Minggu, 20 September 2015

Oh. My. Gods by Tera Lynn Childs


Paperback 281 pages
Penerjemah: Yonathan Natasaputra
Published: 2008 by Elex Media Komputindo
Rating 3/5

Membaca karya besar macam Harry Potter dan Percy Jackson itu menjadikan saya tidak objektif menilai satu karya yang terbit setelah dua karya besar itu.

Phoebe Castros hanya bermimpi mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan studinya di USC, Los Angeles, dengan bakat alamnya, lari marathon. Sayangnya, mimpinya harus kandas begitu ibunya memutuskan secara sepihak, bahwa dirinya akan menikah dan memboyong Phoebe ke Yunani, di satu tempat antah berantah bernama Serfepeola something. Tidak hanya harus meninggalkan sekolah, rumah, juga sahabat-sahabatnya yang setia menemani selama belasan tahun.

Di tempat barunya, Phoebe bersekolah di Akademi yang kepala sekolahnya tak lain adalah Damian, ayah tirinya, suami baru ibunya yang baru dikenal dua minggu! Kenyataan bahwa mereka memang sedang mabuk cinta, cukup membuat Phoebe hampir muntah. Tapi kenyataan lain akan akademi itu nyaris membuatnya pingsan. Murid-murid akademi ini adalah keturunan dewa dewi Yunani yang semuanya memiliki kemampuan supranatural istimewa, tergantung mereka keturunan siapa. Hah!? Jadi, Phoebe bakal jadi satu-satunya non keturunan dewa dewi dong. Sebagai (mungkin) satu-satunya anak tanpa darah dewa dewi, bagaimana mungkin Phoebe bisa bertahan? Belum lagi KTJ-nya alias Kakak Tiri Jahat-nya, Stella, yang belum-belum sudah menyihir siput di piringnya menjadi hidup. Hiiyyy...


Mimpi Phoebe untuk mendapat tempat di USC juga terancam dengan banyaknya keturunan dewa dewi dengan kemampuan lari yang luar biasa. Ya iyalah. Yunani geto loh, yang pertama kali mempopulerkan Olympiade. Keturunan dewa macam Hermes dan Ares mendominasi cabang olahraga. Phoebe benar-benar harus bekerja ekstra keras. Berteman dengan dua teman lainnya, Nicole dan Troy alias Travatas, cukup membuat hari-hari Phoebe bisa diterima. Geng-geng elit dengan pasukan para cheerleader menjadi geng antagonis disini. Belum lagi cowok guwanteng keturunan Hercules dan satu lagi dewa yang lain (yah, lupaaa), menyimpan misteri dengan arogansinya yang menjengkelkan. Ditambah, rahasia Serfepeola yang tak boleh diketahui dunia luar membuat Phoebe sulit berkomunikasi dengan leluasa dengan dua sahabatnya yang ia tinggalkan di L. A.  Hmmm, hari-hari Phoebe bakal panjang dan melelahkan...

Dari review singkat tadi, sudah terlihat kan ya, mana bagian Harry Potter dan mana bagian Percy Jackson. Oke deh, di review singkat di GR memang menyatakan bahwa kisah ini mengikuti kisah sukses Karya Rick Riordan. Tapi, tentu saja bagian cerita tentang keturunan dewa dewi Yunani ini milik banyak orang. Toh, tak terhitung jumlahnya karya yang mengambil mitologi Yunani ini. Yang sedikit 'berbau' Percy adalah tokoh remaja dengan kekuatan supranatural yang enak saja buat mengerjai temannya, atau beberapa kekuatan yang butuh bertahun-tahun untuk mengontrolnya. Oh ya, akademi yang dimana Phoebe belajar ternyata mirip Hogwarts. Konon, sekolah ini  pindahan dari belahan dunia mana yang seharusnya sudah dihancurkan ribuan tahun lalu, tapi bertahan berkat lindungan para dewa dewi hingga tak terjangkau para nothos, non keturunan dewa dewi alias muggle, eh, manusia biasa. Hukuman yang diberikan pada keturunan para dewa ini karena mengekspos kemampuan supranaturalnya di dunia nothos bisa mengakibatkan hukuman berat, lebih parah lagi, kematian. Jadi inget Harry Potter, The Chamber of Secret dimana Ron dan Harry menerbangkan mobil mengikuti Hogwarts Express menuju Hogwarts. Snape muntab hingga nyaris mengeluarkan Harry dan Ron dari sekolah. Ini tentu menunjukkan betapa seriusnya pamer kekuatan di depan muggle, eh, nothos.

Selain kemiripan yang sebenarnya tidak terlalu mengganggu buat saya, ada juga adegan lucu, misalnya Griffin, cowok nyebeli di awal, ternyata adalah keturunan Apollo juga yang mempunyai kemampuan healing atau attentive, hingga ia tak bisa tahan untuk melihat orang lain dalam kesulitan, dia akan otomatis menawarkan bantuan. Dorongan dari dalam dirinya ga bisa dilawan. Hahaha... Coba keturunan Apollo ada di Indonesia, bakal sibuk luar biasaaa :D Tapi yang cukup menyebalkan adalah kesalahan nama Phoebe dari awal hingga akhir. Saya pikir, ejaan Pheobe itu benar , macam Coraline-Neil Gaiman yang bukan Caroline. Tapi setelah saya cek review/ sinopsis di Goodreads, ternyata memang seharusnya Phoebe. Pantas saja saya selalu risih tiap kali karakter utama disebut-sebut. Typo remeh temeh sih masih bisa dimaafkan, tapi kalo sampai nama orang berubah, dan permanen typo-nya, hadeehhh.... :(( Ohya, saya ngga nyangka buku ini ada terjemahannya hingga saya nemu di tumpukan buku diskonan. Dan lebih ngga menyangka lagi, saya nemu sekuelnya juga di tempat yang sama hahaha... Overall, buku ini lumayan menghibur sih, sekaligus reuni buat saya dengan kisah-kisah tentang dewa dewi setelah menyelesaikan seri Heroes of Olympus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar