Jumat, 20 Februari 2015

Putri Raja Cilik (A little princess) by Frances Hodgson Burnett


Paperback 312 pages
Published November 2010 by Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Julanda Tantani
Rating: 3,5/5

Seberapa kuat daya khayalmu untuk menyelamatkan dirimu dari kemalangan dan kesedihan? Malang sekali jika kau tak punya daya khayal itu...


Sara, 7 tahun ketika ia berpisah dari ayahnya, Ralph Crewe, seorang kapten dari Inggris yang mempunyai bisnis di India. Sara, kebetulan juga lahir di India dan saat ini ia harus masuk sekolah khusus Miss Minchin dis London. Sebagai murid anak seorang kapten yang kaya, Sara banyak menerima barang-barang bagus dan mewah yang terkadang terkesan lebay untuk anak seusianya. Karena kaya itulah, maka Sara sangat dimanja dan diberi perhatian khusus dari pihak sekolah, di kelas, di tengah teman-temannya, hingga kamar khusus bak putri raja. Yang unik, meski baru berumur 7 tahun, Sara sudah memiliki kedewasaan yang luar biasa. Entah bagaimana si ayah yang kaya (yang kaya pasti sibuk), dan tanpa ibu bisa menghasilkan anak kecil yang dewasa seperti itu.

Singkat cerita, Sara menjadi murid istimewa di sekolah ini. Sara sendiri juga istimewa dilihat dari otaknya yang encer serta sikapnya yang tahu diri. Semua murid memujanya. Apalagi murid-murid yang lebih muda, yang selalu terkagum-kagum dengan daya khayalnya yang tinggi. Ya, Sara kecil ini sudah melahap banyak sekali buku-buku keren yang tertancap kuat di otaknya dan membuatnya memiliki daya khayal sangat tinggi dalam cerita-ceritanya. Sering kali anak-anak ini berkumpul untuk mendengar dongeng-dongeng Sara dengan gaya teatrikalnya.


Bertahun berlalu, hingga suatu hari ia mendapat kabar mengejutkan, ayahnya, kapten Crewe meninggal di India dalam kondisi bangkrut tanpa meninggalkan sesen pun untuk Sara. Bisnisnya gagal, dan ia meninggal dalam kondisi mengenaskan. Dan sejak saat itu, hidup Sara berubah. Dari seorang putri raja, menjadi buruh sekolah yang miskin. Imajinasinya yang tinggi cukup menyelamatkan kondisinya yang memilukan. Tapi sampai kapan ia bisa bertahan dengan rasa lapar, dingin dengan hanya membayangkan makanan-makanan hangat dan selimut-selimut bulu nyaman? Sampai kapan sopan santunnya yang bagai putri raja itu bertahan?

Perkenalan saya dengan karya Burnett pertama kali adalah Secret Garden. Saya selalu mengingat Secret Garden sebagai buku anak-anak yang menyenangkan hingga saya mencari karya Burnett yang lain. Tapi ternyata saya nyaris mati bosan dengan buku ini dengan segambreng deskripsi tentang Sara yang baik hati, rendah hati, gaya khayalnya yang tinggi yang seharusnya untuk anak-anak ini bakal memberi daya imajinasi yang bagus, tapi tidak buat saya. Berbeda dengan imajinasi tentang taman rahasia yang indah dimana tumbuh beraneka bunga cantik. Kekejaman si pengasuh di Secret Garden lebih terasa natural dibandingkan Miss Minchin yang terasa lebih dramah! Permainan nasib Sara juga terasa seperti sinetron. Ah, terlalu banyak protes saya ini. Toh, sepertinya buku ini harusnya dinikmati oleh anak-anak, dan bukan orang seperti saya. Tapi, saya sangat menikmati Secret Garden tapi kenapa saya tak bisa menikmati buku ini? Well, tapi ending yang bisa ditebak ini sepertinya agak berbeda dari versi filmnya. Eh, saya belum nonton filmnya sih. Belum ada hasrat donlot sih hehehe... Nanti saja jika bandwidth sudah kenyang lagi. Recommended buat anak-anak sebagai bacaan klasik yang ringan

 Ini dia trailer fiolmnya yang dirilis tahun 1995...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar