Jumat, 29 April 2016

Membaca dan membacakan buku untuk anak


Happy Children book, folks 


“I have a passion for teaching kids to become readers, to become comfortable with a book, not daunted. Books shouldn't be daunting, they should be funny, exciting and wonderful; and learning to be a reader gives a terrific advantage.” ― Roald Dahl

Reading is fun, apalagi menimbun :) Tapi bagaimana membaca bagi anak-anak? Atau tepatnya membacakan untuk anak-anak? Apakah pembaca untuk anak akan memberi pengaruh bagi si anak untuk suka membaca? Ada 10 Alasan Mengapa Membaca untuk anak bisa dicek disini. Hmmm... Dari 10 Alasan tersebut, paling tidak saya mendapatkan separo dari manfaat membaca dan membacakan untuk anak. Saya akan mulai dari pengalaman pribadi.

Saya memiliki tiga saudara, yang masing masing memiliki tingkat kesukaan membaca yang berbeda. Ketika saya masih kecil dulu, Bapak saya berlangganan tiga majalah anak-anak: Ananda, Bobo dan Tom Tom ditambah satu surat kabar. Saya dan dua kakak saya sering kali berebut untuk siapa yang akan membaca kisah lanjutan Deni Manusia Ikan terlebih dulu, atau Safan, atau cergam Mahabharata yang sering kali menjadi bonus insert di majalah Ananda. Seingat saya, kedua orang tua saya tidak ada yang mempunyai kebiasaan membacakan untuk kami anak-anaknya. Kami tumbuh dengan menyukai dunia membaca sendiri, Bapak saya men-support dengan memberi fasilitas 3 majalah anak-anak tadi dan beberapa cergam ACT atau Album Cerita Ternama. Oya, saudara-saudara saya yang lain sempat juga berlangganan cerita silat di rental (saya tidak tahu dimana tempatnya), hingga kami tumbuh dengan nama-nama pengarang cersil macam Kho Ping Hoo dan Widi Widayat. Tak jarang, teman-teman sekolah kami mampir ke rumah hanya untuk membaca. Sering kali saya menemukan ruang tamu yang sempit diisi anak-anak yang tiduran atau duduk atau mengkurap tanpa alas, membaca. Kaki dan kepala terjulur ke sana kemari membuat saya kesulitan melewati ranjau berbentuk anak-anak ini. Saat itu, entah mengapa, saya bahagia sekali. Sayangnya, ini hanya terjadi ketika rumah saya masih di kompleks sempit dekat sekolah. Seliweran kepala dan kaki ini tak lagi saya lihat di rumah saya yang notabene lebih besar tapi lokasi sangat jauh dari sekolah. Dan, ohya, yang mengalami kecintaan membaca dan berebut membaca ini hanya terjadi pada saya dan dua kakak saya, sementara adik saya yang berjarak 6 tahun dari saya, tidak mengalami ini. Dan ini mungkin yang membuatnya kurang eksposure membaca, meski 3 majalah itu masih bersama kami beberapa tahun kemudian, hingga saya duduk SMP. Bapak mulai mengurangi jumlah langganan majalah ini. Tapi saat itu, saya mulai mendapat oase bacaan lain dari perpustakaan sekolah kakak saya, Lima Sekawan. Yeay! Dan sharing bacaan ini masih kami lakukan hingga saat ini.



Contoh Album Cerita Ternama terbitan Gramedia tahun 1980an

Membaca untuk anak



Saya belum memiliki anak sendiri yang menjadi tumpuan kesukaan mendongeng dengan dramatis yang berlebihan hahaha. Keponakan saya yang lahir ketika saya duduk di bangku kuliah menjadi pengalaman pertama saya membaca untuk anak-anak. Mama-nya yang waktu itu masih melanjutkan kuliah di Jogja membuat ponakan saya belajar membaca dengan saya. Sayang, saya sedikit lupa dengan bagaimana saya mengajarinya membaca. Saya hanya ingat membacakan kisah kisah Nabi dengan intonasi dramatis yang membuat nya kurang seru jika membaca sendiri. Akhirnya, setiap saya membelikannya buku baru, alih-alih dia membaca sendiri, dia lebih menunggu saya membacakan untuknya. Hingga kemudian saya menjadi sibuk, dan ia tidak sabar menunggu dan akhirnya memilih membaca sendiri hahahaha. Peran kakak saya yang juga hobi membaca menurun pada anaknya. Ketika ia duduk di bangku SMP- SMA, mamanya yang waktu itu ekonomi nya agak pas-pasan, membiarkan anaknya membaca apa yang ada di library kamarnya daripada membelikan buku yang sesuai dengan usianya. Mulai dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, hingga karya-karya sastra lainnya. Saya juga mengenalkan demam Harry Potter padanya, hingga sakau membaca e-book bahasa Inggrisnya  yang ternyata menjadi pemicu ia membaca buku-buku berbahasa Inggris lainnya. Dan sekarang, bacaannya sudah melampaui bacaan saya yang terkadang lebih memilih membaca novel English tanpa harus banyak mikir. Sementara dia sudah menamatkan dua buku bantal Robert Galbraith, John Grisham yang saya melihat paperback nya saja bikin mringis hahahaha...

 Membaca Momo posisi terbalik :D

Bertahun kemudian, seorang ponakan kembali hadir di keluarga saya. Kali ini saya merasa lebih berpengalaman mengajar anak-anak dengan memiliki kelas anak-anak di lembaga tempat saya bekerja. Belum lagi dengan timbunan yang saya punya hingga tiap kali ponakan datang ke kamar, yang ia lihat adalah tumpukan buku atau pemandangan saya sedang membaca (atau menonton film :) ). Terus terang, saya sedikit memaksanya untuk segera bisa membaca di usia 3,5 tahun. Well, itu karena faktor seorang teman yang anaknya di usia yang sama, sudah lancar membaca. Tanpa sadar, saya membandingkan ia dengan anak teman saya tersebut. Saya lupa, akan tiba saatnya ia mampu membaca tanpa adanya paksaan. Eksposure dari saya lumayan ampuh juga meski adik saya sebagai mamanya kurang memberi nya perhatian dalam perkembangan baca tulisnya. Sayangnya, gadget dan Internet murah saat ini bisa mengganggu ketertarikan anak membaca. Siapa yang tak suka streaming YouTube menonton film atau mendengarkan lagu anak-anak? Hobi ibu saya menonton sinetron juga mengganggu kosa kata yang saya berikan dari buku-buku. Untunglah, ponakan saya ini tetap tertarik meneruskan belajar membaca nya, dan mendengarkan dongeng-dongeng yang saya ceritakan baik dari buku atau dari aplikasi IJak. Saya belum tau, apakah di tahun-tahun yang akan datang ia akan menggemari membaca. Yang jelas, saya siap men-support bacaan untuknya.

 Sebagian sangat kecil dari timbunan  koleksi bacaan anak2 :)



Last but not least, kebiasaan membaca kembali pada lingkungan masing-masing, terutama keluarga. Itu paling tidak terjadi pada keluarga saya. Entah, pada keluarga lain yang memiliki anggota keluarga yang tumbuh memiliki kegemaran membaca tanpa eksposure dari keluarga. Sebagai guru di lembaga bahasa, saya cukup miris dengan minimnya anak yang hobi membaca. Kurang dari 5% dari murid yang saya lihat menunggu waktu belajarnya dengan membaca. Selebihnya, bermain dengan gadget. Sering kali saya merasa kesulitan ketika topik pelajaran membahas tentang buku. Sebagai contoh, dari 10 murid di kelas hanya 2-3 yang membaca buku. Selebihnya blank. Bahasan tentang menulis review buku pun menjadi topik yang sangat tidak menarik buat mereka, bahkan kadang menjadi beban buat mereka. Terlebih jika mereka mendapatkan saya menjadi guru kelas tersebut, karena saya rela mencekoki mereka dengan buku-buku dari koleksi pribadi hahahaa. Yah, usaha mengenalkan bacaan bisa datang dari siapa jika tidak dari keluarga, bukan? Jadi, mari kita tularkan hobi menimbun, eh, membaca pada generasi yang akan datang :)

3 komentar:

  1. bener lho, becain buku ke anak, atau at least mensupply anak dengan buku, itu ngefek banget sama perkembangan minat baca anak. Aku ngerasa gitu soalnya dr kecil mamaku selalu ngajak kita baca, ke toko buku, beli buku, baca bareng dll. pokoknya berasa banget aku dan kakakku mmg jd suka baca sampe skrg. aku berusaha nerapin hal yg sama ke yofel, smoga berhasil hihi

    BalasHapus
  2. Sayangnya itu nggak terjadi pada ku dan keluargaku. Buat keluarga ku dulu majalah adalah barang mewah apalagi sampai berlangganan segala. tapi dulu aku suka baca majalah ananda, bobo dll meskipun aku terpaksa minjam punya saudara sepupu itupun aku harus nunggu sampai majalah tersebut siap di jual ke penjual barang bekas.

    BalasHapus
  3. Orang tuaku (mama) juga gak pernah bacain buku or semacam bedtime story waktu aku kecil sih, tapi aku juga kenal baca dari majalan bobo dan mungkin meniru, karena mama papaku suka sama buku dan di rumah ada rak buku yang aku liat tiap hari. Intinya anak keci itu meniru juga ya, jadi bisa lihat contoh orang-orang disekitar (orang tua or teman), jadi kebiasaan membaca bisa tumbuh dari sana.

    BalasHapus