Kamis, 15 Oktober 2015

The Dead Returns by Akiyoshi Rikako


Paperback 252 pages
Penerjemah: Andry Setiawan
Published Agustus 2015 by Penerbit Haru
Rating 4/5

Sekali lagi saya tertipu.

Well, yah, saya memang kurang lihai menebak misteri dalam pembunuhan sih. Dugaan saya, kalo benar, si penulis ini ngga bakal dapat apresiasi sebagus itu di Goodreads. Iya, dugaan saya terlalu cet├ęk. Hiksss...

Takahashi Shinji dibunuh dan bangkit lagi denga jiwa yang berbeda. Di dalam dirinya hidup Koyama Nobuo. Ah, sepertinya bakal sulit menceritakan dua orang yang bertukar jiwa nanti dalam penyebutan nama di review.

Oke, I'll try my best. Gambarimasu :D

Di dalam tubuh Takahashi, ada jiwa Nobuo, yang entah mengapa mengalami kejadian tragis, didorong ke jurang oleh seseorang, dan bersama dirinya, ikut melayang sosok tubuh lain, dan sama-sama jatuh di sampingnya. Mereka pun bertukar jiwa.

Nobuo yang berfisik Takahashi pun kembali ke sekolah Nobuo yang dulu, SMA Higashi. Dia bertemu dengan teman-temannya yang dulu, teman-teman yang selalu mengabaikannya.



.... Meskipun di kelas ini tidak ada bullying, tapi aku nyaris diperlakukan sebagai sosok yang tak kasat mata. Bukan berarti aku tidak dianggap. Bagi teman-teman sekelas, aku yang selalu menunduk dan nyaris tidak mengobrol dengan orang lain ini adalah sosok yang tidak dipedulikan. Intinya, dalam artian tertentu, hal itu lebih menyakitkan daripada bullying. (hal. 17)

Pernah mengalami dicuekin orang-orang sekitarmu? Atau pernah tidak menganggap opini seseorang itu penting, bahkan tak perlu didengar, ternyata itu termasuk kategori bullying. Bagi sebagian besar bullying, terjadi ketika sekelompok anak menyiksa secara verbal atau fisik seseorang. Setiap kedatangan si target bully ini, pasti ditunggu. Sebaliknya, bullying bisa juga terjadi ketika keberadaan kita dianggap tidak pernah ada.

Nobuo merasa mendapat perhatian ekstra dengan tubuh Takahashi yang elok, gadis-gadis memandangnya penuh damba, dan para teman cowok populer yang tiba-tiba mengajaknya bergabung di gang-nya. Suatu hal yang sangat kontras dari yang pernah dirasakan Nobuo. Dalam hati kecilnya, dia bisa bersorak bersyukur dengan fisik barunya, tapi sekaligus terhina dengan kenyataan bahwa jiwanya masih tetap Nobuo, yang pemalu, dan seorang otaku kereta api.

Takahashi a.k.a Nobuo kembali ke sekolah Higashi dengan tujuan mencari pembunuhnya. Dari 35 orang di kelasnya, pasti ada satu pembunuh utamanya. Disana ia kembali bertemu dengan pasangan populer Arai-kun dan Sasaki-kun, yang dari alibinya, di tanggal dibunuhnya Nobuo, tidak cukup meyakinkan. Mereka bisa jadi adalah pembunuh Nobuo. Tanaka Yoshio, teman paling akrab Nobuo, sesama otaku, meski gembira dengan cipratan perhatian dari teman sekelasnya dengan hadirnya Takahashi, cukup mencurigakan. Ada beberapa tersangka lain di lingkaran sekolah Higashi. Jadi siapa sebenarnya pembunuh Nobuo?

Saya cukup puas dengan buku pertama Akiyoshi Rikako, The Girls in the dark, hingga saya tak ragu melanjutkan novelnya berikutnya. Topik bullying sebenarnya sudah banyak dipakai dalam novel atau film, tapi sepertinya ini adalah yang pertama buat saya, kisah bullying dengan target yang dianggap tak kasatmata. Sebenarnya di kelas yang pernah saya pegang, satu kali seorang anak tidak diharapkan di grup manapun. Ketika saya sudah menentukan si A, si B dan si C dalam satu grup, tapi kemudian anggota grup ini dengan cueknya meminta si E untuk bergabung dan tidak menyebut si B, maka ini sudah termasuk bullying. Saya kerap marah dengan murid macam begini. Dan ini sering sekali terjadi di kelas anak-anak. Mereka memilih sesuai keinginan mereka, dan mengacuhkan perasaan yang lain. Dan si B ini biasanya adalah anak pendiam yang kurang aktif atau kurang berbaur dengan yang lain. Dengan kejadian tidak dipilihnya dia ini, sepertinya tidak membuat mereka sedih atau apa. Mereka hanya diam. Mungkin terlalu sering terjadi, atau mereka tak kuasa protes dan memilih bekerja sendiri. Mendengar keluh kesah seorang Nobuo, saya jadi tahu bagaimana rasanya anak yang tidak dianggap. Akibat dari bullying jenis ini pun tak kalah seram dari bullying pada umumnya.

Sekali lagi, Akiyoshi menawan saya dengan ide misteri diramu budaya Jepang yang kental. Beberapa phrasa bahasa Jepang sengaja tidak diterjemahkan karena ini memang bagian budaya atau kebiasaan mereka. Misalnya saja ungkapan 'Tadaema' dan 'Okaeri' untuk ungkapan 'Aku pulang' di serial Dora Emon, dan 'Selamat Datang'. Di banyak dorama Jepang yang saya tonton, ini adalah ekspresi biasa, tapi di hampir ending kisah ini, saya cukup tersentuh dengan ungkapan 'Okaeri'. Ada perasaan 'diterima' dan 'homey' di ungkapan ini. Hiksss... Bisa juga saya tersentuh dengan adegan biasa begini ya :D . Ide pertukaran jiwa ini juga bukan merupakan hal baru, terutama di serial atau film, tapi seingat saya, baru kali ini saya menemukan ide ini di buku. Perasaan was-was Nobuo di dalam tubuh Takahashi tertangkap dengan jelas meski sedikit terkesan berulang-ulang. Ide sedikit misteri (baca: horor) disini tidak terlalu terlihat hingga di akhir kisah. Bocoran seorang teman dengan adanya sentuhan horor ini menambah imajinasi saya akan seperti apa horornya. Apa saya bakal merinding? Apa saya bakal memilih membaca ketika suasana terang ketika adegan misteri ini diceritakan? Yah, jawabannya, baca sendiri yaaaaa :D

2 komentar:

  1. Aku juga udah bacadua buku Akiyoshi Rikako. Dan, aku masih sangat suka Girl in the Dark, deh. Misteri dan teka-teki nya lebih menantang di Girl in the Dark.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa sih, Girls in The Dark emang keren, twist akhirnya ga nyangka. Tapi Dead Returns ini juga keren twist akhirnya, meski masih menang The Girls...

      Hapus