Jumat, 30 Januari 2015

Blood of Olympus by Rick Riordan


Paperback 528 pages
Published November 2014 by Mizan Fantasi
Penerjemah: Reni Indardini
Rating: 4/5

Kebangkitan Dewi Bumi, Gaea, sudah ditetapkan tanggalnya.
Para monster dan dewa dewi minor serta berbagai makhluk sudah menyatakan berada di barisan Dewi Bumi.

Ketujuh Demigods dari dua kubu, Romawi dan Yunani, sedang menuju ke Perkemahan Blasteran untuk mencegah peperangan antara dua kubu mereka sendiri..

...dan mencegah kebangkitan Dewi Bumi, jika itu mungkin...
...sayangnya Dewi Bumi telah basah oleh darah dari satu demigod, dan mulai bergerak...

Oh, inilah keseruan di seri terakhir Heroes of Olympus. Perang di sana sini, perangkap di bumi dan di bawah laut disebar untuk mencegah para demigods sampai ke tujuan mereka. Semua mendapat tanggung jawab berat yang berakibat nyawa jika mereka tak beruntung. Para Dewa Dewi hanya bisa mendoakan (?) mereka. Well, para demigods ini selalu berdoa pada dewa ato dewi orangtua mereka. Nah, mereka berdoa pada siapa ya? #abaikan...

Dari ketujuh demigods itu, ada dua demigods lain yang mengemban tugas tak kalah penting, dan menurut saya, justru pada merekalah cerita ini bertumpu. Nico, si putra Hades dan Reyna si praetor Romawi. Bersama dengan pak Pelatih Hedge, mereka menggotong patung raksasa Athena Porthenos menuju tanah Yunani, sebagai lambang akhir permusuhan Yunani-Romawi. Perjalanan bayangan Nico (sedikit mengingatkan saya pada Apparate-Dissaparate Harry Potter) nyaris membuat Nico hilang nyawa. Reyna dan kisah keluarganya tak kalah dramatis. Yang mengejutkan sekaligus menggembirakan adalah perubahan karakter Nico yang semula menutup diri, mulai menerima orang lain hadir dalam kehidupannya. Reyna sangat berperan penting dalam perubahan ini, tentu saja. 

Percy dan Annabeth tidak terlalu mendapat porsi utama, berbeda dari sekuel sebelumnya, House of Hades. Para demigods lain pun, menurut saya, sama rata porsinya. Justru Nico-Reyna yang saya tunggu-tunggu kisahnya, dan juga Leo Valdez. Di awal-awal membaca, ketika saya mulai merasa garing, begitu muncul Leo, hilang sudah krik krik yang saya rasakan hahaha. Oya, OOT, Leo ini punya tas yang bisa diisi apa saja, tanpa kepenuhan. Tau sendiri kan, Leo sang mekanik ini selalu membawa perkakas dan barang ciptaannya yang hebat. Eh, kembali saya inget tas manik-maniknya Hermione Granger (uh..oh.. Saya memang ngga bisa move on dari Harry Potter. LOL)

Terus terang, saya sedikit kesulitan menulis review buku ini, bukan karena menghindari spoiler, melainkan menulis runtut garis besarnya. Point of view yang berubah-ubah dari sudut pandang para demigods ini membuat saya kesulitan menulisnya, belum lagi setting yang berubah-ubah tergantung point of view siapa yang sedang bercerita. Awalnya, saya juga dihinggapi kebosanan dan disorientasi tentang masa lalu demigods ini yang pernah mengalami ini itu, monster ini yang pernah bertemu dengan demigods yang itu, dan nama-nama tempat yang terasa familiar, tapi tetap berpikir, itu tempat apa ya? Hahaha... Seorang teman saya bilang, sudahlah, mbak, ga penting mengingat si monster. Ya iya sih. Tapi kepo tetep aja :D Meski seru, seruuu banget, saya merasa perang melawan Gaea seperti berlalu begitu saja. Tak ada ketegangan layaknya Harry Potter melawan Vol...Voldemort (OK, he's deceased anyway, so I can call his name). Argh, kenapa kembali membawa-bawa Si-Bocah-yang-Bertahan-Hidup lagi? Selain itu, sepertinya saya mau istirahat dulu dari mitologi Yunani Romawi dari kacamata Rick Riordan dulu. Saya merasa saya tak lagi bisa bertahan ketika membaca spin off Riordan, Demigods's Files. Mungkin saya sedang lelah #eh... Well, setidaknya, saya senang bergabung di Camp Half-Blood bersama fans Riordan lainnya, tapi jangan ajak saya ngobrol tentang buku-buku seri sebelumnya, saya sudah linglung. Hanya beberapa bagian saja yang saya ingat. Dan itu sangat kecil dibandingkan ketebalan bukunya :D Saya juga bahagia ending yang dramatis dari salah satu Demigod yang 'digosipkan' metong di akhir cerita. Awwww... Sweet bwangeeedd... Ajak aku ikut terbang bersama Fe....eh, nanti spoiler... Sudah ah...

So, who is my kind Santa who gave this novel? OK, let's find out...

Nah, sekarang saatnya membuka identitas my kind Santa. Oya, sekedar mengingatkan saja, buku ini adalah hadiah dari Santa saya dari event Secret Santa tahun lalu. Dari clue yang cuma seuprit itu, saya sempat bengong. Meneliti lagi siapa tau ada petunjuk lain dari kertas mungil yang tertulis puisi singkat dari Santa saya. Ternyata hanya itu... #sigh. Saya juga sudah bersiap-siap literally look up to the sky on January 5th. Sekedar mengingatkan, ini dia clue dari Santa saya


On January 5th
Look at the sky
You will find the answers
Untunglah, teman saya, si ahli metafisika (ngakak  kejungkel), dan ahli dalam kejawen, hitung-hitung tanggal, memberi bocoran yang bocorannya langsung tumpah ruah. Dia bilang, tanggal 5 Januari adalah tanggal 14 kalender Islam (Jawa), dan itu berarti saatnya muncul si cantik bulan ((PURNAMA)), nah, meluncurlah saya ke para peserta SS, mencari siapakah Santa bernama bulan Purnama ini? Ennnn....eng ing eeengggg .... Saya menemukan the one and only name with purnama on it:

ASRIANI PURNAMA

Setelah saya cocokkan dengan kocokan bandar SS, ada nama Santa saya ini dalamnya. Thanks a loottt buat yang sudah ngasih bocoran kocokan dan tentu saja si ahli hitung-hitungan tanggal #nomention

Thanks heaps for my kind Santa yang tahu yang saya mau, meski saya masukkan Blood of Olympus ini di akhir deadline posting SS wishlist. Ga sabar ikut SS lagi tahun ini...

Posting ini saya serta dalam posting bareng Januari BBI untuk kategori Secret Santa 2015 


7 komentar:

  1. perasaan nggak nemu purnama di langit #eh

    BalasHapus
  2. Kocokan bandar XD *ngakak kejungkel btw bocorannya dion emang bukan bocor lagi.. udah tumpeehh XD

    BalasHapus
  3. kalo tgl4 januari itu ultah blognya bzee :")

    BalasHapus
  4. eh, tgl 4 januari itu ato malah ultah blogku ya? #lupa, hahaha
    #bloggergagal

    BalasHapus
  5. Ayoo santa muculah..
    Eh ini buku wishlist ku taun ini

    BalasHapus
  6. Hyakakakak iti bocoran atau kode ya? Bubar jalan gitu LOL

    BalasHapus
  7. Emang mas dion ini paling jago soal penanggalan jawa

    BalasHapus