Kamis, 06 Agustus 2015

Bidadari yang Mengembara by AS Laksana


Paperback 154 pages
Published Mei 2004 by KATA KITA
Rating 3,5/5

Apa yang kau harapkan dari kisah-kisah absurd? Diksi yang indah, kisah liar yang mungkin saja pernah terlintas dalam benakmu dan berakhir hanya sebagai khayalan belaka, atau-atau kisah kisah liris nan puitis?

Dalam buku kedua AS Laksana yang saya baca yang sebenarnya adalah buku pertamanya sebelum Murjangkung, saya tidak menemukan kekuatan diksi yang dulu membuat saya terkesan dengan perkenalan pertama saya dengan penulis dari Semarang ini. Tapi, tetap saja kisah-kisah absurdnya membuat saya bertahan hingga cerpen terakhir.

Terdiri dari 12 cerpen, penulis menulis cerpennya bercerita tentang keluarga: ayah, ibu, hubungan baik atau buruk orangtua dan anak, hingga dendam tertahan anak-orangtua. Keabsurdannya sedikit membahayakan bagi mereka yang barangkali mempunyai masalah keluarga yang sama. Terabaikan oleh orangtua, tak diharapkan kelahirannya hingga usaha-usaha menghancurkan diri sendiri. Kritik sosial pun menjadi salah satu topik dalam cerpen berjudul Buldoser. Nasib wong cilik yang selalu tergusur oleh buldoser hingga di alam kubur. Mitos atau kisah-kisah yang beredar dalam cerita rakyat hingga kisah dalam kitab suci juga menjadi racikan ramuan kisah absurdnya.

Yang cukup membuat pening adalah penggunaan nama karakter yang sama, Alit dan Seto. Alit disini muncul sebagai orang kedua yang diceritakan oleh si aku, di kisah lain, si aku adalah Alit yang tengah menceritakan si Seto. Atau si Alit ini adalah korban dari kisah dramatis hingga perlu dikasihani atau sebaliknya, Alit adalah sosok antagonis yang diharapkan mati oleh bapaknya. Huuffttt... Sementara saya tak ada waktu mengecek apakah Alit di satu kisah ke kisah yang lain mempunyai latar belakang yang sama. Ya sudahlah. Anggap saja Alit ini ya Alit aja. Toh, dalam kisah absurd, siapapun bisa menjelma menjadi malaikat sekaligus setan berbulu peri :D

Overall, saya cukup suka dengan model cerpen absurd yang tidak menye-menye meski terkadang masih loading juga mencerna satu cerita. Ceritanya cukup realistis meski menjijikkan dan mengerikan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar