menulis dengan gaya kocak masing-masing. Begitu buku ini di tangan, tak sabar saya menyobek plastiknya—sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah beli buku bagi saya. Yang pertama ingin saya baca adalah tulisan teman blog Multiply saya dulu, Rinto A. Navis dengan Batal Mandi Mewah-nya. Dan saya ssukses melebur kangen akan tulisan blognya dengan ngakak di akhir cerita. Setelah itu, saya baru membaca secara urut dari awal. Tapi ternyata cukup mengganggu keasyikan di awal dengan adanya gambar ‘penampkan’ cewek rambut panjang. Seram. Karena itu, saya kembali membuka-buka halaman berikutnya secara random, mencari tulisan teman blog lainnya, Astrid Lim dengan CD Hitam-nya. Yang ini pun saya sukses ngakak cantik.  Overall, yang sedikit mengganggu justru sampulnya yang terlihat 'seram', meski ketika dibuka terlihat gaya kocak gambarnya. Tapi tetesan air warna merah di bagian atas cover, seakan darah menetes-netes, belum lagi sosok rambut hitam panjang berbaju putih.... Ih, ga heran jika buku ini masuk satu deret dengan novel horor lokal di satu toko buku. Oya, gara-gara ini pula, kita-para joglosemar, penikmat kisah kismis jadi kepikiran membaca kisah horor urban legend lokal bareng-bareng. Saya sih, ayookk aja. :D

PS:
Posting ini saya sertakan dalam posting bareng BBI tema Buku Baru 2014

Sabtu, 23 Agustus 2014

#28 Tangled by Emma Chase




Ebook epub format  254 pages
Published August 2nd by Gallery books
Rating 4/5


Ngakak

Ngikik

Ngakak

Ngikik

Begitu terus selama saya membaca novel semi kipas ini. Tak pernah saya menemukan novel romens dengan bumbu adegan uhuk dengan komedi kocak begini.


Andrew Evans, alias Drew, pengusaha sukses, dengan karir cemerlang plus petualangan ranjang tak terbatas, bukan petualangan cinta lo.. Karena dari sekian wanita yang bersamanya tak ada perasaan cinta sedikit pun. Hingga ia bertemu Kate Brooks...


Klise?


Iya ya. Sangat klise. Laki-laki petualang yang pada akhirnya bertekuk lutut pada seorang wanita. Menjadi tidak klise dengan bumbu kocak disana sini secara cerdas oleh Emma Chase. Kalau tidak asik, bagaimana mungkin novel ini menjadi pemenang Goodreads choice winner 2013.

Sabtu, 02 Agustus 2014

#27 Ways to live forever (Setelah Aku Pergi) by Sally Nichols


Paperback 214 pages
Penerjemah: Tanti Lesmana
Published Maret 2008 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 4/5

Apa yang akan kau lakukan jika hidupmu tinggal satu tahun? Atau lebih pendek, katakanlah, dua bulan? Akan duduk merutuki nasib atau mencoba hal2 yang belum pernah kau rasakan atau lakukan?

Sam Oliver MacKenzie, usia 11 tahun, penderita leukemia akut, mendapatkan ultimatum batas usianya. Tapi bocah malang ini memilih mengisi sisa akhir hidupnya dengan hal-hal hebat yang kita yang sehat pun tak pernah berpikir untuk melakukannya. Sam bahkan memiliki daftar hal-hal yang ingin ia lakukan dan sebagai luapan emosi ketakutan dan kekecewaannya seputar kenyataan hidupnya, ia juga memiliki daftar pertanyaan tentang kematian yang tidak terjawab. 

Bersama temannya sesama penderita kanker, Felix, Sam menyusun daftar keinginannya itu yang kemudian ingin ia wujudkan dalam sebuah buku. Hal-hal yang tadinya serasa tidak mungkin, menjadi kenyataan bersama Felix, diantaranya adalah mencoba menjadi remaja dan melakukan apa yang biasa dilakukan para remaja: merokok, minum bir, dan mempunyai pacar/ mencium gadis. Keinginan yang lain tetap terwujud tanpa Felix karena keinginan kuat Sam untuk melakukannya: turun di eskalator naik, dan naik di eskalator turun. Hahaha... Ga bisa saya bayangkan jika ini saya lakukan di departemen store dekat rumah saya.