Selasa, 27 Oktober 2015

Senyum by Raina Telgemeier


Paperback 224 pages
Penerjemah: Indah S. Pratidina
Published Juni 2011 by Gramedia Pustaka Utama
Rating: 3/5

Membaca kisah Raina ini mau tidak mau mengingatkan saya pada trauma masa kecil dulu, yaitu dokter gigi dan dokter mata. Dua dokter ini selalu membuat saya bergidik begitu mendengar nama saja. FYI, gigi saya kurang bagus karena banyak makan permen, secara penampilan, kurang menarik, makanya, saya cukup jarang foto close up dengan pamer gigi, tau diri, tauukk, hahaha. Selain itu, mata saya dari dulu memang sudah minus. Mungkin juga faktor keturunan, bapak ibu saya berkacamata, begitu juga kakak adik saya. Tapi yang membuat kisah saya berbeda dari Raina adalah, Raina berani menghadapi tantangan yang berhubungan dengan masalah gigi geligi ini. Sementara saya sering ketakutan, dan yang jelas, kalo pun saya mau menjalani serangkaian perawatan, ngga bakal kebayang segedhe apa biayanya hahaha...

Raina baru berusia 11 tahun, ketika ia mulai menjalani terapi giginya, disusul dengan kecelakaan kecil yang berakibat besar pada kehidupan remajanya. Dua gigi depannya tanggal! Dari sini, mengalirlah kisah Raina dengan giginya, oh, bukan, dengan senyumnya. Berbagai macam terapi, perawatan, pengobatan, penyiksaan, dan segalanya harus dialami Raina. Kawat gigi, headgear, retainer, operasi, pengeboran, semen gigi hingga gips gigi semua harus dijalani Raina demi gigi yang cantik.


Seiring dengan masalah gigi, Raina juga mengalami masa awal remaja, dimana ia harus berurusan dengan teman-teman isengnya, cowok yang ia taksir hingga masalah penampilan dan rasa percaya diri. Ada cukup banyak teman yang memahami masalah gigi Raina tapi tak sedikit juga yang justru mengolok-olok Raina dengan sengaja menggunakan gigi sebagai topik ejekan utama. Untunglah, jaman saya masih kecil dulu, gigi saya bukan topik ejekan, tapi kacamata saya yang berbingkai hitam jadi mengingatkan beberapa teman saya dengan salah satu teman Scoobi Doo. Sebal rasanya dipanggil Scoobi Doo. Saya jadi lebih sering mencopot kacamata saya pergi dan pulang sekolah untuk menghindari olok-olok ini. Oya, saya punya ide brilian waktu beberapa teman saya memanggil saya temannya Scoobi Doo. 'Aku temannya Scoobi, dan kamu pasti Scoobi nya kan?'. Hahaha... Lumayan manjur sih. Lah, kok jadi OOT... :D

Kisah Raina dengan giginya ini berlanjut hingga 4,5 tahun!! Waw, jangka waktu yang sangaatt lama demi mendapatkan gigi cantik. Berbagai macam istilah kedokteran gigi disebut disini. Belum lagi letak gigi Raina yang sebentar mirip Vampir, berapa saat kemudian mirip robot dengan penyangga di wajahnya. Ih, seram. Saya cukup bersyukur dengan keadaan gigi saya, meski kurang cantik, tapi cukup kuat untuk makan kacang goreng, kerupuk yang apkir alias keras, hingga letak gigi geligi yang cukup hingga pengucapan saya cukup bagus dibanding beberapa orang, yang sepertinya karena letak gigi geligi ini, menjadikan pengucapan mereka kurang sempurna. Misalnya huruf S, karena jarak antara gigi, hingga membuat huruf S terdengar Sy. Hmmm, pokoknya, membaca kisah masa kecil Raina ini membuat saya bersyukur dengan kondisi gigi saya.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar