Jumat, 12 Juni 2015

Rantau 1 Muara by A. Fuadi




Paperback 401 pages
Published Mei 2013 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 4/5

Saya SUNGGUH IRI!!!!

WOW!!! Tiba-tiba capslock saya jebol :D

Hehehhe…. Saya yakin siapaun yang membaca kisah ketiga dari trilogy Negeri 5 Menara ini pasti akan merasa jealous. Bagaimana tidak? Awww…. Sebentar saya tulis dulu review buku ini.

Di buku sebelumnya, Ranah3 Warna, Alif sempat melanglang buana ke Canada untuk belajar disana. Inipun sempat membuat saya WOW, tapi sedikit mengingatkan saya dengan buku ketiga Andrea Hirata dari trilogy Laskar Pelangi, yaitu Edensor. Beda sih. Mirip dikit, hanya pas bagian belajar ke luar negerinya. Yah, itu sih banyak buku bercerita tentang beasiswa ke luar negeri kellesss… :D 

Buku ketiga ini dibuka dengan kembalinya Alif ke tanah air, disambut dengan cekikan ekonomi seiring datangnya krisis ekonomi. Sekedar membayar kos pun dia masih harus merayu ibu kos, apalagi untuk mengirim uang bulanan untuk Amak dan adik-adiknya. Untunglah, beberapa pihak kampus dan rekannya secara tiba-tiba membantu, belum lagi kemampuan menulisnya yang semakin meningkat, menyelamatkan dirinya dari momok krismon. Ternyata itu tidak lama. Krismon masih menjadi momok baginya seusia kelulusannya dari universitas di Bandung. Momok yang sebenarnya juga dialami banyak kalangan sekitar tahun 1998. Gonjang ganjing pemerintah dan kekisruhan demonstrasi mewarnai menjelang jatuhnya Orde Baru waktu itu. Atas desakan ekonomi dan juga harga diri demi memenuhi tantangan sahabat sekaligus musuhnya, Randai, Alif merantau ke Jakarta. 

 Napas dihela lega setelah ia resmi diterima di majalah Derap, majalah yang selalu berkata jujur yang sempat dibredel di masa kekuasaan Orde Baru. Disinilah, ia kemudian bertemu dengan calon ‘muara’nya, Dinara. Saya dulu sempat berharap, Alif bakal jadian dengan Raisa di buku sebelumnya, hanya sepanjang membaca kisah Ranah 3 Warna, banyak keraguan Alif bakal berjodoh dengan Raisa. Dengan Dinara, saya sempat member spoiler pada diri sendiri dengan membaca profil penulisnya, dan menemukan bocoran bahwa inilah muara-nya Alif . Aw aw aw…. :D



Meski bekerja di tempat bergengsi macam majalah Derap, tidak menyurutkan angan-angan Alif  untuk mewujudkan cita-citanya yang ia rajut bersama sahabatnya di Pondok Madani dulu. Pontang-panting mengejar berita di pagi dan siang hari, belajar bahasa Inggris di malam hari secara otodidak dari buku perpustakaan kantor. I can say that his effort really pays off in the future. Ketika sebagian anak muda telah berpuas diri dengan pekerjaan yang bagus, Alif terus mengasah kemampuan dirinya siang malam. Impiannya pun terpenuhi dengan penawaran beasiswa S2 ke Amerika, sebuah Negara impian. Berangkatlah Alif dengan membawa ganjalan akan perasaan mendalamnya pada Dinara. Porsi perasaan Alif dengan maju mundur hatinya cukup membuat saya berpikir kok ini novel jadi cenderung ke romens sih. Padahal harapan saya lebih dari mengejar cewek impian. Hahaha…

Berada di Amerika, tetap membuat Alif terus terhubung dengan Derap, secara professional juga secara emosional. Dinara yang memberi sinyal positif, akhirnya mengiyakan ajakan Alif untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Kehidupan perkawinan tanpa pacaran tergambar indah dan menyenangkan, hingga timbul masalah rumah tangga. Untunglah, ini bukan novel drama romens yang focus pada masalah romens yang biasanya begitu-begitu saja. Kesetaraan antara mereka berdua cukup membuka mata para pembaca. Keterbukaan Alif akan kesempatan istri untuk mendampinginya secara professional cukup diacungi jempol mengingat ia adalah lulusan Pondok Madani. Well, you know lah, berapa banyak orang yang menolak pasangan bekerja demi harga diri lah, atau alasan-alasan yang lain.

Selama di Amerika, banyaaak sekali hal menarik yang diceritakan Alif, mulai dari kuliahnya, dosennya, pekerjaan sambilannya sebagai penyobek tiket stadion, Mas Garuda yang menganggapnya sebagai adik, hingga kehidupan relijius yang hidup di kampus. Yang paling mengharukan adalah interaksinya dengan Mas Garuda, yang kisah kehidupannya cukup dramatis. Sayangnya, ending-nya membuat hati mencelos. Tragedy 11 September benar-benar semua kalangan terperangah dan mengutuk siapapun pelakunya. Dari ras atau agama manapun. Korbanpun tak mengenal bangsa, ras dan agama. Siapapun yang naas bisa menjadi korban. Di bagian ini, saya sempat membayangkan, Alif dan kru yang tergugu melihat berita live dengan tragedy WTC ini, terlebih dengan keberadaan kenalan, saudara di tempat kejadian. Melihat kembali video rekaman yang beredar di YouTube cukup mendirikan bulu roma. 

Overall, membaca buku ketiga ini membuat saya sedikit menyesali masa muda saya yang meski tidak berhura-hura, tapi saya merasa masa muda ya harus dinikmati dengan bersenang-senang, hang out, rumpi-rumpi…halah… Tak heran, seorang Alif dengan jam terbang kerja keras yang tak pernah putus ini menuai kerja kerasnya dengan manis. Lebih manis lagi dengan Dinara di sampingnya, mendampingi dalam situasi apapun. Oh, I wish…. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar