Selasa, 24 November 2015

The Shingaling by R. J. Palacio 



Ebook format, 120 pages by PlayBook
Published May 2015 by Knopf Book for Young Readers
Rating 4/5

Membaca spin off ketiga dari Wonder ini sebenarnya saya sudah agak skeptis, apakah akan semenarik Wonder atau spin off sebelumnya. Di spin off 365 Days of Mr. Browne excerpt saja saya tak bisa membuat reviewnya. Menurut saya mirip buku motivasi yang selama ini saya hindari hahaha. Tapi bukan Palacio namanya kalo buku berisi puluhan excerpts itu tidak menarik. Meski yah, dibandingkan dengan Julian chapter, 365 days kalah satu bintang, versi saya sih :D. Membaca The Shingaling sudsh saya mulai beberapa waktu lalu, sempet berganti-ganti dengan ebook Le Petit Prince. Dan akhirnya saya memilih meneruskan membaca The Shingaling diantara hombardir komik Bakuman, dan tentu saja deretan timbunan Jdrama wkwkwkwk...

 Well, OK, enough with the babling... Time to review.


 Hmmm.... Sepertinya, saya mau babling lagi deh sebelum memulai reviewnya. Jaman kuliah dulu, saya pernah memiliki dua gang yang para anggotanya beberapa dari kelas yang sama dan beberapa dari kelas yang berbeda. Mereka rata-rata tinggal di kos yang berbeda. Dan meski tidak seperah murid-murid di Beecher Prep, tetap saja, membuat saya merasa terbelah dua di waktu senggang antara dua mata kuliah. Satu hari saya habiskan dengan gang A dan di hari lain saya bersama gang B. Apakah saya orang populer, ngga juga. Saya ini hanya pengikut kemana angin membawa saya *alibi

Senin, 16 November 2015

The Fill-In Boyfriend by Kasie West



Epub format 219 pages
Published May 2015 by Harper Teen
Rating 4/5

First, I'd like to confess that I was wrong misjudging this book. At first, I thought this book is just another boy-girlfriend thing. From the title itself, it's fill in boyfriend so there must be someone who lost her boyfriend and foundsomeone to replace. And, blame the synopsis, it says that the jerk finally asked her to come back. Ugh! Well, if my judgement was that shallow, why would I kept reading it and finally finished it?

Hmmm....I just need something to distract my mood from an actor I go nuts to.... Yes, I'm shallow. That shallow indeed.

This book is about Gia, an about to graduate student, is considered perfect to her league but still needs some kind of validation to any of what she does. Whatever she does, she uploads to her social media only to get some replies or comments. She has group of friends whom she thought would be at her side, but turn out she is wrong. It gets worse when she is dumped by her boyfriend on prom night, the one she was about to introduce to her best friends. Seeing no way out, she finds a cute guy, sitting, reading (READING, for God sake, and wearing glasses!) in a car next to her being- dump-scene. Out of the blue, she asks him to act as a fill-in boyfriend.

Jumat, 06 November 2015

Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali by Puthut EA


Paperback 160 pages
Published by Insist Press 2009
Rating: 5/5

Belum pernah saya sebegitu menikmati sebuah kumcer hingga sakau di akhir cerpen. Dimulai dengan membawa buku ini ke kantor, karena saya bakal nganggur 100% kalau saya tidak membawa buku, meski seringkali buku itu tidak terbaca hahaha... Membaca cerpen pertama dengan judul yang sama dengan judul kumcer ini, I was totally hooked. Tak peduli kegilaan saya dengan Jdorama yang sedang saya tonton, buku ini menjadi oase di tengah kebosanan romens di dorama mwahahaha...

Satu hal yang menjadi ciri khas dari seorang Puthut EA adalah kisah-kisah realis yang liris. Gaya bahasa yang tak perlu diksi puitis, bahkan sesekali bahasa Jawa yang dibahasa-Indonesia-kan, menunjukkan bahwa cerpen yang mungkin termasuk nyastra ini (karena banyak perdebatan tentang istilah sastra), tidak memerlukan diksi sulit, dan ending kisah yang membuat si pembaca bertanya, "Heh!? Maksudnya?!" Satu garis merah dari satu kisah ke kisah lain adalah sejarah kelam negeri ini di masa komunis, dan sesudah komunis bahkan jauh sesudah masa kelam itu berlalu. Dosa-dosa masa lalu serasa tak terhapuskan seberapa berat siksaan yang telah ditanggung. Di kumcer pertama, ada seorang bapak yang begitu mengidamkan membaca karya Pramudya Ananta Toer. Fotokopian bukunya, rela ia bayar. Si aku, si pemberi fotokopi yang tak rela dibayar. Hingga muncul adegan macam begini:
Ia menarik uang itu, mengembalikan ke dompetnya, lalu mengeluarkan uang dua puluhan ribu tiga lembar. "Mungkin kamu tidak enak karena menukar buku Pram dengan uang bergambar musuhnya," ucapnya sambil kembali menyelipkan uang ke sakuku lagi. (hal. 7)

Saya untung bisa menahan tawa di kelas sambil geleng-geleng kepala...

Kamis, 05 November 2015

LAPORAN PANDANGAN MATA KOPDAR: LUNCH WITH TSUGAEDA




Setelah berkali-kali saling nanya di grup Whatsapp Goodreads Semarang tentang kapan para anggota baca buku yang doyan kuliner ini, akhirnya memutuskan tanggal 1 November 2015 sebagai hari H kopdar dengan penulis buku Rencana Besar dan Sudut Mati ini. Ssstttt… ini yang pertama lo buat kita bikin acara kopdar semacam Meet and Greet dengan penulis.

Sesuai dengan kesepakatan, jam 10.30, segelintir anggota sudah datang ke venue yang ditentukan, Lombok Idjo. Tapi seperti biasa, gelintir besar lainnya moloorrr. Saya sendiri tiba di tempat pukul 10.40, dan hanya menemui Tezar, yang kelihatan bingung sendiri karena kikuk menghadapi dua tamu yang sudah lebih dulu datang hahahaha.. Saya sendiri masih menunggu seorang teman kerja saya yang ternyata tanpa paksaan mau ikut bergabung acara ini.

Setelah heboh sendiri dengan anggota yang datang, saya dan teman2 yang lain mulai memasuki ruang khusus ber-AC yang sudah di booking beberapa hari sebelumnya. Mas Ade alias Tsugaeda, si penulis dan mas Editor Bentang Pustaka yang dipanggil Opan memperkenalkan diri. Saya duduk bersebarangan dengan mas Ade, tapi, eh, kok bingung ya mau ngomong apa hihihihi… Padahal saya sudah bela-belain menyelesaikan membaca Rencana Besar demi ngga songong-songong amat pas mengajukan pertanyaan nanti wkwkwkwk..

Mas Ade Tsugaeda

Akhirnya semua anggota Goodreads Semarang lumayan komplit. Mas Ade mulai membuka acara dengan memperkenalkan diri (ternyata nama penulisnya yang terdengar mirip orang Jepang ini diambil dari bahasa walikan khas Malang. Jadi silakan dibalik saja namanya ya, temans ;)), menceritakan latar belakang passion-nya menulis genre yang kurang popular di Indonesia, yaitu thriller, dan bagaimana ia mendapatkan ide cerita. Beberapa pertanyaan yang diajukan antara lain adalah berapa lama proses penulisan berlangsung, apakah si penulis mengarah pada target pembaca tertentu yang selama ini membaca buku-buku thriller terjemahan atau non terjemahan macam James Patterson atau Toni Morrison atau penulis lainnya. Pertanyaan lain yang ditujukan ke mas Editor antara lain pertimbangan dalam mempublikasikan sebuah buku, apalagi saat ini tengah popular cerita yang selama ini beredar di media online macam Wattpad. Menurutnya, sebuah tulisan yang sudah beredar di media online bisa saja dipublikasikan dengan catatan banyak pembaca, review yang bagus dan beberapa pertimbangan lain. Ketika proses publikasi ini berlanjut, si penulis cerita di Wattpad bisa menghentikan tulisannya, demi penjualan bukunya secara paperback (apa nih istilahnya? :D)

Rabu, 04 November 2015

Rencana Besar by Tsugaeda


Paperback 378 pages
Published Agustus 2013 by Bentang Pustaka
Rating 4/5

Sebelumnya, saya hanya mendengar berita tentang beberapa kasus pembobolan bank di negeri sendiri dan sama sekali tidak terlalu memperhatikan kasus kasus tersebut. Apakah pada akhirnya kasus tersebut clear dengan putusan yang memuaskan berbagai pihak, atau sebaliknya, gone into thin air. Beberapa bank berkasus ini kebetulan bukan bank dimana saya mempercayakan tabungan saya, tetapi pernah juga saya dengar kasus yang menimpa bank dimana saya menabung. Dan syukur alhamdulillah, tetap aman kok duit saya yang ngga seberapa ituh... :D

Dunia Perbankan memang sangat asing buat saya, meski Bapak saya almarhum dulu bekerja di bank, demikian juga dengan kakak laki-laki saya dsebelum pensiun dini. Saya tak pernah membayangkan adanya kasus rumit seperti yang dikisahkan di novel perdana si penulis ini.  UBI atau Universal Bank of Indonesia tiba-tiba kehilangan uang sebesar 17 miliar rupiah di pembukuan. Dalam kasus ini, ada 3 nama yang diduga bertanggung jawab atas lenyapnya uang ini. Mereka adalah Rifad Akbar, Amanda Suseno, dan Reza Ramaditya. Mereka sebenarnya adalah pegawai-pegawai UBI berprestasi, kecuali Rifad, yang sedikit 'berbeda'. Rifad dikenal sebagai Patriot dari Serikat Pekerja yang sibuk menyuarakan ketidakadilan di perusahaan. Amanda, lebih dikenal sebagai Loyalis, berseberangan dengan Rifad. Reza, pribadi cerdas yang tak terlalu banyak bicara.

Tapi siapa sangka, mereka bertiga ternyata adalah teman seperjuangan dalam kemelut ketenagakerjaan di UBI. Ada banyak ketidakadilan antara jajaran direksi UBI dan karyawan. Jenjang kesejahteraan terbuka lebar. Pekerjaan dan tekanan pekerjaan menjadi isu utama dalam kemelut ini. Iya sih, dimana-mana, saya rasa, pekerjaan selalu mempunyai masalahnya sendiri, tergantung tingkat keparahannya. Di UBI, kemelut menjadi lebih parah dengan adanya dalang utama yang ternyata berperan penting dalam kemelut ketenagakerjaan plus raibnya uang bermiliar rupiah itu. Pihak diluar UBI dilibatkan disini, Makarim Ghanim, seorang pakar dalam ketenagakerjaan. Ia berperan layaknya detektif yang mencari tersangka utama kasus UBI ini.

Selasa, 03 November 2015

Dear Santa: Wishlist Secret Santa 2015




Hiiiiii…. 

Aaaaaahhhhh…… Senaaang sekali ketemu lagi dengan event paling ditunggu sepanjang tahun dari BBI ini, SECRET SANTA!!!

Well,terhitung sudah 3 kali saya ikut event ini, dan dua kali saya berhasil menjebak target saya menebak bahwa saya adalah Santa mereka hahahahaha #ketawajumawa..

Tapi kali ini saya bakal bingung bikin riddle apalagi yang bakal mengecoh target saya hahaha… ah, nanti sajalah mikirnya.

Sekarang, saatnya saya kasih bocoran wishlist saya tahun ini. Ngga banyak sih. Tapi beberapa masih bisa ditemui di toko buku, baik online maupun olshop. Jadi ya, my kind Santa, saya tunggu surprise darimuuu...
  

  1.   Little Princes: One Man's Promise To Bring Home The Lost Children of Nepal by Grennan Connor. (Cek Goodreads)
  2.  All Our Yesterdays (Segala Masa Lalu Kita) by Cristin Terril (Cek Goodreads)
  3.  Simple Miracle: Doa dan Arwah by Ayu Utami (Goodreads)
  4. Burial Rites (Situs-situs Pemakaman) by Hannah Kent (Goodreads
  5. Butterflies (Kupu-Kupu) by Susanne Gervay (Goodreads)
Lima aja ya, Santa. Bisa terkabul dua diantara lima itu, huaaaahhh.... saya bakal baca semua di bulan Januari 2016. Janjiii... Kalo salah satunya saja, yah, tentu bakal dibaca juga dong, kan syaratnya ga boleh ditimbun hahaha..


Okay, Santa... Selamat berburu dan semoga wishlist saya ngga susah amat :D

Scene On Three #10: Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali – Puthut EA





Kalau sambal itu absen dari meja makan kami saat sarapan, masing-masing kami mempunyai kalimata ntik untuk meresponsnya. Ibuku akan berkata, Yu Sumi sedang ngambek. Sedangkan bapakku akan mengatakan kalau penjual cabai hijau sedang menikah. Ayundaku lain lagi. Jika sambal itu tidak hadir, ia selalu bilang, siding cabinet batal. Ayundaku memang senang sekali menonton laporan khusus yang ditayangkan TVRI, terutama kalau Pak Harmoko membacakan harga-harga bahan makanan, termasuk harga cabai. Aku sendiri akan bilang, upacara tanpa bendera. Biasanya sebelum makan, aku akan mengeluarkan aba-aba untuk diri sendiri jika tidak ada sambal tersebut di meja makan, “Upacara tanpa bendera, mulai.” (halaman 68)

Membaca deskripsi seputar sambal ini, yang terbayang dalam bayangan saya adalah, keluarga Jawa yang selalu berkumpul untuk sarapan, bagaimana pun keadaannya, semacam, mangan ora mangan asal ngumpul, dan tentu asal ada sambal legendaries yang bisa langsung dicocol di cobek. Kecintaan akan sambal cocol ini sangat umum ditemukan di banyak keluarga Indonesia. Meski, yah, tidak termasuk di keluarga saya. Saya lebih suka sambal jadi yang sudah dimasak daripada sambal mentah yang buat saya pedasnya bikin nangis-nangis, mengalahkan menonton drama sedih sekalipun hahaha…