Rabu, 04 November 2015

Rencana Besar by Tsugaeda


Paperback 378 pages
Published Agustus 2013 by Bentang Pustaka
Rating 4/5

Sebelumnya, saya hanya mendengar berita tentang beberapa kasus pembobolan bank di negeri sendiri dan sama sekali tidak terlalu memperhatikan kasus kasus tersebut. Apakah pada akhirnya kasus tersebut clear dengan putusan yang memuaskan berbagai pihak, atau sebaliknya, gone into thin air. Beberapa bank berkasus ini kebetulan bukan bank dimana saya mempercayakan tabungan saya, tetapi pernah juga saya dengar kasus yang menimpa bank dimana saya menabung. Dan syukur alhamdulillah, tetap aman kok duit saya yang ngga seberapa ituh... :D

Dunia Perbankan memang sangat asing buat saya, meski Bapak saya almarhum dulu bekerja di bank, demikian juga dengan kakak laki-laki saya dsebelum pensiun dini. Saya tak pernah membayangkan adanya kasus rumit seperti yang dikisahkan di novel perdana si penulis ini.  UBI atau Universal Bank of Indonesia tiba-tiba kehilangan uang sebesar 17 miliar rupiah di pembukuan. Dalam kasus ini, ada 3 nama yang diduga bertanggung jawab atas lenyapnya uang ini. Mereka adalah Rifad Akbar, Amanda Suseno, dan Reza Ramaditya. Mereka sebenarnya adalah pegawai-pegawai UBI berprestasi, kecuali Rifad, yang sedikit 'berbeda'. Rifad dikenal sebagai Patriot dari Serikat Pekerja yang sibuk menyuarakan ketidakadilan di perusahaan. Amanda, lebih dikenal sebagai Loyalis, berseberangan dengan Rifad. Reza, pribadi cerdas yang tak terlalu banyak bicara.

Tapi siapa sangka, mereka bertiga ternyata adalah teman seperjuangan dalam kemelut ketenagakerjaan di UBI. Ada banyak ketidakadilan antara jajaran direksi UBI dan karyawan. Jenjang kesejahteraan terbuka lebar. Pekerjaan dan tekanan pekerjaan menjadi isu utama dalam kemelut ini. Iya sih, dimana-mana, saya rasa, pekerjaan selalu mempunyai masalahnya sendiri, tergantung tingkat keparahannya. Di UBI, kemelut menjadi lebih parah dengan adanya dalang utama yang ternyata berperan penting dalam kemelut ketenagakerjaan plus raibnya uang bermiliar rupiah itu. Pihak diluar UBI dilibatkan disini, Makarim Ghanim, seorang pakar dalam ketenagakerjaan. Ia berperan layaknya detektif yang mencari tersangka utama kasus UBI ini.


Selama membaca, saya cukup berpikir, bagaimana si penulis bisa mendapatkan ide keren dalam memaparkan kejahatan perbankan yang dibalut dengan isu sindikat. Saya kemudian tahu bahwa ternyata si penulis pernah bekerja di perbankan dan melihat sisi kemungkinan adanya kasus yang bisa timbul. Diceritakan secara maju mundur, sekedar memberi tahu pembaca bahwa satu kejadian mempunyai latar belakang tertentu. Sebagai pembaca, saya juga cukup terjebak dalam menentukan siapa gerangan tersangka utama dari 3 nama tersebut. Hingga kemudian muncul nama baru, dan membuat saya sadar bahwa kisah ini bukan sekedar menangkap pencuri uang 17 miliar saja, melainkan ada beberapa isu lain yang disentuh penulis. Gaya bahasa yang enak, cerita seru yang cukup fast-paced, dan font gedhe minim typo bikin betah membaca novel ini. Oke, segera baca buku mas Ade berikutnya, Sudut Mati. Ngga sabar....

1 komentar:

  1. Membaca RB itu menyenangkan mbak.

    Apa lagi nanti di Sudut Mati mbak Lila :)

    BalasHapus