Sabtu, 26 September 2015

Haunting Violet (Haunting Violet #1) by Alyxandra Harvey


Ebook, Epub format
Published  June 21st 2011 by Walker Childrens
Rating 4/5

Bagaimana rasanya menjadi putri dari seorang ibu yang bekerja sebagai ‘medium’ bagi para roh-roh gentayangan plus gila hormat dan derajat? Belum lagi diperparah dengan kemampuannya yang ternyata abal-abal?

Violet Willoughby, atau Violet St. Clair, lahir dari seorang ibu yang pembantu disebuah kediaman seorang Earl terhormat. Lahirnya Violet, atau umumnya disebut bastard alias anak haram, maka usailah pekerjaan ibunya. Dendam dengan keadaan, Celeste  Willoughby alias Mary bertekad memperbaiki keadaan dengan cara apapun. Maka dimulailah sandiwara sebagai seorang ‘medium’ dari rumah mewah ke rumah mewah lainnya. Herannya, belum pernah sekalipun kedok ibu Violet ini terungkap. Hingga suatu hari....

Di kediaman Lord Jasper, Rosefield Manor, Violet dan ibunya diundang untuk memamerkan kemampuan keahlian berbicara dengan para spirit. Dengan trik yang cukup mengagumkan plus akting, pertunjukan ibu Violet ini berjalan mulus. Sayang, kedok kemampaun berbicara sebagai medium ini akhirnya terungkap di pertunjukan berikutnya. Violet dan ibunya, serta Colin dan Marjorie yang selama ini membantu mereka harus meninggalkan kemewahan jamuan tamu di rumah Lord Jasper. Sayangnya,pada saat yang hampir sama, Violet menyadari kemampuan barunya yang melebihi drama lebay ibunya. Violet tidak hanya mampu berkomunikasi dengan para roh tapi juga melihat mereka sejelas melihat manusia hidup di sekelilingnya.

Dari sekian roh yang narsis, ada satu roh penasaran yang selalu muncul dalam keadaan mengenaskan, basah kuyub, tenggorokan luka bekas cekikan, Rowena Wentworth, seorang keturunan Wentworth yang memiliki kekayaan dan tanah Whiteworth. Herannya, Rowena ini selalu membayangi adiknya, Tabitha. Ada semacam kekhawatiran dalam dirinya akan apa yang bisa saja terjadi pada adiknya. Rowena yang penasaran secara tidak langsung meminta tolong Violet menemukan pembunuhnya, ehm, tepatnya, menunjukkan pada umum siapa pembunuhnya. Ada banyak petunjuk yang mengacu pada beberapa orang yang dicurigai. Violet, diam-diam menjadi detektif menemukan siapa pembunuh Rowena.

Saya sedikit tertipu dengan ketebalan novel ini, tidak tebal-tebal amat sih, hanya saya berharap Violet bakal menjadi ‘penghubung’ bagi roh penasaran lebih dari satu. Tapi ternyata saya salah. Novel ini tetap fokus pada kemampuan baru Violet serta cara ia bersahabat dengan kemampuan barunya. Belum lagi kisah ibunya yang gila derajat hingga tega menjadikan Violet sebagai mangsa bagi masa depannya. Ditambah keluarga-keluarga kaya Inggris lengkap dengan jamuan makan mewah, rumah-rumah dengan dekorasi ini itu serta baju-baju ribet plus tatanan rambut yang rumit. Saya berasa membaca novel klasik dengan bahasa narasi yang untungnya mudah, hanya pada dialog-dialog yang sering kali membuat saya cukup loading sesaat. Kamus yang terinstal di ebook reader tidak cukup membantu. Beberapa istilah bisa saya temukan di kamus lain atau bahkan harus googling mencari padanan kata yang entah kuno atau slang lokal yang tidak saya mengerti. Misalnya “ijit”. Kata ini muncul dari Colin yang lahir di Irlandia dan memiliki aksen Irish yang kental. Wooow... Yang saya bayangkan tiba-tiba Colin Morgan, si Merlin, dengan tampang imutnya plus aksen yang seksehh... Setelah saya cek, ijit ternyata adalah slang yang berarti “idiot”. Haahh... Well, terus terang, saya memang kurang membaca novel klasik dengan latar belakang klasik tahun 1800an. Ohya, novel ini berlatar belakang tahun 1800an. Eh, tapi kata Bollock sudah ada lo. Eh, bahkan bollock pun ngga dikenal sama laptop saya hahaha... Huss... Jadi salah fokus...

Oya, novel ini tidak hanya berkisah seputar hantu-hantu yang mengejar-ngejar Violet, tapi juga rumitnya tradisi keluarga-keluarga kaya di jaman itu, ketidakpuasan akan sesuatu hingga gosip menyebar dengan sadis, hukuman sosial dengan lempar buah-buahan busuk, derajat rendah yang tak level meski hanya untuk sekedar minum teh bersama. Ugh... Bahkan seringkali perjodohan tak berjalan mulus karena satu pihak merasa kurang sederajat dengan yang lainnya. Ah, saya beruntung lahir di masa sekarang yang, yah, meski apalah dengan bebet bibit bobot, tapi paling tidak mengenal sedikit latar belakang seseorang yang bakal hidup bersama, itu juga penting. IMHO sih. 


Posting saya sertakan dalan Posting Bareng BBI bulan September dengan tema Sastra Eropa.

2 komentar:

  1. Waw. Stepbrother romance #mabok
    Ini salah satu jenis romance yang sampai sekarang aku masih rewel kalo mau baca. Padahal di eReader udah ada Step-Lover, Stepbrother Dearest, dsb. Tapi kalo nyerempet-nyerempet tabu gitu aku masih ragu bacanya :(

    BalasHapus
  2. Wah menarik banyak roh-roh yang mengikuti. Jujur aku belum baca tentang Stepbrother romance wkwk. Penasran banget sama novel ini + covernya juga bagus. Ketimbang kearah romance-nya, aku lebih tertarik ke arah tentang roh-nya ituloh :D gimana ya rasanya diikutin roh-roh gitu. Bakal masuk wishlist nih kayaknya.

    BalasHapus