Jumat, 25 Desember 2015

Metropolis by Windry Ramadhina


Ebook, Ijak application 365 pages
Published 2009 by Grasindo
Rating 4/5 

Kurang sial apa saya ini, bukan penikmat serial thriller tapi cukup menikmati buku2 thriller, dalam waktu bersamaan saya membaca dan menonton serial thriller. Yang terjadi kemudian adalah mixed up antara serial dan buku. Bukan karakter utamanya sih (yah, tentu saja, serial J dorama yang saya tonton karakter utamanya adalah anak sekolah yang hacker), sementara Metropolis ini karakter utama dipegang oleh polisi tukang ngerokok. Karakter antagonis yang seringkali saya salah membayangkan hahaha. Si J di Bloody Monday yang sebenarnya cukup cakep adalah Johan Al, anak boss mafia narkotika yang sakit2an. Ah, tau saya kenapa saya sering mixed up, karena initial mereka sama-sama J #alasan :D
Adegan pertama dibuka dengan suasana pemakaman salah satu boss mafia narkotika. Saya sempat salah mengira buku2 tulisan Windry ini adalah buku romens, makanya saya kaget di awal. Lhoh kok adegan pemakaman? Polisi? Narkotika? Setelah beberapa lembar saya baru yakin bahwa ini emang novel thriller. Saya kemudian berasumsi salah lagi, saya pikir Windry Ramadhina adalah penulis novel2 thriller mengingat namanya cukup laris. Menurut teman saya, Metropolis adalah satu2nya novel thriller nya. Hoooooo...gituuu? Hahahaha.... Saya benar2 butuh piknik bacaan, ah, bukan piknik penulis lokal sepertinya.
Enough with my babbling, mari lanjut dengan review.

Agusta Bram adalah polisi yang sudah selama setahun dipusingkan dengan kasus pembunuhan berantai para boss mafia narkotika. Dibantu oleh asisten setianya, Erik, polwan, dia bertekad menuntaskan kasus ini. No matter what! Pembunuhan berantai terhadap 12 boss ini mempunyai pola unik yang susah dianalisa. Masing-masing boss ini tewas dengan kondisi berbeda-beda: overdosis, kecelakaan, tertembak, tercekik, dll. Dari 12 boss, kisah ini mengisahkan kematian 5 boss mafia yang tersisa. Adalah Bram, polisi abu-abu yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan bukti atau sekedar info berharga, baik dari informan terpercaya, hingga bandit sekalipun. Ia rela menukar info berharga untuk kebebasan bandit. Tak ada salah atau benar dalam hidup Bram, yang ada hanya penangkapan bandit meski harus mengorbankan bandit lainnya. Ckckckck...
Para boss mafia narkotika yang tergabung dalam Sindikat 12 ini semuanya bergantung pada usaha cuci uang seorang wanita bernama Aretha, yang kemungkinan bisa menjadi dalang pembunuhan berantai. Muncul pula nama Johan Al, anak boss segala boss mafia yang mati terbunuh sekitar 20 tahun lalu. Miaa, nama yang cukup familiar di kesatuan kepolisian karena ia adalah mantan polisi yang diberhentikan. Nama-nama sudah ada dalam kantong Bram dan Erik, namun bukti yang cukup belum bisa membuat mereka menjebloskan para tersangka ini ke dalam penjara. Sementara itu, si pembunuh berantai meneruskan pembunuhan terhadap 4 sisa boss lainnya. Jadi siapa sebenarnya dalang pembunuhan ini?
Seperti yang saya ceritakan di awal review, saya cukup terkecoh dengan nama penulisnya. Saya pikir, novel dengan judul Metropolis adalah novel berkisah anak-anak muda kekinian di kota besar dengan gaya hidupnya yang audzubillah :D . Ternyata Metropolis adalah tempat nongkrong para boss mafia dan para tersangka dalang pembunuhan. Saya akui, saya bukan pembaca novel2 thriller meski yah, sangat menikmati jalinan kisah disini, tapi tetap saja membuat saya membandingkan antara bacaan saya dengan dorama yang tengah saya tonton. Jika saya bertahan dengan kebrengsekan dan kepahitan di novel ini, dan sentuhan romens yang sangat sedikit, tapi tidak menyisakan haru buat saya. Errrr, sorryyyy. Sebaliknya, saya ngga betah dengan kebrengsekan polisi dan akting para bandit di dorama yang saya tonton. Saya berhenti di episode 7, dan ngga kuat melanjutkan. Jgga tahu nanti apakah saya punya nyali melanjutkan. Halah, hanya film aja kok. Yah, emang sih, hanya film, tapi tetap saja saya nggondoookkk.... aaaarrrgghhh.... Belum lagi jalinan twist bapak-anak, yang bikin saya cukup tersentuh (ternyata saya mati rasa di urusan romens, tapi punya perasaan untuk urusan keluarga wkwkwkwk-saya emang orangnya gitu kok). Meski jarang membaca novel thriller, saya cukup bisa membaca kemana arah penyelidikan ini bakal mengarah. Meski saya akui, si penulis cukup rapi menjalin kisah dalam kasus ini. Saya yang awam dengan kasus serupa ya menikmati saja, tapi tidak cukup kaget dengan matinya si ini dan si itu. Komentar saya cukup: wwoooooo.... matek kabeh! Huakakakaka.... Sementara di dorama yang sedang saya tonton, saya harus beberapa kali meng-pause dialog antara polisi, ternganga dengan cara kerja seorang hacker yang bagai setan bisa tembus dinding, dan patah hati dengan kenyataan si profesor yang ahhhhhhhh.....kok gitu sih, Proooffff???? Tegaaaa dehhhh.....
Eeeehhh.... kenapa hasil review saya jadi begini ya? Mwahahahaha.... review yang absurd :D. Well, I enjoyed the way Windry tells her story, explains things in quite details, and most of all, this is a good start to get to know her, and I'd like to read more of her works. Semoga ada tersedia di Ijak.... diihh... ujungnya nyari gratisan hihihihi....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar