Senin, 28 Maret 2016

Ho(s)tel by Ariy dan Sony


Paperback, 190 pages
Published September 2013 by B-First (Bentang Pustaka)
Rating 3/5

Petualangan dua backpacker di perhotelan dan perhostelan yang kadang bikin manggut manggut, kadang bikin mangap karena ga nyangka, dan banyak kali bikin ngikik. Dari sedikit saya melakukan perjalanan, memang akomodasi yang murmer selalu menjadi pilihan utama, tapi kenyamanan tetap nomor satu. Saya jadi ingat satu perjalanan saya dengan seorang teman, yang saking kepingin ngicip sensasi petualangan yang berbeda, kami menolak untuk menginap di satu penginapan yang sudah dijanjikan oleh guide yang bakal menyambut sekaligus menemani kami selama di Lasem. Kami pingin tidur dimana saja kami pingin, yang jelas di dalam mobil, entah itu di rest area atau di alun2 setempat. Pilihan kami adalah alun2. Tapi belum ada 10 menit kami nongkrong di dalam mobil, kami sudah mulai merasa panik dengan banyaknya cowok cowok ga jelas yang menurut teman yang matanya lebih awas, sudah mulai jelalatan memandang ke arah mobil. Ga tahan lama, teman saya langsung ngacir dari tempat parkir alun2 setempat. Saat itu sekitar pukul 22.00 atau lebih ya... Serem ih...


Esoknya, setelah perjalanan bersama mas.guide, sore setelah maghrib kami diajak ke rumah yang katanya kosong, dan biasa disewakan untuk pendatang atau tamu yang ia temani. Namun, melihat pintu gerbang yang tinggi, dan teras yang remang remang, dan tempat parkir di halaman yang cenderung gelap, membuat suasana jadi bikin merinding. Si mas guide lagi membuka kan pintu untuk dua kamar bagi kami, tapi tunggu punya tunggu, kok lama. Sementara teman saya berdoa semoga malam ini tak jadi menginap disitu karena bulu kuduknya sudah berdiri semenjak memasuki halaman rumah. Dan doanya pun terjawab: kunci salah satu kamar patah. Malam itu ia berencana membuka kamar untuk kami dan satu untuk dirinya. Jelas saja kami menolak untuk menginap di tempat 'singup' macam itu tanpa dirinya. Akhirnya si mas mengantar kami ke hotel murah pinggir jalan yang terang benderang. Alhamdulillah. Kami ga jadi mengalami malam mencekam di rumah, yang ternyata dulu punya neneknya yang sekarang sudah meninggal.... :@

Dari buku ini, saya jadi mengingat kembali beberapa perjalanan saya di tahun-tahun lalu, jaman saya dan teman-tean saya masih cukup berduit untuk melakukan perjalanan yang membutuhkan tiket pesawat dan booking hotel atau hostel. Ngomong tentang hostel, saya juga pernah menginap di sebuah hostel yang cukup lumayan nyaman meski di satu kamar, ada sekitar 6 tempat tidur bersusun. Jadi, jika terisi semua, bakal ada 12 orang di dalam kamar. Laki dan perempuan bercampur menjadi satu. Kebayang lah seperti apa. Satu orang teman cukup menyenangkan, sementara yang lain hobi sekali bertanya-tanya tentang saya dan satu teman yang lain. Emmm... Waktu itu saya ikut satu biro tour, yang dari sekitar 8 peserta, hanya saya dan satu teman saya yang outsider. Cukup kesel juga sih. Ohya, hostel ini menyediakan kamar mandi luar yang bertutup, beda dengan satu kisah penulis disini, yang harus mandi di kamar mandi shower tanpa sekat satu pun.... Hiiiyyy.... Seram kalo begini sih. Satu hostel lain yang sangat nyaman dan asik ada di Malaka. Letaknya di pinggir sungai Malaka, yang sering kali lewat kapal-kapal wisata dengan kehebohan penumpangnya yang tiap kali lewat selalu berteriak-teriak menyapa atau sekedar heboh saja. Di pagi hari, mereka menyediakan kompor dan panic untuk membuat the atau kopi, atau mungkin memasak mi instan, dan yang penting adalah WIFI GRATIS 24 JAM... Hahahaha... Maklum, pendatang anya 3 hari ini selalu fakir internet data.

Membaca kisah kisah di dalam buku tipis ini sebenarnya membangkitkan gairah pengen jalan lagi, terutama ke beberapa negara tetangga, yang pada awal saya punya paspor dulu sempet bertekad memenuhi beberapa lembar paspor dengan stempel beberapa negara, namun apa daya, waktu dan biaya yang sering bikin keder untuk mulai merancang perjalanan lagi...hiks...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar