Senin, 05 Oktober 2015

The Scorch Trial by James Dashner


Paperback 511 pages
Published Januari 2012 by
Mizan Fantasy
Penerjemah: Meidyna Arrissandi
Rating: 3/5

Saya pernah membaca satu review di Goodreads yang mengatakan, more or less begini, kadang susah mereview buku karena saking bagusnya hingga susah mereview tanpa spoiler, atau karena jeleknya hingga....enggg...apa ya... Lupa hahaha...

Baiklah, novel seri kedua Maze Runner ini menurut saya ngga masuk kedua kategori diatas, bagus banget, nyatanya sepanjang membaca saya ngomel melulu, jelek banget juga ngga gitu amat, karena di beberapa bagian, saya sempet terkaget-kaget. Tapi terus selebihnya, saya melanjutkan ngomel.

Well, first of all, sorry buat penggemar berat seri Maze Runner ini, dan...ohya, review ini bakal banyak sop ilernya, jadi berhenti disini saja kalo kamu belum membaca bukunya.

Di buku pertama, saya merasa baik-baik saja dengan banyaknya adegan lari-lari di Maze. Tiada hari tanpa lari, lari dan lari. Saya justru membayangkan Maze seram macam buku keempat Harry Potter dimana si Cullen kena Avada Kedavra Si Voldy. Yah, melenceng ke HarPot dehhh... Sementara di buku kedua ini, penulis membawa pembaca ke gurun pasir, panaaass dan berdebu. Cocok banget dengan temperatur Semarang yang panas. Ngga heran, saya sempet bermimpi berjalan di gurun, pas tidur siang dan bangun dengan keringat meler-meler. :D Di Maze Runner, para Glader 'disuguhi' monster Griever, disini ada manusia-manusia Crank yang gila dan proses menjelang gila. Sayang, kadar menjijikkannya masih kalah dengan deskripsi Griever, buat saya sih.


Di Maze Runner, para Glader diuji ketabahan, keberanian, kekuatan, kesabaran dengan rumitnya Maze dan Griever, di buku dua ini, saya mulai merasa permainan WICKED tidak masuk akal dan dibuat-buat. Dimulai dari tanda tatto yang tiba-tiba muncul. Minho muncul dengan tatto pemimpin, Teresa dengan tatto pengkhianat, dan Thomas sebagai (objek) dibunuh. Nah, disini saya mulai kesal. Entah berapa kali Thomas diculik, dipisah dari teman Gladernya hingga dibuat babak belur, hingga harus menikmati akting Teresa sebagai pengkhianat dan kemudian berakhir baik-baik saja. Macam fragmen drama religi jaman TVRI. Jahat di awal, dan bertobat minta maaf di akhir kisah. Sementara teman Glader yang lain, Minho, Newt, Frypan, dll, tanpa dikisahkan melalui kesusahan yang berarti, berhasil juga menuju ke surga yang dijanjikan demi kesembuhan dari virus Flare. Hmmm, tapi dari awal kan buku ini memang diambil dari PoV Thomas? Okeee, tapi tetap saja drama aksi disini, seperti drama aksi buatan yang garing. Kenapa harus ada tatto 'dibunuh' jika yang lain juga mengalami ancaman dibunuh yang sama? Kenapa tatto 'pemimpin' ada pada Minho, jika semua keputusan akhirnya Thomas yang berinisiatif mengambil? Mengapa ada tulisan di seluruh kota gersang itu yang menyatakan bahwa Thomas adalah pemimpin hingga dikejar-kejar Crank untuk dibunuh? Jika uji coba Variabel yang saya ngga ngerti ini ditujukan pada Thomas, ngapain ada banyak aktor aktris lain? Yah, mereka kan pemeran pendukung WICKED? Yah, tetap saja uji coba yang di akhir buku tetap ngga jelas, buat saya, ini membuat saya gondok. Thomas sendiri merasa dipermainkan, gimana saya sebagai pembaca? Hahaha... Saya merasa dicurangi penulis dengan menyuguhkan aksi seru nan dramatis namun cling garing di akhir.

Yah, mungkin otak saya kurang prima hingga kurang mengapresiasi seru dan tegangnya Scorch Trials. Saya cuma merasa segala aksi yang dilakukan WICKED itu adalah uji coba bodoh yang ngga perlu. Kalo ingin menguji ketahanan seseorang dari penyakit Flare, kenapa tidak dibuat sedemikian rupa tanpa melibatkan aksi bak buk satu sama lain yang toh di akhir, mereka bersatu mencari kesembuhan dari Flare. Saya masih suka monster Griever yang menjijikkan dari manusia setengah Crank. Saya lebih suka Thomas hanya punya perasaan pada Teresa daripada harus ada cinta segitiga macam Distopian novels lainnya. Kata teman saya, ini adalah kisah distopia yang sangat 'cowok' hingga ruang untuk romens sangat sedikit. Tapi disini, entah berapa kali Thomas merasa kurang nyaman dengan kedekatannya dengan Brenda, merasa selingkuh meski dia tak merasa ada apa-apa dengan Teresa. Saya berharap trilogi Maze Runner ini benar-benar novel distopia yang scientific tanpa bumbu romens yang terlalu banyak. Mungkin penulis ingin merengkuh pembaca wanita yang umumnya suka bumbu romens? Entahlah...

2 komentar: