Senin, 11 Mei 2015

Titik Nol by Agustinus Wibowo



Paperback 552 pages
Published Februari 2013 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 5/5


Ini adalah perjalanan yang diawali sebuah mimpi, berlangsung bak untaian mimpi panjang, dan diakhiri dengan sebuah mimpi (hal. 530)

Apakah mimpi terbesarmu? Sekolah tertinggi di sebuah perguruan ternama? Memiliki keluarga sakinah mawadah warahmah? Atau menjajaki seluruh jengkal seluruh dunia? Setiap orang memiliki mimpi dan meletakkan prioritas mimpi di urutan paling atas.

Diawali dari kisah Safarnama, Agustinus Wibowo atau Gusweng memulai kisahnya. Setiap kita dibesarkan dengan Safarnama. Dari generasi ke generasi dari berbagai tradisi. Sinbad, Ali Baba, Aladdin adalah kisah-kisah perjalanan yang didengungkan dan didongengkan sejak masih kecil. Tom Sawyer, Gulliver, Uncle Tom, David Copperfield, dll, adalah nama-nama pengembara, backpacker, turis atau apalah namanya yang menjelajah di luar tanah kelahirannya, yang dimulai dari sebuah mimpi. Bebas. Mencicipi setiap jengkal kehidupan dari mulai kebahagian, kepahitan hingga kesakitan dalam perjalanan. Terserah kemana perjalanan ini akan dibawa.


Sedikit berbeda dari dua buku sebelumnya, Selimut Debu dan Garis Batas, Titik Nol kali ini dibuka, diceritakan, dan diakhiri dengan sangat dramatis. Kisah pilu perjalanan selama pengembaraan di Tibet, Nepal, India, Pakistan, ditambah dengan kisah pilu seorang anak yang menjaga ibunya menjelang kesembuhan atau ajal karena kanker. Perjalanan ini pula yang selalu menjadi cermin bagi penulis juga sekaligus pembaca, bahwa di setiap perjalanan, di setiap fase kehidupan ada kalanya kita me-reset target, atau tujuan hidup ke Titik awal atau Nol untuk memulai sesuatu yang baru. Nikmati saja. 

Perjalanan keliling adalah lingkaran sempurna: awal adalah akhir, tiada awal tiada akhir.
Aku kembali ke titik nol.

Seperti biasa, perjalanan Gusweng ini selalu sarat dengan kisah budaya, masyarakat hingga kepercayaan yang ada di lingkungan dimana ia kunjungi. Tibet, seperti yang saya kenal dari film Seven Years in Tibet, adalah negeri relijius yang ternyata sangat materialistis; India, tak seindah kisah Rahul-Anjali, karena populasi yang padat, kasta yang bagai bumi dan langit, dan kemiskinan yang  lebih parah dari film Slumdog Millionaire; Pakistan, negeri Muslim yang sarat dengan kemelut agama sekaligus ritual keagamaan yang dramatis. 

Ini adalah sebuah kotak pandora. Agama bisa jadi rahmat semesta alam, tapi agama juga bisa jadi pembunuh yang paling kejam. (hal. 458)

Kisah-kisah ini dibumbui dengan sepenggal-sepenggal kisah Ming kecil, dengan mimpinya ke luar negeri dan kisah sang ibu dengan dongeng kisah klasik Tiongkok lengkap dengan para dewa-dewinya. Saya bahkan mengingat beberapa nama tempat yang disebutkan sang ibu adalah nama tempat yang tadinya saya pikir itu adalah nama tempat antah berantah di seri silat Mandarin, tontonan favorit jaman kecil dulu. :D Selain itu, suguhan kisah pahit seorang pencinta yang mengharapkan sekedar kecupan atau ucapan kasih sayang seumur hidup begitu mengiris hati. Membaca buku ini, terus terang, membuat saya lelah lahir batin, tapi merasa kecewa ketika saya harus menyelesaikan kisah di buku ini. Saya merasa sayang, ada suatu perjalanan yang harus saya tinggalkan, dan mau tak mau memulai perjalanan baru lagi. Hmmm... Masing-masing kita tentu memiliki kisah perjalanannya sendiri. Kita bisa memilih, kapan memulai, dan kapan mengakhirinya. Kita sendiri juga yang akan mengambil makna dari perjalanan kita. Terima kasih sudah berbagi kisah, Gusweng. Saya tunggu perjalananmu berikutnya...

Review ini saya sertakan dalam Posting Bareng bulan April 2015 untuk tema BDDO alias buku yang sudah pernah di posting di blog atau media lainnya. Tulisan Gusweng ini bisa dilihat pula di agustinuswibowo.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar