Minggu, 10 Januari 2016

Characters in A Tree Grows in Brooklyn



Poster filmnya yang diambil dari IMDB

Selama membaca, saya mempunyai bayangan untuk menuliskan beberapa karakter dalam novel ini. Sekecil apapun perannya di novel ini, semuanya diberi porsi penting oleh Betty Smith, si penulis.

Oya, sebagai peringatan, penulisan karakter ini, bisa dianggap spoiler. Jadi jika tak mau terlalu ‘memakan’ spoiler, silakan berhenti saja sampai disini membaca posting ini :D 


Katie Nolan

Sebelum menikah dengan Johnny Nolan, Katie yang memiliki nama asli Katherine Rommely. Lahir dari ibu Austria, keluarga Rommely adalah pendatang di Negara setempat. Mary, ibu Katie, memiliki 4 anak perempuan, yang semua ia didik dengan keras, hingga membentuk kepribadian seperti mereka ketika dewasa. Kemiskinan telah menghimpit mereka semenjak Katie kecil, hingga ia menikah. Wataknya yang keras, tapi lembut tehadap anak-anaknya adalah cerminan bahwa ia tak ingin anak-anaknya menjadi seperti dirinya. Sebagai istri Johnny Nolan yang tak memiliki pekerjaan tetap, ia bekerja sangat keras menjadi tukang bersih0bershi flat0flat di sekitarnya. Meski demikian, ia memimpikan pendidikan tinggi bagi putra-putrinya. Sebagai anak, ia sangat berbakti pada ibunya. Nasihat yang terdengar cukup mustahil pun ia lakukan; membaca dua buku wajib setiap hari: Bible dan karya-karya Shakespeare, dan menyimpan kaleng berisi receh sen di kolong lemari meski setiap hari mereka harus berjuang mendapatkan sen demi sen. Sebagai wanita yang dewasa di saat itu, Katie juga cukup memiliki pikiran modern, selain menginginkan pendidikan tinggi bagi anak-anaknya, bahkan untuk Francie, ia juga cukup menjadi konsultan yang baik ketika Francie menginjak dewasa, menjelaskan bagaimana dan dari mana bayi lahir, meski ia sedikit khawatir dengan beberapa istilah yang ia anggap kotor. Katie juga bisa menjelma menjadi induk yang ganas ketika anaknya terancam bahaya. Ia berhasil menembak seorang laki-laki kurang ajar yang nyaris mencabuli Francie. (saya cukup tegang pada bagian ini. Akankah Katie berhasil membunuh laki-laki cabul itu?)

Johnny Nolan 

Bertampang ganteng dan bersuara emas. Kalo dipikir-pikir, kenapa nasib buruk selalu berada di pihak Johnny kecuali ketika ia mendapatkan Katie? Ia bisa jadi penyanyi di kafe-kafe atau bar setempat, atau lebih bagus menjadi actor di masa itu. Kemampuannya berdansa juga menjanjikan karir yang bagus. Sayangnya, keluarga Nolan yang semuanya pria, mempunyai kebiasaan buruk, yaitu minum hingga mabuk. Hampir semua keturunan Nolan mati muda, dengan penyebab yang sama, mabuk. Meski dikenal tukang mabuk namun Johnnya adalah ayah yang baik, terutama bagi Francie yang merasa ibunya lebih sayang pada adiknya. Dengan akal cerdiknya, ia bisa memindahkan Francie ke sekolah yang ia inginkan, meski sekolah pada waktu itu hanya menerima murid dari rumah di sekitar sekolah setempat. Kisah-kisah yang diceritakan Johnny pada Francie, menjadi kenangan sekaligus inspirasi bagi Francie ketika ia dewasa. 

Francie Nolan

Sejak kecil, kemiskinan sudah menjadi temannya. Ketika teman-temannya saling berkumpul, ia hanya bermimpi memiliki satu atau dua orang teman yang sayangnya tak ada yang mau berteman dengannya. Hiburannya adalah membaca sambil duduk di tangga rumahnya, dinaungi pihon besar yang tumbuh di halaman flatnya. Buku-buku yang ia baca, semuanya klasik dengan jumlah halaman yang membuat saya berpikir berapa kali untuk membacanya hahahaha… Francie, memiliki sifat-sifat keras mirip ibunya, Katie, yang mungkin inilah yang membuatnya mereka terkadang kurang akur. Berbeda dari Katie, yang benci dengan kata ‘donasi’ atau ‘bantuan’, Francie, beberapa kali memanfaatkan donasi ini demi keinginannya sendiri, bahkan ia tak segan melakukan kebohongan yang ia bawa berhari-hari hingga ia akhirnya tahu bahwa itu ternyata bukan kebohongan (ia mengaku bernama Mary demi mendapatkan boneka bernama Mary yang ternyata ia akhirnya tahu bahwa nama baptisnya ternyata adalah Mary, nama neneknya). Kecerdasannya, kegigihannya dan kecintaannya pada keluarga membentuk karakter Francie, yang sangat berbeda dari gadis-gadis seumurnya.

Cornelius Nolan atau Neeley

Ia lahir satu tahun setelah Francie lahir. Ia mungkin adalah satu-satunya teman Francie di segala suasana, alih-alih teman perempuan di luar flatnya. Berbeda dengan Francie, Neeley berteman dengan bocah lain sama gampangnya dengan Johnny dipecat dari pekerjaannya. Ia belajar dan bekerja sama kerasnya dengan Francie. Ia memiliki sebagian sifat-sifat dan bakat ayahnya, penyayang keluarga serta memiliki suara yang bagus. Ketika ia berusia empat belas, ia juga bekerja di bar, bermain piano dan menyanyi. Kata Francie, yang membedakan Neeley dengan ayahnya adalah, Johnny menyanyi untuk orang lain, menyanyikan lagu-lagu untuk orang lain, sementara Neeley menyanyi dan bermain piano untuk diri sendiri di tempat umum.

Bibi Sissy

Seperti yang saya tulis di review, bibi Sissy ini memiliki sifat-sifat unik yang terkadang kocak tak berkesudahan. Di sisi lain, ia memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan. Ia menikah tiga (atau empat kali  ya?), dengan pria-pria yang ia panggil John—tak peduli siapa nama asli mereka,  yang memberinya bayi-bayi yang mati ketika mereka lahir. Bibi Sissy adalah penggemar anak-anak Katie, hingga kasih sayangnya tak bisa diukur lagi. Ia pernah (tak) berniat mencuri sebuah sepeda anak-anak demi menyenangkan keponakannya. Ia rela adu ngotot pada tetangga, yang justru membuat keluarga Nolan ini harus pindah ke kompleks baru. Tubuh seksi dan kerlingan genitnya juga menyelamatkan Francie dari bully guru kelasnya di sekolah yang lama. Tak terhitung berapa banyak yang sudah dilakukan Sissy demi keluarga Nolan yang tak diketahui oleh Katie atau Johnny, hanya Francie yang tahu. 

Nenek Mary Rommely

Berhati emas dan baik hati, Mary bertemu jodohnya di tanah yang baginya asing. Thomas Rommely adalah pria jelmaan iblis, menurutnya sendiri dan menurut Mary, yang begitu kejam padanya. Mary adalah sosok relijius yang sangat percaya takhyul hingga jampi-jampi. Berbahasa Inggris patah-patah, ia ngotot semua anaknya harus berbahasa Inggris dan melupakan bahasa Jerman yang merupakan peninggalan Thomas. Kemiskinan yang ia alami sebagai pendatang membuatnya tangguh yang kemudian ia tularkan pada anak-anaknya. Nasihatnya pada anak-anaknya terutama pada Katie merupakan hal-hal yang ia lakukan juga selagi muda, kecuali membaca Bible dan Shakespeare karena ia buta huruf. Ia yakin anak-anaknya juga cucunya akan mendapat kehidupan yang lebih baik karena mereka berpendidikan. Sebuah pemikiran yang luar biasa bagi seorang wanita pada waktu itu. 

Well, sebenarnya masih banyak sekali karakter menarik yang ada di novel yang terbit pertama tahun 1940 ini. Tapi saya menganggap 6 karakter di atas yang paling mempengaruhi kehidupan Francie khususnya dan keluarga Nolan pada umumnya. Nenek Mary dan bibi Sissy selalu ada ketika keluarga Francie mendapat masalah. Mereka membantu tidak dengan kekuatan magis atau uangnya, karena mereka sama miskinnya, melainkan mereka ada ketika masalah menimpa. Dan itu cukup. 

Terakhir, membaca novel ini, saya sekaligus serasa membaca banyak karakter yang kompleks dengan segala sisinya. Betty Smith tidak melulu menggambarkan protagonist yang selalu baik, dan pendukung karakter lain tidak kalah menariknya. Hanya sekedar pemeran lewat, seperti Joanna, tetangga Francie, yang hamil dan kemudian harus menanggung bayinya sendiri pun, cukup memberi pengaruh bagi cara berpikir Francie ketika ia cukup dewasa. 

Dan inilah profil penulis buku A Tree Grows in Brooklyn, yang saya ambil dari Goodreads


Betty Smith (AKA Sophina Elisabeth Wehner): Born- December 15, 1896; Died- January 17, 1972

Born in Brooklyn, New York to German immigrants, she grew up poor in Williamsburg, Brooklyn. These experiences served as the framework to her first novel, A Tree Grows in Brooklyn (1943).

After marrying George H. E. Smith, a fellow Brooklynite, she moved with him to Ann Arbor, Michigan, where he pursued a law degree at the University of Michigan. At this time, she gave birth to two girls and waited until they were in school so she could complete her higher education. Although Smith had not finished high school, the university allowed her to enroll in classes. There she honed her skills in journalism, literature, writing, and drama, winning a prestigious Hopwood Award. She was a student in the classes of Professor Kenneth Thorpe Rowe.

In 1938 she divorced her husband and moved to Chapel Hill, North Carolina. There she married Joseph Jones in 1943, the same year in which A Tree Grows in Brooklyn was published. She teamed with George Abbott to write the book for the 1951 musical adaptation of the same name. Throughout her life, Smith worked as a dramatist, receiving many awards and fellowships including the Rockefeller Fellowship and the Dramatists Guild Fellowship for her work in drama. Her other novels include Tomorrow Will Be Better (1947), Maggie-Now (1958) and Joy in the Morning (1963).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar