Minggu, 03 April 2016

A Lucky Child (Memoar Survivor Auschwitz Semasa Bocah) by Thomas Buergenthal




Paperback 258 pages
Published 2007 by Elex Media Komputindo
Alih bahasa: Shandy Tan
Rating: 3, 5

Entah berapa buku tentang Holocaust yang sudah saya baca, tapi rupanya buku dengan tema serupa ini tetap membuat saya tertarik tapi di saat yang bersamaan,  membuat saya terus bergidik,  terenyuh dan bersyukur, kejahatan terhadap kemanusiaan itu telah berlalu. Yang membedakan buku ini dengan buku2 sebelumnya yang saya baca, buku ini adalah true story yang ditulis oleh survivor-nya langsung. 

Thomas Buergenthal atau Tommy,  harus mengungsi dan sekaligus menjadi tawanan Yahudi ketika ia masih berusia sekitar 5-6 tahun ketika orangtuanya mulai sering mendapat kunjungan tak terduga dari pihak-pihak anti Yahudi. Tommy kecil sudah harus meninggalkan kenyamanan rumah sendiri dan mulai mengikuti kedua orangtuanya berpindah pindah barak pengungsian Yahudi.

Tommy yang lahir di Cekoslovakia, harus berpindah ke Polandia yang beberapa waktu kemudian mulai tunduk pada Jerman dengan kuasa Hitler waktu itu. Dari satu tempat penahahan satu ke tempat penahahan yang lain terus mengisi hari-hari Tommy selama bertahun tahun.  Jika bukan karena keberuntungan dan juga keberanian serta tekad untuk tetap hidup, mungkin Tommy tak bakal mampu menulis memoar ini. Berbagai siksaan, ancaman kamar gas, hingga ancaman penyakit menular mematikan,  Tommy tak bakal menjadi survivor. Di satu saat ia berusaha mengambil hati para tentara yang menawan para Yahudi dengan kemampuan bahasanya. Ia mampu berbahasa Jerman dan Polandia dengan sama bagusnya. Wajahnya yang sangat Jerman, mungkin mengingatkan para tentara itu akan anak, adik atau keluarga yang mereka tinggalkan, hingga faktor tak terduga ini mampu menjauhkan Tommy dari maut.


Ditulis berdekade-dekade setelah kejadian, membuat gaya bertutur Tommy berasa datar, tak ada dramatisasi seperti novel-novel fiksi yang berkisah tentang Holocaust. Kedudukan Tommy sebagai hakim Amerika di International Court of Justice di Den Haag membuatnya telah berdamai dengan kenangan buruk yang terjadi padanya. Meski demikian, beberapa adegan membuat saya teringat akan adegan di Between Shades of Grey, sebagian lain ada di Milkweed, dan sebagian lainnya lagi di Number the Stars dan Sarah's Key.  Di novel-novel tersebut,  saya bisa mengelus dada sampai terisak-isak, tapi disini,  Tommy mengisahkan dibunuhnya adik-adik angkatnya dengan tenang, seolah itu sangat umum terjadi waktu itu. Jeritan-jeritan para tawanan di kamar gas, lebih membuat merinding di Boy in Striped Pajamas daripada di memoar ini. Meski demikian,  deskripsi Tommy tetap menarik lengkap dengan ironi-ironi yang ia alami dan perasaan hangat yang tiba-tiba datang.

Overall, buku ini menambah satu koleksi ingatan tentang Holocaust yang terjadi lebih dari 70 tahun yang lalu. Rasial masih tetap terjadi hingga saat ini, lengkap dengan kekerasannya. Saya hanya berharap,  genocide besar-besaran tak akan terjadi lagi di masa yang akan datang. Banyak hal yang masih harus kita kerjakan, benahi, pahami untuk mengikis habis kekerasan rasial ini.


"......... Bahkan jauh lama lagi baru kupahami, orang tak bisa berharap melindungi umat manusia dari kejahatan yang mendera kami, kecuali berjuang memutus lingkaran dendam dan kebrutalan yang justru selalu menciptakan lebih banyak penderitaan bagi manusia tak berdosa. " (hal. 170)



               Tommy usia 11 tahun                                                      Tommy saat ini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar