Senin, 22 Februari 2016

(Cerpen) Padang Rumput Afrika by Ray Bradbury


Judul asli: the Veldt
Penerjemah: Maggie Tiojakin
Baca di @fiksilotus

Sudah lama sebenarnya saya mendengar @fiksilotus ini, tapi entah, dulu saya oernah tertarik membeli bukunya yang berisi kumpulan cerpen terjemahan dari belahan dunia, tapi waktu itu saya kebetulan membaca satu cerpen yang membuat saya roaming banget hingga saya meletakkan kesan saya pada cerpen2 di fiksilotus adalah crpen2 yang tergolong berat, hingga otak teflon saya tak mampu mengunyahnya :D

Baru-baru ini, saya tiba-tiba di follow oleh @fiksilotus. Saya berpikir, fiksilotus yang itu kah? Setelah saya melihat timeline-nya, ternyata memang benar yang itu. Dan saya pun tak ragu mem-follow juga :D. Setelha melihat timeline-nya, saya tertarik membaca satu cerpen milik Ray Bradbury berjudul Padang Rumput Afrika. Nama Ray Bradbury sendiri sudah saya kenal lama dan satu bukunya menjadi wishlist saya selamanya karena sampe sekarang masih berupa wishlist *_- (pundung)... 

Cerpen ini dibuka dengan dialog antara suami-istri George dan Lydia. Sang istri menginginkan suaminya untuk menengok kamar bermain anak-anak mereka, Wendy dan Peter. Cerita bergeser ke ruang bermain yang membuat saya mangap. Wooooowww..... Ini adalah kamar angan-angan saya selama ini. Selama ini saya mengangankan satu kamar yang berisi deretan rak buku dengan bukunya tentu, kemudian satu stationed bike atau treadmill dengan layar tancap sebesar, seluas dan setinggi tembok yang nanti bisa saya setel entah film, entah apa aja yang berhubungan dengana alam, dan saya berasa berlari atau bersepeda di alam terbuka. Tapi ruangan di kamar bermain milik anak-anak Geroge ini luar biasa. Ray tidak melupakan memasukkan unsur semua indra di dalamnya. Ruangan bermain ini tidak hanya berisi film yang tadi saya bayangkan, melainkan memiliki satu sensor canggih yang akan mengenali apa saja yang sedang dibayangkan dalam benak Peter dan Wendy.


Seperti judulnya, bisa dipastikan, ketika George dan Lydia sampai di kamar bermain, yang mereka lihat adalah padang rumput Afrika lengkap dengan hawa panas, bau-bau tanah kering hingga penduduknya, singa-singa dengan mulut yang masih mengalirkan darah dari santapan mereka. Dari sini saja sudah terasa adventure-nya. Adventure yang berasa brutal dengan menghadirkan singa-singa pemangsa. Kisah kemudian bergeser ke tempat tinggal George. Rumah ini memiliki dinding kristal yang merefleksikan potongan film yang berada di balik layar kaca diolah dengan warna super sensitif dan berkapasitas reaktif terhadap segala indra manusia. Semua itu berkat tipuan mesin odoforonik dan sonik. Kecanggihan tidak hanya dimiliki ruang bermain anak, tapi juga di seluruh rumah Geoge yang ia bangun dengan beratus dollar. Di setiap sisi rumah, mereka memiliki mesin yang bakal melayani mereka layaknya robot. Memasak, mencuci, hingga memasangkan tapi sepatu-pun tak dilakukan para penghuni rumah!!! Ga kebayang betapa bosannya kehidupan di dalam rumah ini, kecuali ketika kita berada di dalam kamar bermain.

Melihat apa ada di dinding kamar bermain, membuat George dan Lydia harus melakukan sesuatu. Mereka tak pernah berpikir bahwa kedua anak mereka terobsesi dengan kematian hingga menghadirkan binatang pemangsa. Seorang psikolog dipanggil ke rumah George untuk melihat apa yang terjadi pada Peter dan Wendy. Saran si psikolog hanya satu: matikan seluruh mesin dalam rumah dan hidup normal layaknya manusia lainnya!!! Sayangnya, nasihat yang disetujui oleh George dan istrinya ini mendapat kecaman kuat dari anak-anak mereka...

Selama membaca, saya sudah membayangkan, kengerian macam apa yang bakal mengakhiri kisah ini. Ternyata kengerian ini terbukti. Meski yah, target-nya sedikit berbeda dari apa yang ada dalam bayangan saya. Tapi kemudian saya membayangkan, apa yang ada dalam benak Ray ketika menulis cerpen ini? Cerpen ini ditulis tahun 1950, masa yang sangat jauh dari segala kecanggihan seperti saat ini. Memang sih, robot sudah mulai dikenalkan sekitar tahun 1921 oleh Karel Capek, seorang penulis dari Chechnya. Tapi tetap saja, membayangkan segala pekerjaan rumah dari yang berat hingga paling sepele dikerjakan oleh mesin itu luar biasa. Betapa Ray adalah seorang visioner yang bisa membaca apa yang bisa terjadi di masa puluhan tahun yang akan datang. Komunikasi yang kaku antara orangtua dan anak-anak juga terjadi akibat mesin. Dan itu terjadi pada George dan anak-anaknya. Kebosanan dan stress tingkat tinggi juga merupakan imbas dari teknologi super canggih. Lydia tak lagi merasa dibutuhkan di rumah karena segala sesuatu dilakukan mesin. George tak lagi mengenal anak-anaknya ketika ia menemukan padang rumput Afrika, alih-alih Aladdin atau Alice. Sindiran Ray terhadap orangtua dan efek negatif teknologi dari cerpen ini sangat menohok. Luar biasa. Saya jadi ingin mengakhiri wishlist Fahrenheit 451 saya untuk segera mewujudkan membacanya. Syukur-syukur membelinya :D

1 komentar:

  1. Sama gan, aku juga suka kamar bermain anak mereka. Tapi, ya itu, agak ngeri juga ._.

    Fiksi lotus emang tempat nya cerpen berkualotas gan, aki juga sering baca disitu, dan ini salh satu favorit ku.

    Baru tau kalo ada Blog pecinta buku - keren, salam kenal Gan (:

    BalasHapus