Minggu, 06 Maret 2016

All Our Yesterdays (Segala Masa Lalu Kita) by Christin Terril


Paperback 440 halaman
Alih bahasa: Maria Lubis
Published 2015 by Gramedia Pustaka Utama
Rating 4/5 

Apa yang kau harap dari mesin waktu? Memperbaiki dunia? Mengembalikan orang yang kau kasihi yang telah tiada?

Pada dasarnya ruang dan waktu sebenarnya adalah sesuatu yang sama, semacam film raksasa yang terentang sepanjang jagad raya yang disebut ruang-waktu. Objek-objek padat menekuk lembaran ruang waktu ini, seperti trampolin yang menjadi cekung saat seseorang berdiri diatasnya. Jika kita memiliki sesuatu yang cukup berat, yang luar biasa berat, benda itu bisa melubangi trampolin tadi (halaman 83). 
Em selalu berpikir ada sesuatu di saluran air tempat ia di penjara dalam sel yang gelap. Bersama dengan Finn, sesama penghuni penjara sebelah, ia menyusun rencana-rencana untuk kabur, untuk menghancurkan mesin waktu bernama Cassandra. Ia telah melakukan ini berbelas kali, dan selalu gagal dan ia serta Finn kembali mendekam di penjara. 

Empat tahun sebelumnya, Marina, gadis 16 tahun, jatuh cinta pada sahabatnya yang jenius, James Shaw. Bersama dua sahabatnya yang lain, para cewek, ia sibuk menyusun rencana 'menembak' James demi perasaannya. Tanpa ia sadari, James pun sibuk dengan hal yang ia tak pernah pikirkan; rumus-rumus rumit demi terciptanya sebuah mesin waktu... 

Kakak James, Nate, seorang politisi berbakat yang digadang gadang bakal menjadi senator, dan diramalkan memiliki jalan karir mulus menuju kursi presiden, tak disangka tertembak di sebuah acara kenegaraan. Pada saat yang sama, Em dan Finn kembali dengan misi, membunuh otak utama pembuat mesin waktu, James. 


Misi Em ini bisa saja berjalan mulus jika ia tidak pernah menyimpan perasaan pada James, 4 tahun lalu, saat ia bernama Marina. Bersama Finn, sahabat terdekat James, Em berusaha menjalankan misinya. Kesempatan datang berulang kali padanya, sayang perasaan sayang Marina pada James masih tertinggal dalam diri Em. Harapan James untuk berubah ketika mengetahui ia bakal menjadi monster di masa depan, sedang dipertaruhkan.... 

Saya tak menyangka kisah fantasi ini begitu membuat saya nagih. Sekian lama tak mencicip kisah fantasi membuat saya berulang kali memiliki fantasi, seperti apa jika saya memiliki satu kesempatan menggunakan mesin waktu. Em menggunakannya untuk berusaha mengubah James, jika mungkin membunuhnya, James menggunakannya untuk mengembalikan orang-orang yang ia kasihi yang telah tiada, ia juga gunakan untuk kepentingan dunia, dengan cara yang tak pernah Em dan Finn bayangkan. Alur maju mundur cukup mudah diikuti karena penulis menggunakan point of view berbeda, Em dan Marina. Terkadang saya berharap biarlah Em yang survive di akhir kisah, tapi ketika PoV berpindah ke Marina, mengetahui kata hatinya, harapan saya pun berubah. Meski Marina lebih muda terkadang mengesalkan, tapi di beberapa scene, Em pun juga cukup mengesalkan dengan membiarkan kesempatan menembak James berlalu begitu saja. Sifat lemah ini cukup terbayar di akhir kisah yang, meski saya harapkan begini, tapi tetap saja membuat saya bengong. Hah! Kenapa begini??? ⊙_⊙

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar