Sabtu, 19 Maret 2016

The Wind Leading to Love by Ibuki Yuki


Judul Asli: 風待ちのひと by 伊吹有喜 
Paperback 342 pages
Published Februari 2015 by Penerbit Haru
Rating 3/5 

Apa yang kau harap dari 10 tahun perkawinan? Rasa nyaman satu lain? Rasa terlindungi? Atau kesetaraan dalam posisi rumah tangga?

Tetsuji Suga, 39 tahun, mengalami semacam flu hati semenjak kematian ibunya. Kondisi rumah tangganya kacau, pekerjaannya terancam dengan cuti 6 minggu untuknya yang kemungkinan ketika ia kembali, ia menjadi pekerja yang tidak berguna. Ia berkunjung ke rumah peninggalan ibunya di Miwashi, rumah anggun dekat pantai yang nyaman dengan suara deburan ombak, dan suara cerewet seorang wanita.....

Fukui Kimiko, 39 tahun, janda yang terkenal dengan legenda Peko-chan yang menempel di dirinya. Peko chan adalah sosok yang dilegendakan para supir truk daerah Miwashi. Konon, jika ada wanita yang meminta tumpangan dan berakhir dengan merapikan rambut si supir, maka keberuntungan akan bersama si supir. Kimiko memang mantan pekerja salon yang selalu gatal melihat rambut laki-laki yang menjuntai melebihi kerah bajunya. Nasibnya sendiri tidak terlalu beruntung dengan meninggalnya suami dan anaknya, dan selama bertahun-tahun, ia menyalahkan diri sendiri. Satu hari, dia menumpang di mobil Tetsuji menuju Miwashi, dan kenangan terhadap anaknya pun kembali bertubi-tubi seiring dengan iringan musik klasik dari rumah Tetsuji.


Membaca novel romance dewasa J-lit ini berasa nonton dorama Kekkon Shinai, dorama para single yg sudah dewasa. Well, belum nonton ding saya, tapi beberapa kali liat klip potongannya di Youtube =) . Meski sudah dewasa, memasuki usia 40, bukan berarti mereka tidak sedang dalam masa pencarian jati diri. Tetsuji yang memiliki masalah dalam rumah tangganya, beberapa kali menyalahkan diri sendiri sebagai pemicu konflik rumah tangganya. Kimiko yang baru mengenal dunia anaknya lewat alunan musik klasik dan drama La Travata alias Putri Kamelia masih saja mengulang dan mengulang kembali kejadian hilangnya anaknya di pusaran air pantai Miwashi. Berulang kali ia berhalusinasi mendengar suara anaknya ketika ia mendengarkan nyanyian klasik Gould. Kedua karakter utama ini tanpa mereka sadari, saling menyembuhkan satu sama lain.

Teman saya yang merekomendasi buku ini dan sekaligus meminjami buku, ka Cindy dari blog Let's Read Between Pages, bilang bahwa banyak sekali piece musik klasik yang disebut disini. Saya kemudian membayangkan membaca ini bakal seperti saya menonton Nodame Cantabile. Tapi ternyata musik utama di novel ini adalah Gould dan opera Putri Kamelia. Baklah. Tapi, by the way, saya setuju dengan Kimiko yang sering kesulitan menikmati musik klasik. Saya yang memiliki koleksi bejibun hasil donlotan saja sering ngga tahu ini musik siapa komposernya, judulnya apa, apalagi musik klasik banyak sekali menggunakan angka-angka dalam judulnya. Eh, ini symphony nomor 7 atau 9, atau 12? Beethoven kan ya? Atau Tjaikovsk? hahahaha... Maklum saja, saya ini mungkin hanya merasa keren saja mendengarkan musik klasik tanpa benar benar memahaminya hahahaha.

Dari segi cerita, cukup bisa ditebak. Ending yang nyaris ngga happy ending tapi ternyata happy ending, sangat khas dorama Jepang. Detil panorama yang diberikan juga mewakili suasana cerita. Karakter-karakternya hampir semua menyenangkan kecuali satu antagonis, apalah sebuah kisah drama tanpa ada sosok nenek sihir didalamnya. Well, ngga sejahat itu sih, tapi yah, happy endingnya tertunda dong :D. Dari sekian karakter, saya paling suka dengan si Madam yang unik tapi hangat terhadap siapa saja. Adegan saling balas pelukan antara Tetsuji dan Madam bikin ngikik juga. Over all, saya jadi pengen tinggal di Miwashi, terutama di rumah ibunya Tetsuji yang penuh CD, DVD dan BUKUUUU..... WAAAAAAAA...... #singkirinTetsujijauh2 :D

2 komentar:

  1. hahaha... aku malah ingetnya dorama Fuyu no Sakura, kenapa dirimu malah ingat Kekkon Shinai :D :D
    *doramanyaaaa!!! doramanya!! bukan pemeran supporting role-nya!!*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eehhh... Maksudku sih ya doramanya, perkara disitu ada Mas Hiroshi Tamaki, yaaa, can't help it....wakakakaka...

      Hapus