Selasa, 19 Mei 2015

Nyanyian Ibu by Bung Smas



Paperback 208 pages
Published September 1984 by PT. Gramedia
Rating 4/5

Waaahhhh... Akhirnya saya baca juga seri pertama Serial Noni iniii!!! Saya sudah membaca serial ini entah mulai kapan, yang jelas ada banyak hal tentang Noni yang ga bakal saya lupakan. Satu hal yang pasti adalah kenyataan bahwa Noni ini mempunyai latar belakang kota Semarang tempo dulu, dan juga sosok Noni yang tomboi, mirip mirip dengan George di Lima Sekawan, sosok yang paling saya juga suka. :D

Sebelumnya, saya mengenal Noni dengan persahabatannya dengan penjahat kelas kakap bernama Godek. Saya penasaran bagaimana bisa Noni bersahabat dengan mantan narapidana macam Godek? Dan di buku inilah semua bermula.

Noni yang bernama asli Prita, salah satu tokoh wayang, bersikeras dipanggil Gus, panggilan yang sama dengan dua kakak laki-lakinya, Anggada dan Anila. Tapi karena ia perempuan, maka ia dipanggil Noni. Meski pada awalnya menolak, akhirnya dia mau juga dipanggil Noni. Elisa alias Eli, juga mempunyai banyak porsi di seri pertama Noni ini, bagaimana ia bisa dipungut anak oleh Tante Sri, tetangga Noni, dan tentu saja bagaimana Noni bertemu dan kemudian bersahabat dengan Godek.


Nyanyian Ibu sendiri berkisah tentang lagu kenangan Eli dan Bun sang kakak yang telah lama berpisah karena bencana banjir. Mereka terpisah dan akhirnya bertemu lagi setelah mengalami perseteruan yang seru dan lumayan didramatisasi oleh si penulis. Meski cukup terkesan bertele-tele, tetap saja unsur budaya jawa disini , cukup menarik. Lagon atau lagu memang tak terpisahkan dari budaya Jawa, apalagi kisah wayang-wayangnya. Ada beberapa cuplikan lagon dan juga hubungan antara satu tokoh wayang dengan wayang yang lain. Saya yang tinggal lama di Jawa, dan cukup mengerti tentang wayang, tetap menganggap ini semacam pengetahuan tentang budaya. Tak banyak kisah detektif lokal yang mencampurkan tema budaya begini.

Sosok Godek sendiri digambarkan tidak terlalu sangar, mungkin karena saya sudah mengenalnya jauh saya membaca seri pertama ini. Sementara Noni, sebagai karakter utama seri ini, sangat menonjol meski, yah, agak kurang ajar dengan yang lebih tua. Saya sendiri mungkin akan menggaplok anak macam begini meski yah, nggemesin juga sih hahaha... Si penulis cukup sukses mengenalkan karakter satu persatu tokoh di seri ini, meski masih ada beberapa yang belum muncul, seperti si anak orang kaya, Esmin, si tukang gambar , Pak Samuel Pamungkas atau biasa disebut Pak Sam, dan mungkin beberapa karakter lain. Yang menjadi pertanyaan saya yang ngga penting adalah, mengapa ya, nama-nama kakak Noni diambil dari legenda Ramayana, dan bukan Mahabharata. Padahal, hampir semua nama yang ada disini adalah nama-nama dari pewayangan Mahabharata.
Anggada dan Anila adalah monyet-monyet keluarga Anoman. Pertama tahu tentang keluarga monyet ini, saya jadi tak bisa melihat orang dengan nama serupa tanpa membayangkan sosok monyet di Ramayana hahaha...

Ada banyak scene komikal disini dan juga scene menyentuh. Membayangkan Noni yang memanggil nama pasien Tante Dokter tanpa Pak atau Bu, saya sudah ngakak duluan. Belum lagi kejar-kejaran antara gang Gombak dan anak-anak Karangayu. Tegang sekaligus bikin ngikik. Scene antara Noni-Eli dan Noni-Godek juga sempat membuat mata berkaca-kaca. Ah, seri Noni pertama ini benar-benar memuaskan penasaran saya selama ini. Ada quote menarik dari Godek yang menutup review ini:

'.... Semakin hebat persenjataan itu, keselamatan dunia dan isinya semakin terancam. Ilmu silat pun begitu, semakin tinggi ilmu itu dipelajari orang, semakin besar kemungkinan kekacauan terjadi.... (hal. 95)

Kita memang harus mengikuti sifat padi ya, semakin tua, semakin berisi harusnya semakin merunduk.... Hhhhh...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar