Rabu, 29 Juli 2015

Breathe by Abbi Glines (Sea Breeze #1)




Ebook Epub format 206 pages
Published June 4th, 2013 by Simon Pulse
Rating 3/5

Buku ini sempat  menjadi buruan beberapa anak BBI ketika acara lelang for charity kemarin dulu. Saya sempet ngotot meski kurang yakin sih bakal dapat atau kurang yakin bakal sampe selesai ikut ngotot nge-bid-nya hahaha… Dan saya bersyukur karena saya akhirnya ngga mendapatkan buku ini :D

Hmmm…. Sebelumnya saya ngga membaca review atau apapun di Goodreads tentang buku ini. Saya hanya berpikir bahwa ini bakal semacam novel teenlit ringan macam Anne and the French Kiss atau Stealing Jordan alias Hundreds Oaks series. Ternyata…bisa benar bisa salah…

Novel ini dibuka dengan prolog dari Sadie White, tokoh utama cewek di novel ini, memperkenalkan ibunya, yang ia panggil Jessica, tengah hamil tua dan siap melahirkan sewaktu-waktu, tanpa suami, dan mood yang bagai roller coaster. Sadie tak punya pilihan lain selain mengurus ibunya, mentally, physically and financially…


Ah, novel ini ternyata bercerita tentang anak gadis cantik 17 tahun yang giat bekerja dan tidak sombong #eh… Sadie harus bekerja menggantikan ibunya yang seharusnya bekerja di sebuah rumah kaya raya di Alabama, yang hanya ditinggali selama musim panas. Meski sedikit ada penolakan dari ketua pembantu, eh, apa, pembantu? Iya, pembantu, Sadie bakal menjadi pembantu di keluarga kaya ini—akhirnya Sadie diterima juga bekerja disana. Alasan ditolak adalah, si pemilik rumah adalah rocker yang tengah naik daun, kaya, tampan, yang dikejar-kejar banyak fans cewek dimana-mana, bahkan sering menerima tawaran tubuh-tubuh seronok para abege. Tsaaahhh…  Sadie bisa jadi salah satu penyusup fans gila yang menyamar menjadi pembantu. Tapi ternyata kebutuhan uang untuk keluarga menguatkan Sadie untuk diterima bekerja. 

Jax Stone, si rocker tajir nan charming, suddenly set his heart on Sadie the moment he saw her. Ya iyalah. Sadie cantik, kecantikan yang menurun dari ibunya: pirang, ikal, mata biru. Jax seperti melihat bidadari cantik melayani makan malamnya. #uhuk…. Cerita selanjutnya, bisa ditebak. Jax Stone jatuh cinta pada Sadie. Sadie menyambut, meski ia mengaku bukan salah satu fans Jax, tetep saja ia nempel macam perangko begitu Jax mendekat. Marcus, teman sesama asisten rumah tangga, yang baik hati dan lebih masuk akal untuk berdampingan dengan Sadie, ditolak. Awww…  Sakitnyaaa tu… :D

Well, di awal-awal membaca novel ini, serasa saya menemukan satu buku ringan yang bakal mengembalikan mood membaca saya yang lagi lama idle. Tapi begitu Sadie jatuh ke pelukan Jax dan adegan selanjutnya adalah adegan 18+, jatuhlah mood saya. Oke, novel yang diceritakan dari dua point of view ini, dari Sadie dan Jax, banyak juga menceritakan kepahitan kehidupan Sadie, yang miskin, tinggal bersama ibunya yang kurang normal, dan tanpa teman, cukup mengharukan. Tapi ketika cerita mulai berputar di skinship skinship mulu, dan mulai kata-kata gombal para rocker itu memakan berlembar-lembar halaman, saya memilih skip skip dan skip terus. Sadie, you’re just 17, a high school student, and keeps saying that you don’t want to end up like your mother, Jessica, being pregnant but fatherless, so, why do you keep on doing those skinships? Sebal tingkat dewa ketika saya membaca bagian ini. Ga mau begitu, tapi mau lagi, enak sih. I want more and more… you’re just lucky to have Jax, what if Jax is another guy like your mom’s date? Mau, jadi emak usia 17 tahun tanpa bapak? Hadeeh…. Gedeg guweee…

Untunglah, kisah di bagian akhir terselamatkan dengan antiklimaks yang sebenarnya tipikal juga (untung ngga pake amnsesia :D), tapi saya cukup terharu dengan kedekatan para mantan asisten rumah tangga Jax yang hangat. Ms. Mary yang keibuan, Mr. Greg yang baik hati, hingga Kane, si sopir Hummer yang  meski kaku tapi tetep baik hati. Oh ya, Marcus, yang tetap saja setia pada Sadie, meski hatinya sakit… Overall, this is just another modern Cinderella story with some ‘panty off’ scenes. Sebenarnya tanpa ada scene panas begini, cerita ini bisa lebih menarik. Jax hanya diceritakan sekilas-sekilas dari point of view-nya yang hanya beberapa baris kalimat. Yang lainnya adalah Sadie dan Sadie. Sadie bisa jadi adalah heroine disini, tapi saya lebih memilih Ms. Mary, karena lama-lama saya sebal pada Sadie. Ah, sudahlah. Sea Breeze #1 ini sepertinya ngga bakal saya lanjutkan ke seri berikutnya, meski Marcus yang bakal jadi karakter utamanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar