Kamis, 14 April 2016

Les Masques by Indah Hanaco


Ijak application, 244 pages
Published 24 Maret 2014 by Grasindo
Rating 3/5

Trauma masa kecil apa yang tertinggal pada dirimu?

Saya cukup bersyukur karena meski sering menjadi kambing hitam akan suatu kehebohan di rumah, paling sering kena hajar selang plastik, saya tak memiliki trauma khusus yang mempengaruhi saya hingga sebesar ini. Kecuali dokter Gigi dan dokter mata yang selamanya bikin saya takut.

Fleur Radella, gadis belia tinggal bersama omanya bersama pengasuh nya sekaligus asisten rumah tangga. Bersama oma-nya ini, Fleur sama sekali jauh dari kasih sayang yang biasanya diberikan seorang nenek pada cucunya. Alih-alih perhatian dan kasih sayang, Fleur lebih sering mendapatkan rasa takut, ancaman dan siksaan. Trauma masa kecil yang terjadi terus-menerus ini yang kelak membuat Fleur mengidap penyakit kejiwaan akut yang tidak pernah ia sadari.

Ketika ia duduk di bangku SMA, tanpa ia pribadi sadari, ia telah mendaftar di sebuah ajang pemilihan gadis sampul majalah remaja. Fleur yang pemalu, berulang kali merasa heran kapan ia mendaftar dan bagaimana mungkin ia masuk final sementara ia sama sekali tidak merasa dirinya berbakat. Ketika akhirnya ia memenangi ajang itu, mulai lah ia di dunia baru yang setengah nya ia belum percaya ia masuki, dunia yang ditolak omanya. Dunia modeling hingga televisi akhirnya ia geluti. Semuanya masih sedikit samar-samar, antara yakin dan tidak.

Kehidupan Fleur memang secara drastis berubah setelah kematian neneknya yang misterius dan berkecimpung nya ia di dunia gemerlap artis. Ia tak pernah menyadari bahwa ada sosok sosok tak terlihat yang telah membantu nya mencapai semua itu. Sosok-sosok yang tak henti membantunya sekaligus mencelakannya.

Diceritakan secara maju mundur oleh penulis, novel ini berusaha menjelaskan bagaimana Fleur mendapatkan trauma itu, hingga background tentang orangtuanya dan alasan mengapa ia tinggal bersama nenek yang membencinya. Jika dalam film-film dengan tema mirip, si karakter utama yang menderita kejiwaan ini akan mencari kesembuhan. Bedanya, di novel ini, Fleur sama sekali tidak mencari kesembuhan, alih-alih novel ini diakhiri dengan klimaks. Antara kecewa dan takjub dengan penulis karena mengakhiri novelnya dengan cara begini. Meski dikisahkan secara runtut, si penulis berusaha membuat masing-masing karakter berbeda, dengan gaya ngomong dan cara berpikirnya, tapi saya menemukan satu kesalahan penyebutan nama yang luput dari editing.


Silakan di zoom untuk membaca 'kejanggalan' munculnya Fluer di dialog antara Tatum dan Elektra :)

Bagi pembaca yang cukup jeli, ini mengganggu, sementara bagi pembaca yang baru saja membaca topik semacam ini, mungkin bakal berkerut kening, kenapa ada nama Fleur diantara dua nama yang biasanya berceloteh berdua saja. Meski open endingnya sangat nanggung, tapi yah, kalo diperpanjang saya yang bakal ngga kuat membaca kisah tragis Fleur. Sempat misuh juga, kenapa nasib gadis baik-baik ini begitu pahit, begitu juga Mamanya. Saya jadi teringat buku Cantik itu Luka. Cantik sepertinya lebih memberi kepahitan dibanding kebahagiaan. 

2 komentar: