Selasa, 15 Maret 2016

Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq


Paperback 334 halaman
Published Bandung 2014 by DAR Mizan
Rating 3/5
Ini adalah buku pertama dari Pidi Baiq yang saya baca. Kesan saya, errrrrrrr.....oh, begini ya, konyol dan beberapa jokenya lumayan lucu buat saya. Temanya sendiri romance masa abege tahun 1990 yang tidak terlalu menye menye, tapi berasa terlalu manis, sangat manis, hingga saya nyaris sakit gigi :D
Buku ini semacam buku harian Milea Adnan Hussain, gadis geulis kelas 2 SMA. Dia anak baru di sekolah di Bandung. Di hari awal awal sekolahnya, ia bertemu dengan pemuda aneh yang tiba tiba meramalnya bakal ketemu lagi di kantin sekolah. Tidak hanya itu, si pemuda ini yang ketahuan bernama Dilan, secara terang terangan menunjukkan rasa tertariknya pada Milea. Ia bahkan tahu situasi dimana ia punya banyak saingan untuk mendekati Milea.

Dia minta kertas, lalu kukasih. Di kertas itu ia nulis: Informasi: Daftar orang-orang yang ingin jadi pacarmu: 1. Nandan (kelas 2 Biologi) 2. Pak Aslan (guru olahraga) 3. Tobri (kelas 3 sosial) 4. Acil (kelas 2 fisika) 5. Dilan (manusia)
Setelah itu Dilan mencoret nama-nama dari angka 1-4, kecuali namanya, karena ia yakin bahwa ia akan berhasil menjadi pacar Milea huakakaka.... PD tingkat dewa ini sih. Well, gaya pendekatan Dilan memang bisa dibilang unik, sedikit norak dan kalo ini terjadi di depan saya, mungkin saya akan bilang, so sweettt untuk aksinya, sekali atau dua kali, tapi kalo ini terjadi berulang kali, saya mungkin muntah2, hahahahaha.... Beruntung Milea yang pada waktu itu masih berpacaran dengan Beni, menganggap yang dilakukan Dilan itu cute, sweet dan berulang kali membuatnya ketawa hehehe hehehe mulu yang lama-lama bikin saya bosan. Beberapa kali memang Milea bisa merespons omongan Dilan yang ajaib, tapi selebihnya hanya haha hehe aja, sampe saya mikir, Milea ini kurang cocok dengan ke-cool-an Dilan. Belum lagi kenarsisan Milea yang berulang kali menuliskan apa yang ia dengar dari orang lain mengenai dirinya, cantik, cantik, cantiiikkkk mulu. Dari foto yang ada di illustrasi buku memang menunjukkan Milea ini cantik, tapi dari isi buku hariannya, saya menilai, kelebihan Milea hanya di cantik aja. Sebaliknya, sosok Dilan digambarkan ala superhero yang slengean, kurang ganteng aja sih. Dari background nya, anggota gang motor saja, kita pembaca sudah bisa membayangkan si Dilan ini pasti cowok banget, belum lagi otak encernya dan kecintaannya akan buku dan sastra. Jika sosok Dilan ini ada di tengah anak-anak Goodreads, sudah pasti ia jadi bintang idola :D *mungkin ini obsesi terpendam penulisnya? Hmmmm.... saya sih ngga kenal latar belakang Pidi Baiq sih :D
Overall, novel pertama dari dwilogi Dilan ini sangat menghibur, tak perlu mikir keras untuk memahami ceritanya, bahasa Sunda yang tersebar disini pun sudah diterjemahkan oleh Milea. Jika kau ingin bernostalgia dengan kota Bandung di tahun 90 an, buku ini cocok untukmu. Saya jadi kangen Noni, kisah detektif Semarang tahun 90an yang keluyuran di penjuru kota Semarang, kota dimana saya lahir dan dibesarkan.

3 komentar:

  1. Mbaaak, ini buku punya siapa? Pinjam dooonk.... heheheee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Punyanya Dince, Kaaa... Mau kukirim ke Purwokerto apaaa???

      Hapus
    2. Lha besok aku berangkat ke Semarang kok, mbak....heheheeee

      Hapus