Jumat, 30 Januari 2015

Dari Balik Kegelapan by Michelle Hauf


Paperback 328 pages
Published Maret 2008 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Iiangliana
Rating 3/5

Setelah era Twilight series, baru sekarang saya kembali 'berkenalan' dengan vampir lagi. Kapan itu ya, rasanya sudah seabad lalu. Ah, vampir kah saya? #bangunwoy...

Michael Lynsay adalah penyanyi band terkenal, The Fallen, yang saat ini tengah meraih popularitas tertinggi. Dia sangat lelah di tengah hingar bingar kepopulerannya, hingga ia nyaris membuka jati diri sebenarnya di publik. Siapa si Michael ini? Hmmm, bisa ditebak, vampir. Dia pun menerima tawaran teman band-nya untuk tinggal di rumahnya di Minnesota.

Jane Renan, gadis cantik yang bekerja sebagai tukang jendela (mendesain sekaligus memasang jendela) tengah mendapat order bekerja di rumah besar tapi terpencil di Minnesota. Bisa ditebak, Jane bekerja di rumah dimana Michael akan mengasingkan diri. Cowok cewek bertemu, jatuh cinta, dan happily ever after. Hmmm, ga tepat gitu sih. Ceritanya jadi tidak segampang itu karena ternyata si Jane ini adalah penyihir pasif. Maksudnya adalah penyihir yang hanya punya darah penyihir tapi tidak bisa menyihir. Mirip-mirip dengan squib di dunia Harry Potter lah. Tapi Jane ini bisa hidup abadi, dengan satu syarat...


Michael yang langsung naksir Jane, sudah ngebet pada pandangan pertama. Sayang, taringnya melorot di tengah-tengah mereka sedang indehoy dan sangat sangat mengagetkan Jane. Mungkin Jane tidak akan terlalu shock melihat kenyataan bahwa cowok yang tengah dia ajak main-main adalah seorang vampir. Masalahnya dia sudah kadung jatuh hati. Tak jauh beda dengan Michael yang tersiksa dengan hasrat ingin bercinta tapi taring yang suka sekali berontak melorot tanpa diundang. Belum lagi hasrat haus darahnya yang rupa-rupanya sering muncul tiap kali berdekatan dengan Jane. Tapi Jane tidak bisa menjadi objek gigitan Michael, karena menurut legenda, darah penyihir beracun buat para vampir. Konon, duluuuuu, mereka hidup berdampingan dengan rukun, tapi karena ada kesepakatan yang dilanggar, hingga nenek moyang para penyihir ini mengucap kutukan bahwa darah penyihir beracun bagi manusia bertaring.

Michael-Jane akhirnya menemukan beberapa celah dimana mereka bisa bercinta tanpa taring atau gigitan. Michael, tanpa diduga, menjadi lebih perkasa, dan sihir Jane mulai aktif. Oh, sihir bercinta ini memang luar biasa! Bahagia selamanya? Oh, belum. Masalah lain muncul, ketika ayah Jane muncul, mengingatkan, Jane harus memperbarui 'kontrak' keabadiannya satu abad sekali. Dan hitungan satu abad itu bakal terjadi di hari ultah Michael. Ritual memperbarui keabadian ini membutuhkan mantra, api, dan darah dari jantung vampir. Sementara vampir yang terdekat adalah Michael...

Rasanya baru kali ini saya membaca pararom, jika Twilight dianggap sebagai pararom, maka ini yang kedua. Buku yang saya dapatkan dari foto di booth Cakrawala Gelinjang ini menawarkan romens, dan juga (saya kira) adegan kipas-kipas yang bisa membuat saya tahan napas, eh, ternyata adegan ho-oh nya kurang seru. Terjemahannya sepertinya agak nanggung atau mungkin sudah diperhalus. Belum lagi adegan melorotnya si taring, yah, ngga jadi lagi gituannya huakakakaka... Saya sempet bosan di tengah-tengah membaca novel ini. Berlembar-lembar yang dibahas bercinta yang aman buat vampir-penyihir mulu. Nyaris menyerah hingga munculnya ayah Jane. Cerita mulai lumayan seru di 80an halaman terakhir. Siapa sebenarnya yang mengambil keuntungan terbesar dari hubungan vampir-penyihir ini. Sejenak merasa iba pada Michael, sejenak iba pada Jane yang terkhianati oleh kekasih masa lalu Michael. Sepanjang membaca, saya beberapa kali membandingkan Michael dan si vampir bling-bling Edward Cullen. Saya yang lupa barangkali, apakah dulu Edward juga berjuang 'mengulum' taringnya tiap kali berdekatan dengan Bella. Endingnya pun dibikin 'manis' yang membuat saya berpikir, si penulis mungkin terobsesi hidup dalam keabadian. Eh, bukan spoiler kan ini? :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar