Jumat, 27 Februari 2015

Kaas (Keju) by Willem Elsschot


Paperback 176 pages
Published Mei 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Jugiari Soegiarto
Rating: 3/5


Saya ngga terlalu doyan keju, tapi melihat keju jadi topik buku ini, saya mungkin sedikit doyan :D . Selain tipis, buku ini termasuk karya sastra jadul, yang terbit tahun 1933, jaman Indonesia masih dibawah penjajahan Belanda :))

Buku ini dibuka dengan perkenalan tokoh-tokoh di dalamnya, beserta profesinya. Yang sedikit mengganjal adalah tokoh utama di buku ini, Frans Laarmans, sudah tertulis nasibnya di akhir buku, menjadikan spoiler yang seharusnya tak ada :(

Frans, seorang ayah dari dua putra putrinya, Jan dan Ida, bekerja sebagai kerani di General Marine Shipbuilding. Kakaknya adalah seorang dokter, yang meski kesana kemari bersepeda, tetap saja memiliki martabat di mata masyarakat sekitarnya. Sementara seorang kerani, selalu dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Kesempatan memperbaiki keadaan akhirnya tiba ketika dia bertemu dengan Mijnheer Van Schoonbeke, seseorang yang terpandang di daerahnya, yang setiap minggu mengadakan pertemuan para orang kaya. Pada awalnya, Frans malu-malu bergabung dengan lingkaran sosial ini. Namun dia mulai percaya diri ketika seorang pengusaha keju dari Armsterdam, Hornstra, menawarinya berjualan keju Edam. Modalnya sangat murah hati, 20 ton!! Belum lagi gaji yang ditawarkan Hornstra. Mimpi menjadi pedagang keju belum pernah terlintas dalam bayangan Frans. Tapi disinilah sekarang mimpinya dimulai...

Dimulai dengan menandatangi surat kontrak dengan Hornstra, menyulap rumahnya menjadi kantor, hingga berputar kesana kemari mencari perlengkapan kantornya: telepon, meja tulis, mesin tik, dll. Lengkap sudah status pedagang keju disandang Frans. Etapi nanti dulu.. Bagaimana dengan nasib pekerjaannya kerani di kantor sebelumnya? Berdagang keju memang menggiurkan tapi Frans sama sekali tak punya pengalaman berdagang apa pun. Dia masih berat meninggalkan posisinya disana, just in case, keju ternyata bukan panggilannya...


Masalah kantor lama terpecahkan dengan bantuan kakaknya yang dokter. Satu lembar keterangan sakit dan harus beristirahat selama 3 bulan cukup untuk menjajal kemampuannya berdagang. Yang sedikit mengesalkan saya adalah Frans yang tiba-tiba berubah menjadi sedikit sombong, merasa dirinya sebagai pedagang, alih-alih segera berjualan berton-ton kejunya, dia sibuk mencari nama untuk kantornya, membuat kop surat menyurat, membuat surat tagihan ini itu, membuat pembukuan yang rapi, tapi gerakan berdagang masih nol. Kedatangan kakaknya setiap hari di rumahnya, menanyakan bagaimana skala penjualan kejunya, suatu hal yang lama-lama menyebalkan bagi Frans. Cara kerja Frans ini menurut saya, hangat hangat tai ayam. Dia sangat bersemangat hingga tiap hari yg dibicarakan melulu kejuuu terus, tapi tiap kali mau bergerak keluar berjualan, ada saja hal yang jadi pertimbangan macam-macam. Dia pun memasang iklan di surat kabar, mencari tenaga penjualan di beberapa titik tempat sekitarnya, Belgia, Luxembourg, dll. Akankah bisnis keju merah Edam ini lancar?

Selama membaca, saya merasa geregetan dengan Frans yang sepertinya terlena akan statusnya sebagai pedagang. Berdagang di tahun 1933, saya membayangkan akan sulit. Meski banyak sekali warga Belanda mengkonsumsi keju, tapi toko-toko menjual keju sudah pasti tak sedikit. Yang dibutuhkan Frans tentu saja taktik cerdik untuk membuka pasar bagi kejunya. Di kotanya, tak hanya dirinya menjual keju Edam. Alih-alih mencari trik penjualan, dalam pikirannya muncul berbagai hal simpang siur yang membuatnya menggigil membayangkan tumpukan berton-ton keju. Saya juga tak mempunyai pengalaman berdagang apa pun, tapi dari yang saya lihat di luar sana, ada saja trik melariskan dagangan dengan cara-cara yang tak terduga. Sebagai ayah, dan kepala rumah tangga, Frans sama sekali tidak mau melibatkan anak istrinya di bidang ini, bahkan membicarakannya saja tidak. Dia malu ketika Jan, si anak sulungnya mampu menjual satu peti keju. Sementara dirinya hanya menenteng kopor isi keju kesana kemari. Well, berdagang adalah pekerjaan keras, bung. Tak ada waktu banyak untuk mengagumi diri sendiri dengan pencapaian status tapi yang diraih ternyata masih jauh dari jangkauan.

Sebagai novel klasik, novel ini membuat kita berpikir, apakah pekerjaan dengan status tinggi dan uang berkelimpahan itu akan menjamin kebahagian dan ketenangan hidup kita? Aah... Jadi berpikir pekerjaan saya sendiri. So far not bad deh :D

Posting ini disertakan dalam Posbar February 2015 dengan tema: Profesi

4 komentar:

  1. Cover-nya bagus ya. Simple tapi eye-catching banget. Jadi pengen baca. Di Gramedia masih gampang ditemuin gak ya bukunya? Btw, salam kenal, Kak, hehe.

    BalasHapus
  2. Kisah yang menarik sekali. :)

    Ini tentu bisa jadi pelajaran untuk banyak orang di Indonesia yang biasanya persiapannya banyak, tapi actionnya ga ada.

    BalasHapus
  3. ceritanya unik, pedagang keju yang banyak persiapan tapi ga ada kemajuan. covernya simpel tp oke.

    BalasHapus
  4. Jd ikut mikir soal kerjaan saat ini, gara2 baca bukunya Andreas Harefa juga bahwa karier itu tidak sama dgn pekerjaan. Buku keju ini msih ketimbun, semoga bisa nyusul mbak Lila buat bacanya

    BalasHapus