Senin, 21 September 2015

The One and Only Ivan by Katherine Applegate


Ebook, Epub format, 194 pages by Play Book
Published January 17th 2012 by HarperCollins
Rating 4/5

Satu hari, saya secara tidak sengaja menonton tayangan On The Spot, tentang tingkah lucu orang utan di berbagai kebun binatang. Mereka terlihat lucu, bebas dan bahagia. Saya langsung teringat dengan ebook yang sedang saya baca saat itu, The One and Only Ivan, kisah gorila yang sedih, meski hidup damai di tempat yang semula ia sebut 'domain' dan berubah menjadi 'cage' alias kandang di akhir kisah.

Ivan, alias si The One and Only Ivan, alias si Mighty Silverback, hampir seumur hidupnya tinggal di sebuah mall, Big Top Mall dengan Mack sebagai pemiliknya. Ivan tinggal di mall tersebut sebagai penarik perhatian pengunjung bersama dengan Stella, si gajah dan Thelma, si burung beo. Sayang, setelah bertahun-tahun menjadi daya tarik, satu hari hilang juga pamor daya tarik mereka. Stella dengan kaki lukanya dan usia yang menua sering kali tertatih selama pertunjukan. Begitu pun Ivan. Pengunjung mulai menurun. Mack harus berbuat sesuatu. jika tak ingin gulung tikar usahanya.

Datanglah Ruby, bayi gajah yang polos, keras kepala dan ingin tahu segalanya. Kedatangannya menyingkirkan Stella yang memang sudah tua dan sakit-sakitan. Sebelum mati, ia sempat berpesan pada Ivan, untuk menjaga Ruby, dan membawanya keluar dari mall. Lebih diharapkan lagi berkumpul dengan habitatnya. Pesan terakhir Stella ini yang kemudian membuat Ivan sibuk: sibuk berpikir, berencana, menyiapkan hati dan beraksi. Si Mighty Silverback berubah menjadi The Primate Picasso, dengan keahlian melukis. Dengan kemampuannya melukis, Ivan berusaha mencari jalan keluar demi masa depan Ruby.


Dikisahkan dari PoV Ivan, dari awal, tone kisah ini terasa sedih. Ivan terasa pasrah dengan keadaannya sebagai daya tarik tontonan mall. Dia bahkan berulangkali menanyakan pada diri sendiri apakah dirinya masih gorila? Apakah gorila begini atau begitu. Ia seolah lupa dengan sejatinya sebagai gorila saking lamanya ia bersama manusia. Minum coke, makan makanan manusia hingga kebiasaan menonton TV. Dia hapal luar kepala film-film yang ditayangkan di TV, mulai dari film coboy hingga romance. Iklan pun juga ia perhatikan. Semuanya berubah begitu Ruby datang. Dia sering kali dipaksa mengingat kejadian yang telah lama berlalu, keluarganya, bapak ibunya dan saudari kembarnya, Tag yang mati dalam perjalanan menuju mall. Ingatan-ingatan masa lalu inilah yang membuat semangat Ivan membara untuk menolong Ruby, dan juga menolong dirinya sendiri.


Humans speak too much. They chatter like chimps, crowding the world with their noise even they have nothing to say. (page 10)

Ada beberapa pendapat Ivan tentang manusia yang membuat kita sebagai manusia berpikir, misal saja keperluan berkata-kata. Aliran kata-kata tak penting sering keluar dari mulut kita, dengan  tujuan entah melucu atau hanya memberi komentar tak penting yang mungkin saja justru menyakiti orang lain. Gorila, menurut Ivan, lebih irit kata-kata, hanya seperlunya saja. Persahabatan antara Ivan-Stella, Ivan-Bob, si anjing penyusup, Ivan-Julia, anak tukang bersih-bersih mall, cukup mengharukan, hingga Ivan-Mack, yang mempunyai masa lalu bahagia bersama. Sayang, bahagia mereka tak selamanya.

Kisah yang dilatarbelakangi oleh kejadian nyata ini mengajak kita untuk mencintai sesama, meski cinta itu tak selalu bersama. Mengetahui yang kita sayangi bahagia, adalah hal yang terindah. Pesan humanis sederhana yang disampaikan oleh si penulis melalui Ivan, si Mighty Silverback.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar