Minggu, 31 Januari 2016

3 (Tiga) by Alicia Lidwina


Ebook from IJak, 324 pages
Published July 27, 2015 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 3, 5/5

Sedekat apakah hubunganmu dengan sahabat terdekatmu? Apakah sedekat tiga jari membentuk angka tiga yang terdiri dari jari telunjuk, jari tengah dan jari manis? Atau sedekat burung dengan langit?

Saya mendapat rekomendasi buku ini dari Cindy dari blog Let's Read Between Pages. Sekilas, saya sedikit terkejut dengan bacaannya yang bukan 'color'nya. Metropop! Seriously? Setelah saya membaca review nya, saya jadi manggut-manggut maklum karena kisahnya sangaaatttt Jdorama. Dan tak heran, Cindy me rekomendasi buku ini ke saya yang lagi tergila-gila dengan dorama Jepang =)

Dari awal saya sudah merasakan tone yang sangat Jepang: gloomy, depressing, sepi, patah hati, menyesakkan. Nakamura mendapat kabar kematian sahabat dari kecilnya, Hashimoto Chihiro karena bunuh diri. Setelah lama tak bersua, yang dia dengar berita dari sahabatnya ini adalah berita kematiannya! Satu tanda yang ia tinggalkan di apartemennya adalah coretan kurang jelas yang menyerupai angka 3.


Cerita bunuh diri yang terjadi tahun 2013 ini, kemudian flashback ke beberapa kisah masa lalu di tahun-tahun awal pertemuan mereka. Nakamura kecil bertemu dengan Hashimoto kecil di sebuah kursus menggambar yang hanya dihadiri dua murid ini. Kisah kemudian melompat ke sekolah menengah dimana Nakamura kembali bertemu dengan Hashimoto setelah mereka tak lagi bertemu di kursus menggambar. Disini, mereka juga bertemu dengan Sakamoto, satu-satunya pria yang nanti akan mengisi hari-hari persahabatan mereka. Mereka bertiga, dengan karakter yang berbeda satu sama lain, disatukan dalam satu mimpi yang sama, yang akan mereka wujudkan kelak. Sebuah janji.

Sakamoto tumbuh menjadi cowok populer, yang digandrungi banyak cewek, Hashimoto dengan kebiasaannya diam di kelas, menatap langit, dan Nakamura yang menjadi cewek yang biasa-biasa saja, tidak menonjol. Lucunya, mereka selalu nyambung ketika mereka bersama. Mereka seperti satu badan yang saling mengerti satu sama lain. Sakamoto dan Hashimoto tumbuh besar dengan nasib yang sama, yatim piatu dan besar di orangtua angkat, dan ini yang membuat Nakamura merasa menjadi outsider di antara mereka. Seberapa pun kuat keinginan mereka mewujudkan impian mereka, ada saja perasaan Nakamura yang selalu menjadi outsider.

Mereka beranjak dewasa dan mulai memasuki gerbang dunia kerja. Nakamura, si gadis biasa-biasa saja ini mulai limbung dengan kedua sahabat nya yang mulai bekerja. Apartemen yang mereka tinggali bersama sekian tahun, tak lagi menjadi zona nyaman mereka. Tempat kerja dengan lokasi yang jauh, membuat Sakamoto harus meninggalkan apartemen penuh kenangan mereka. Nakamura penuh dengan pikiran dan perasaannya sendiri, hingga ia memutuskan meninggalkan mereka, dan memilih tidak lagi berhubungan dengan mereka. Hingga kemudian ia kembali bertemu Hashimoto dalam wujud tanpa nyawa.

Terus terang, saya pikir novel ini adalah novel misteri dengan diungkapkannya motif kematian Hashimoto. Atau mungkin ada dalang dibalik kematian Hashimoto yang kemungkinan didorong dari lantai atas. Tapi ternyata, sepanjang kisah, saya disuguhi masa lalu Nakamura dan dua sahabatnya ini. Maju mundur maju mundur. Terkadang, saya justru malas membaca bagian flashback ini, lebih menikmati saat-saat mourning-nya Nakamura dengan 'hantu' Hashimoto di sampingnya. Saya berharap ada clue, tentang mengapa dan siapa yang berhubungan dengan kematiannya. Sayangnya, bodohnya saya, harapan saya tinggal harapan. Seperti yang saya bilang, novel ini sangaat dorama dengan plot yang lambat dan ending menggantung yang membuat saya seperti "Haahhh??!! Sudah? Segini aja epilognya?!!!"... huuuffttt.... Harusnya saya sudah menyiapkan diri dari awal bakal menemukan ending begini. Satu hal yang saya suka adalah, si penulis tidak berusaha menggurui pembaca dengan bahasa Jepang yang bertebaran, seperti novel yang saya baca tempo hari hihihi.... Istilah Jepang sangat proporsional dengan catatan kaki yang memadai. Bagian gloomy-nya dapat banget, apalagi depressing-nya yang nyaris membuat saya ganti bacaan :D . Bagian mengharukan justru muncul ketika saya membaca email Sakamoto untuk Hashimoto tentang Nakamura. Aaahh... romens yang minim ini juga dorama sekaleeee.... =)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar