Sabtu, 19 Desember 2015

Rumah Bambu by Romo Mangun Wijaya


Ebook from iJak application,  200 pages
Published 25 Juni 2012 by Kepustkaan Populer Gramedia (KPG)
Rating 4/5

Apa yang saya rasakan selama membaca kumpulan cerpen yang ternyata merupakan yang pertama dan yang terakhir milik Romo Mangun ini? Saya merasa sedang bersepeda di kampung-kampung, memperhatikan apa yang tengah terjadi disana. Satu kampung mempunyai kisah berbeda, kadang lucu, kadang pahit dan kadang bahagia. Tak jarang, saya menggelengkan kepala, mengagumj bagaimana Romo Mangun memotret kehidupan masyarakat kampung dengan begitu detil lagi indah. Buat saya yang hobi blusukan di kampung dengan bersepeda, saya hanya bisa melihat sekilas kehidupan orang-ofang dengan rumah-rumah berderet yang saya lalui sekilas. Saya hanya melihat sekilas warna warni baju yang tengah mereka kenakan, tengah mereka cuci, sekilas yang tengah mereka obrolkan, dan sekilas aroma sabun mandi atau sabun cuci yang semerbak. Well, saya memang bukan jenis observer, hanya penikmat hasil observasi orang dan mengaguminya.


Terdiri dari 20 kumpulan cerpen, Romo mengajak kita menjelajah kampung demi kampung. Ada mbak Pung dengan permasalahan jodohnya yang terlambat,  dan rela mengalah demi adik- adik tersayangnya. Ada Thithut, yang awalnya saya kira adalah nama seorang ternyata adalah nama seekor herpung, herdr kampung yang sudah redup masa kejayaan kegagahannya. Ada Baridin dengan balada ke-wadam-annya. Tak ada jalan lain untuk mencari nafkah selain menjadi 'pengamen wandu' di kampungnya. Ada Siyah, gadis kecil pencuri Cat Kaleng yang ia jual berapapun. Ada juga tragedi menyakitkan bagi Kasirin, pemuda kampung yang gemar membaca, yang mengangankan menjadi penjaga perpustakaan, namun kenyataan pahit menguapkan impiannya (saya sedihhhhh banget pada bagian ini). Ada juga kisah roman berbalut affair yang sangat panas antara seorang istri yang berulangkali menanyakan, apakah ia cinta pada suaminya, ataukah hanya sekedar sandiwara. Pada bagian ini, saya membaca dengan sedikit nggondok sedikit maklum, dan banyak geregeretan.
Hahahaha... Mungkin wanita satu ini merpresansikan banyak wanita menikah yang kurang bersyukur atau masih saja menanykan tentang cinta sejatinya selama hidup pernikahannya. No comment untuk yang satu ini karena belum merasakannya. Selain kisah-kisah yang saya sebutkan tadi, masih ada sekali potert kehidupan lain yang dikisahkan secara apik oleh Romo. Meski ditulis sekitar tahun 1980-1990, saya rasa masih cukup relevam kehidupan masyarakat yang ditulis oleh Romo dalam kumcer ini. eski pada awalnya saya cukup shock dengan nilai rupiah yang disebutkan. Warna hijau pada uang...Errr...seribu? Sebegitu worth it nya uang seribu? Ooohhh... Ternata ini terjadi di tahun 1980an. Pantas saja uang segitu kudu berjuang keras untuk mendapatkannya.

Well, meski membutuhkan waktu lebih dari seminggu untuk menyelsaikan kumcer ini, saya cukup puas dan menikmati perjalanan kisah-kisah dari kampong ke kampong oleh Romo. Kalo ditanya mana kumcer favorit, saya cukup bingung. Ada beberapa ang masih teringat begitu saya menutup buku ini, ada beberapa yang lain yang langsung terlupa, saking pendek tulisannya mungkin. Rheinstein dan Colt Kemarau bisa jadi favorit saya, meski kisahnya pahit-pahit begitu.
tapi dalam kehidupan sehari-hari pahit-pahit terkadang menyisakan kemanisan di ending-nya bukan? Hopefully...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar